MASIH RELEVANKAH MEMBICARAKAN LATAR BELAKANG SUKU SANG CAPRES DAN CAWAPRES INDONESIA ??
Sampai kondisi dan situasi Indonesia saat ini, terutama dalam kaitannya dengan perspektif Pilpres ini, saya setuju jika unsur primordial terutama Jawa – Luar Jawa masih bisa untuk dijadikan salah satu pertimbangan untuk kepemimpinan di Indonesia.
Menurut saya untuk negara seperti Indonesia yang memiliki multi etnis, multi cultur, multi problem dan multi multi lainnya…. serta faktor geografis yang sangat rentan dan sangat mudah terhadap isu isu disintegrasi dan kegiatan separatisme, apalagi kekuasaan masih dianggap sebuah faktor supremasi identitas/kultus status oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia, maka saya kira kepemimpinan Indonesia ini masih akan kuat unsur primordialnya…
Mungkin boleh saja kita mengatakan dizaman yang rasional, menjunjungtinggi objektifitas dan mengedepankan kualitas ini, masihkah relevan faktor kesukuan dijadikan sebagai pertimbangan kepemimpinan di Indonesia ? menurut saya masih relevan…
Mungkin secara faktor rasionalitas tadi, kita bisa mengamini siapapun Presiden dan Wapresnya, tapi jauh dilubuk hati masyarakat Indonesia menurut ilmu sosiologi yang merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi kekerabatan, terpola secara kesukuan bukan masyarakat individualis, apalagi tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang masih rentan terhadap dinamika politik yang tidak sehat, maka unsur primordial tadi belum bisa kita kesampingkan begitu saja..
Dinamika kepemimpinan ini, sebenarnya pada skala kecil banyak menghiasi panggung demokrasi organisasi di Indonesia, seperti latar belakang saya yang pernah mengikuti dan merasakan nuansa demokrasi kecil kecilan ini saat di STPDN dahulu, yang mana STPDN adalah etalase mini Indonesia, yang dihuni oleh seluruh anak nusantara yang memiliki karakter dan budaya yang berbeda.
Saat itu dalam organisasi yang bernama Wahana Bina Praja semacam BEM di Perguruan Tinggi lainnya, khususnya dalam pemilihan Gubernur dan Wagubnya, kebetulan saat itu pada angkatan 05 pasangan Gubernur dan Wagubnya Luar Jawa dan Jawa. Begitu juga angkatan 06 pasangannya Jawa dan Luar Jawa, angkatan 07 pasangannya Luar Jawa dan Jawa. Meskipun pada saat itu bukan pemilihan langsung oleh Praja tetapi melalui DPP, namun anggota DPP yang memilih pun sudah memiliki wawasan kebangsaan yang bernusantara yang tinggi, dan kepemimpinan ini mendapat respon dan apresiasi yang tinggi dari segenap Praja saat itu.
Namun pada angkatan 08 Pasangan Jawa sangat mendominasi, hal ini mengakibatkan kurangnya respon yang positif di kalangan Praja waktu itu khususnya luar Jawa (ini menurut adik kelas saya M.Muji, mungkin juga dirasakan oleh sebagian Praja lainnya saat itu).
Mungkin kasus ini bersifat kasuistik, tapi bagaimanapun fenomena ini, banyak sedikit pada skala kecilnya sudah dapat memberikan contoh, seperti saat kepemimpinan organisasi Praja di STPDN/IPDN ini yang merupakan etalase mini nusantara Indonesia, apalagi dalam skala besar yang mana masyarakat Indonesia memiliki tingkat pendidikan, wawasan yang beragam pula ?
Mungkin ada kajian menarik lainnya, yakni tentang aliran budaya politik yang berkembang di Indonesia, yaitu Budaya politik pesisir yang dipresentasikan oleh luar jawa yang berkarakter egaliter dan demokratis dan budaya politik pedalaman yang dipresentasikan oleh budaya jawa yang berkarakter hierarkis dan elitis, kira kira apakah ada karena faktor ini mengapa SBY menggandeng Boediono, Megawati menggandeng Prabowo dan Jusuf Kalla berpasangan dengan Wiranto ?
Saya pikir alangkah eloknya jika kedua budaya politik itu disatukan untuk saling melengkapi khazanah budaya kepemimpinan politik di Indonesia (ini hanya pandangan saya pribadi, pandangan sobat lainnya tentu juga memiliki argumentasi sendiri).
Semua ini hanya berpulang kepada kita sendiri melihatnya dari sudut dan perspektif apa, semua pandangan dan perspektif itu semua debatable… itulah demokrasi..
salam kenal n nice blog lu. plis visit. O y gw no comen.
setuju banget..