Sebuah kebahagian dan kebanggaan tersendiri terpatri disanubari saat mendapatkan kesempatan menonton Film Indonesia yang mampu bersanding dengan film film produksi luar negeri yang diputar di bioskop bioskop ternama di luar negeri. Adalah Film Opera Jawa garapan sutradara terkenal Indonesia Garin Nugroho yang dalam bulan ini diputar di bioskop di kota kota besar Perancis. Saya dengan beberapa orang pelajar dari Indonesia yang di Lyon (Angga, Muhadi dan Gindo) menyempatkan diri untuk menonton film ini.
Saya sebenarnya sudah mengetahui tentang film ini jauh sebelum kehebohannya seperti ditayangkan di bioskop bioskop Perancis ini. Seperti saat hebohnya pada malam puncak penyerahan Piala Citra 2006 yang mana Film ini diungulkan untuk meraih film terbaik FPI 2006 eeehh malah diraih oleh film Eskul, yang akhirnya beberapa pekerja seni ada yang mengembalikan Piala Citra kepada pihak penyelenggara festival karena dianggap tidak proporsional penilaiannya terhadap hasil karya pekerja seni.
Walau demikian terlepas heboh atau tidaknya film ini di Indonesia dahulu memang terus terang saja saat itu saya kurang tertarik untuk menonton film produksi anak negeri kita, apalagi saat era tahun 90-an sampai tahun 2000-an film film kita sangat banyak diwarnai oleh film film yang mengobral kulit wanita dan pocong pocongan. Jadi walaupun ada Film Indonesia yang bermutu dan dibuat dengan serius namun tetap saja alam pikiran sudah dikelilingi oleh prasangka bahwa hanya sebuah film kacangan, yang akhirnya terlewati untuk menontonnya begitu saja.
Syahdan, saat mendengar Opera Jawa akan diputar di bioskop bioskop di Perancis ini, langsung saja otak dan perasaan saya senang dan bangganya tak ketulungan, saya tidak lagi mempersepsikan dari segi mutu dan kualitas filmnya, tetapi lebih kepada sebuah film produksi anak negeri Indonesia yang mampu menembus pasar industri film Eropa, langsung saja kami terhenyak untuk berangkat menontonnya yang malah harus sampai dua kali nyemperin bioskopnya, karena hari pertama Sabtu kemaren kita koordinasinya kurang matang sehingga ada beberapa teman yang nyasar cari bioskopnya hahahaha….. tapi nggak masalah karena Film ini akan diputar sampai hari senin tanggal 1 April 2008. Tepat juga nih momentnya Opera Jawa manggung di bioskop Perancis, terutama buat kita yang lagi bersitungkin dengan perjuangan, jadi terhibur, sekalian ntuk melupakan film fitna yang nggak ada positifnya sama sekali… good by waelaah fitna….
Kebanggaan lainnya menyeruak disanubari akan Indonesia tercinta, yang mana film Opera Jawa jadwal pemutarannya juga bersanding dengan pemutaran Film terbaik Oscar 2008 yakni No Country for Old Men dan film peraih aktor terbaik Oscar 2008 Daniel day-Lewis dalam Film There Will Be Blood.
Hidup dan jayalah Film Indonesia, hidup dan berkibarlah produk produk anak bangsa, mari kita tanamkan kebanggaan dengan apapun bentuk kreatifitas dan inovasi karya anak negeri, mari kita beri kritikan yang konstruktif dan membangun tetapi jangan sedikitpun membenci yang akan merendahkan dan menghina martabat kita sendiri yang akhirnya melemahkan bangsa kita sendiri didepan mata anak dunia. Dengan Cinta, Bangga, rasa memiliki, rasa kebersamaan, dan menjaga utuh asa persatuan dan kesatuan akan produk sendiri YAKINLAH kita akan mampu merobohkan keangkuhan liberalisasi, neokolonialisasi, uniliteralisasi, egois globalisasi yang monopoli….etc..
Mari kita tunjukkan dan kita tancapkan semangat, motivasi, optimisme, jalan beriring dan keyakinan BAHWA KITA BISA.. Semua itu hanya dengan satu kata CINTA.
Opera Jawa adalah film produksi gabungan Indonesia – Austria yang disutradari oleh Garin Nugroho dan diproduksi pada tahun 2006, dibintangi antara lain oleh Artika Sari Devi, Martinus Miroto, dan Retno Maruti.
Film ini menceritakan tentang gambaran kehidupan yang penuh konflik. Mulai dari permasalahan cinta segitiga dalam sebuah keluarga (dengan tokoh Setyo, Siti, dan Ludiro) hingga masalah sosial, politik, dan perekonomian dimana rakyat kecil selalu menjadi korban.
Film ini bisa dikatakan unik karena menggabungkan unsur seni drama, tari, busana tradisional Indonesia serta menampilkan juga keindahan panorama Indonesia. Para seniman Indonesia di bidang-bidang tersebut juga turut meramaikan film ini.
Selain itu film ini juga masuk dalam nominasi Festival Film Internasional Venisia 2006, Festival Film Internasional London 2006 dan Festival Film Internasional Toronto 2006. Dinominasikan pada Festifal Film Indonesia 2006 untuk kategori film layar lebar, tetapi kalah ama Film Eskul.
Kasih Kritik dikiiit…
Film yang berdurasi 125 menit ini, secara kualitas cerita, penggalian filosofi cerita Ramayana yang diplot dalam kondisi dan realitas kekinian, pengupasan budaya Jawa, setting pesona alam Indonesia, arensemen musik, arensemen busana dengan kostum batiknya, penjiwaan pemain toop habiss dehh,… apalagi peran Siti yang dimainkan oleh Artika Sari Devi (Putri Indonesia 2005) waaahh rancak bana.
Cuma tokoh Setyo yang diperankan oleh Martinus Miroto, yaa…. sepertinya kurang kena dikit penjiwaannya walau penjawaannya udah cocok bangeet, seperti kata Angga teman saya, tokoh Setyonya kurang macho dan kurang wibawa ntuk berperan sebagai pengejewantahan tokoh Sang Rama dan mendampingi kemolekan Artika Sari Devi hehehee.. (karena di epoq cerita Rama dan Shinta… tuh Sang Rama kan gagah end wibawa bangeet).. jadi ada benarnya juga neeh kritikan Sang Angga.
Selanjutnya, film ini bagi penontonnya yang orang perancis, sepertinya lebih mengerti dari kita yang berasal dari asal negara film ini sendiri, karena bahasanya sangatlah Jawa yang halus kabeeh, sehingga jarang sekali ditemukan ada satu kata yang sama bunyinya dengan bahasa Indonesia.. hehehehee….. emang ada teks perancisnya tetapi teksnya bukanlah teks secara bahasa standar tetapi teks yang sangat estetik sekali, jadi sekali lagi sama aja susah mengartikannya.. hehehe lagi…. (komentar Muhadi)
Terus musiknya yang dipenuhi oleh unsur gamelan terlalu monoton dengan dendangnya, emang ada unsur musik Bali dan musik moderennya juga dikit tetapi tetap saja musik yang kayak acara di TVRI tahun 70-80an dulu yang mendominasi gendang telinga kita … (betewe ini arensemen musik terbaik FPI taon 2006 lho….) /(Komentar Gindo).
Tapi kalo saya pribadi bukan segi substansi filmnya itu yang bikin kecewa, tetapi ini film piluuu banget menurut saya, karena kobaran api cemburu yang begitu membara kok tokoh Siti-nya sampai begitu teganya teganya dibunuh oleh sang Rama (Setyo) dan kemudian dibedah dan diambil hatinya… waaahhh…. walau pesan yang mungkin disampaikannya……………. ” cinta tidak terletak dari sisi fisiknya tetapi adalah dilubuk hatinya ” (Mhhhh…. gue termenung dan mikir panjang juga neehh dengan filosofinya sang Rama ini….),
emang betul juga, namun kalo boleh gue tanya ama Sang Rama,…. bukankah Fisik itu semasa hidupnya digerakkan oleh Hati juga ? sooo… buat apa juga tuhh ambil hatinya Siti dan dibawa lariiiiiiiiiiiii…………..
Jadi dimana letak kesucian dan keagungan CINTA itu ?????










Nama ‘Angga’ dalam teks di atas fiktif belaka…
Itu bukan kata2 saya!
“Opera Jawa” adalah sebuah pentas opera versi 2 dimensi. “Panggung” dengan setting yang selalu berubah lengkap dengan efek suara dan fasilitas zoom in/out! Hampir tidak ada dialog; hanya senandung berbahasa jawa, mimik, tari, musik, dan simbol-simbol yang ikut berbicara kepada penonton… (Review dari orang yang sok ngerti teater…)
Ini kali pertama saya menonton film yang saya kurang (jika tidak mau dibilang tidak) paham dialognya DAN teks terjemahannya! (dalam bahasa prancis kromo inggil…)
Untung ‘kekosongan’ itu bisa cukup ditambal dengan gambar dan suara yang…ya tadi…ikut ambil bagian mengisi dialog.
Intinya, saya senang dan bangga, tidak hanya karena pertama kali bisa menonton film negeri sendiri di negara orang (maksud saya, pertama kali di bioskop. Saya bekal DVD “Berbagi Suami”-nya Nia Dinata ke Prancis…
), tapi juga bisa melihat bangsa lain mengapresiasi hasil karya “kita”…
Ayo isi layar2 bioskop kita dengan film2 yang bisa dibanggakan!
Ayo (hanya) tonton film2 Indonesia (yang penting2)!
———————————————————————————–
@ Angga
mhhhh… BT&W, Angga ini siapa yaa ?? salam kenal aja deehh….
(ps; termasuk yg ngomong hahahahaaa….)
Makasih dah berkunjung pagi pagi jam 02.00 dini hari merayap ke GuBuG JB’lOg…
sepertinya saya dah ketemu dengan kritikus film yang profesional neehh… kalo boleh nyaran gimana neehh Kang kalo kita buwat pelem Indonesia dengan setting Eropa tapi kultur Nusantara…. mhhh ayoooo… Ayat Ayat Cinta aja walau setting Mesirnya nggak tereksploitasi tetap maknyosss tuhhh…. masak kang Angga kalah ama Kang Abikk ??? ayoooo….
bisanya jangan ngiritik doaanggg…………
Salam, ntar gue tunggu dipengkolan dengan pelem Opera Sundanya…
JB’lOg
Assallamuallaikum, saudaraku…
semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.
Banyak jempol untuk semuanya,
saya bingung, ngga ngerti, dan segala macam how…
mewakili kebanggaan untuk sedikit mengenal sosok purna praja yang item, kurus, nakal, dan sedikit aneh… seperti Empi Muslion,Jb.
semoga ada waktu untuk ngumpul, ya pi…
salut!
Wassallam…
———————————————————————————-
@ Riyanto My Brother
Waalaikumsalam wr wb
Hari ini saya tak tahu mau berkata apa.
Sebuah kebahagiaan dan surprissezzzzz yang luar biasa saya rasakan saat terpampang namamu Saudara di GuBuG JB’lOg koe ini.
Untuk Saudaraku ketahui aku dah mencari dan menanyakan keadaan mu hampir kesetiap purna yang kutemui terutama yang dari Jawa Barat. Namun dikau sepertinya selepas Gerbang Utama STPDN lenyap ditelan angin… oh bagaimana gerangan kabarmu sekarang kawan ??
Aku rindu goresan novel dan cerpenmu yang akan membasahi pipi Wanita Praja hehehe…. aku rindu akan pekik suara dan mimikmu saat mengomandoi Teater Nusantara dan lukisan elok tanganmu buat oase dinding dinding kalbu Muda Praja….
Insya Allah jika Tuhan mengizinkan kita akan kembali bercanda, makan tulang di bawah menza dan lari pagi saat dibangunin oleh Burung Garuda… yang sampe sekarang rasanya belum ada yang akan meggantikan idealisme, ketegaran, komitmen dan kewibawaan Beliau.
Sobat sementara terimalah salam saya yang walau secara fisik dipisahkan jarak beribu km ini, tapi yakinlah kamu tetap salah seorang sahabat nan tak kan bisa aku lupa, begitu banyak lika liku yang kita lalui semasa 14 tahun dahulu kala….
Salam buat keluarga dan keponakanku, salam buat Orang Tua dan Saudara di Cirebon,…salam jua buat Pak Inu Kencana.
SALAM JABAT ERAT DALAM SATU NAFAS PURNA
Empi MUSLION_JB
Bukan Teater Nusantara, Pi.. tapi Teater Persada.
Meski tak seindah dulu, rasa itu tetap ada di hati, kawan…
Digulung gara-gara ribut di MKP, panas dingin di bawah langit malam barak Sulut, atau diplototin Nindya gara-gara gandengan, he he he….
Jadi begini, Mpi… blog ini juga dapetnya ngga sengaja, lagi nyari bahan untuk proses novel perdana saya, masih bau-bau ksatrian sih… awalnya saya selalu berprinsip kalau memahami seni tidak harus jadi seniman, seperti juga memahami birokrasi tidak harus jadi birokrat seutuhnya…
karena kita teap saja hanya seorang manusia dengan segala keterbatasannya,
jadi yaa itu… ngga perlu berlebih.
Sejak buku Pak Inu atau Buku Empi terbit, saya jadi banyak merenung dan berdiskusi dengan alumni yang masih peduli, kalau kita memang perlu ikut menyumbang ‘rasa’, apapun itu bentuknya…
berangkat semuanya itu, saya mencoba mengemas kembali beberapa cerpen dan tulisan yang pernah ada di 14 tahun itu, jadinya yaa novel 503 lmbar tuh Pi…
Hanya saja, saya sendiri belum tahu, apa layak atau tidak untuk konsumsi penerbit…
tapi yang jelas saya bahagia,
bisa belajar jadi penulis lagi, meski nanti tak layak jual, saya tetap akan membukukan dan saya bagi untuk siapa saja yang peduli dan mau berapresiasi… Empi mau?
Lain waktu saya kirim, yaa lumayan lah untuk ukuran saya yang tinggal di ujung kulon…
—————————————————————————————–
@ Riyanto
Oyaaa sory tory moryy,, maklum dah tua Yanto.. iya Teater Persada… yang mana gue sempat melarikan diri dari komunitas tersebut hehehe….
Kawan, aku senang dan mendukung banget rencana Yanto itu untuk membukukan hasil corat coret tanganmu itu, teruslah berkarya tidak ada yang sia sia.. tidak ada istilah yang tidak layak, semua karya memiliki nilai dan interest masing masing…
coba saja tawarkan ke beberapa penerbit, mana tahu ada yang tertarik dan menerbitkannya…
Saya MAU bangeet kalo Novel itu udah keluar… nggak usah dikasih/dikirim kalo udah keluar aku akan mencarinya sendiri di toko buku sebagai wujud penghargaan, kebahagiaan dan apresiasiku terhadap kepedulian dan kreatifitasmu sobat…
Alhamdulillah juga dah kesasar ke Blog-Bloganku ini, emang niatnya Blog ini saya coba coba mengikuti kelatahan diri untuk bernasis ria di dunia maya untuk menjalin tali silaturahmi diantara kita dan siapa saja…. Agus Hidayat yang dikalimantan juga tahu kalo aku ada Blog, dan akhirnya tali silaturahmi itu tetap berkibar…
Sukses kawan aku Doakan untuk novelnya dari ujung kulon….
Salam
EM_Jb
wah keren ya film anak indo bisa di puter di manca………….
—————————————————————-
@ uchie
Film Produksi negara kita Indonesia sebenarnya nggak kalah kualitas dan thema ceritanya ama film film luar negeri, cuma bagaimana kita harus bisa menanamkan kebanggaan dan kecintaan dengan produk kita sendiri…
makacih….
Salam
Assallamuallaikum…
Semoga tidak dalam gundah dan resah hati…
bagaimana kabar hari ini, kawan?
Ada info penting yang saya dapat dari rekan-rekan alumni 06
katanya pada agustus 2008 akan ada temu alumni tingkat nasional khususnya angkatan 06…
desain tempat dan acara belum saya dapat, tapi kepada seluruh alumni agar mengirimkan biodata, yang mencakup nama, alamat, no yang bisa di hubungi dan foto sebagai bahan pembuatan buku kenangan…
kirim ke : Atih Hayati, Jl. Flamboyan No. 36 Panji – Tenggarong – Kutai Kartanegara – Kaltim – Indonesia….
Ini dulu, Pi…
lain waktu saya sambung lagi,
wassalam…
———————————————————————————–
@ Riyanto
Waalaikumsalam wr wb
kok Yanto tahu aku lagi gundah dan resah hati ? ikut merasakan yaa… makasih dah mo berbagi hehe..
O yaa ?? ada pertemuan baguslah buat lepas ngen-kangen dan malapeh taragak jo kawan kawan lamo.
Bulan Agustus ? saya sebenarnya ingin sekali ikut sambil bawa bini dan anak anak ntuk reuni ini.
Tapi Nto.. kalo Bulan Agust kayaknya saya belum pulang masih disini… kalo acaranya jadi dan Yanto ikut datang SALAM saja yaaa buat kawan kawan semua, semoga acaranya sukses dan meninggalkan kenangan yang berbekas di hati kawan kawan semua, apalagi pasti diselingi dengan cerita cerita penggulungan, pembayatan, makan tulang, menza, simpang saksi bisu, kakak dulu dekk dan sebagainya hehehee…………
Salam perjuangan
EM_JB
aku tjuma mau ngingetin tuk semua orang ISLAM, lupakan film fitna yang merupakan fitnah buat kita orng ISLAM diseluruh dunia. okey………… nyantai aja…………..
Salut tuk film indonesia,
Nah, itulah yang kita tunggu-tunggu, gaung perfilman indonesia sampai ke manca.
Semoga perfilman indonesia kian maju dengan tetap menjaga kualitas. Emm, bagaimana ya kalau film Ayat-ayat Cinta diikutkan ke ajang-ajang perlombaan film international?
wah yang begini baru bikin bangga…….
Mungkin kita bisa bikin Jaklywood
Regards
Airimbang.wordpress.com
Saya berasal dari salah satu kota di jawa timur, Jember. malah belum lihat film ini ( disini gak ada bioskop 21 ). Cuman lihat cuplikan-cuplikannya.
Sepertinya film ini wajib di tonton. Tahun ini garin nugroho juga membuat film baru tentang Bali dengan judul Under The Tree.
Memang Indonesia sungguh kaya.
Kita harus jaga.