Dari jalur transportasi udara, laut, darat sampai transportasi jalan kaki. Dari areal pembuangan sampah sampai areal real estate, dari halaman rumah sampai lapangan golf, dari warung kaki lima sampai Hotel bintang lima. Dari ujung Sabang sampai tanah Merouke nusantara, sepertinya gugusan mutu manikam itu seakan menjadi ruang waktu ntuk menunggu detik nafas meninggalkan badan tanpa kewajaran.
Sontak, dalam lima bulan berjalan ditahun 2009 ini saja sudah beberapa buah pesawat TNI jatuh berguguran kebadan Bumi, belum lagi jika kita perpanjang daftar kecelakaan transportasi udara baik sipil maupun militer menghiasi desir air mata membasahi muka bangsa ini.
Bukan hanya di Udara, dilaut coba saja dengarkan rentetan kecelakaan kapal laut, feri, kapal nelayan menghiasi ombak tangis duka keluarga yang ditinggalkannya.
Di darat ? walau pemberitaan kecelakaan pesawat udara lebih mengangkasa gaungnya dibanding kecelakaan didarat, tetapi justru kecelekaan di jalan raya yang setiap hari grafiknya semakin meningkat memakan korban jiwa jiwa yang melayang begitu saja dengan mudahnya. Mobil angkutan antar kota yang terjun masuk jurang, mobil travel yang kadang tak memiliki izin terayek yang berlari kencang menabrak tiang, jutaan motor buatan Jepang yang bertabrakan tiap hari tanpa henti….
Itu baru cerita kita disekitar transportasi, bagaimana dengan roh roh yang melayang saat mata mata kosong antri saat menunggu berbagai bantuan atau program yang berembel murah atau gratis ? Rasanya tak kan pernah hilang saat tangan tangan melompong bertukar salaman dengan tangan malaikat penyabut nyawa ditangga acara Dzakat dengan nominal Rp. 30.000,-. Bantuan BLT, antrian nyawa ntuk harapan merubah nasib disaat heboh dukun cilik Ponari…
Akhh…. belum lagi sepotong nyawa itu tergeletak dikolong kolong jembatan, sepotong nyawa itu tersangkut dikantong kantong plastik pembuangan sampah, sepotong nyawa itu berjuntai dipinggir pinggir pantai, sepotong nyawa itu tak dapat berkelik dari ujung ujung badik senapan, ohhhh nyawa bangsaku…..
Akankah semua itu hanya bisa kita patrikan kesalahannya pada sang manusia yang sepotong nyawanya itu sudah tergenang tenang melayang ??
Bukan bermaksud membandingkan, tetapi sebagai rujukan ntuk meminimalisir murahnya sepotong nyawa di bumi zamrud khatulistiwa ini, lihatlah di negara eropa sana jika terjadi TIGA (3) saja kasus kematian yang tidak wajar dalam SATU (1) tahun dinegaranya itu adalah sebuah BENCANA BESAR dan AIB bagi masyarakat, negara, dan pemerintahannya….
Bagaimana dengan kita ??
sepertinya setiap ruang dibumi Indonesia ini adalah arena yang selalu rawan untuk sepotong nyawa…
Indonesia. Ratna mutu manikam berkilau dan …… Di tilik dari segi manapun, tidak bisa di pungkiri human error adalah penyebabnya, baik dari segi pelaksana pelayanan ( pemerintah yang lalai ) maupun si korban sendiri ( kurang waspada ). Mengapa di luar negeri jarang terjadi sedang di Indonesia sering terjadi ? ini bisa saja terjadi Ratna Mutu Manikam ( Indonesia ) akan selalu menjadi ajang rawan lepasnya nyawa, bila penghuninya ( masyarakat Indonesia ) tetap seperti ini ( rebutan kekuasaan, Korupsi, mementingkan diri sendiri dan apalah lainnya ) akan menjadikan nyawa seharga sepotong roti/sepiring nasi untuk diri sendiri
hanya sepotong pikiran sederhana, teringat aktor sophan sophian yg meninggal karena lalai berkelit dari lubang yg menganga di jalan raya (jalan raya!). Terlepas apakah itu karena human error atau takdir, tetap saja rasanya miris … tidakkah mereka yg bertanggung jawab atas lubang menganga itu merasa sedikit bersalah? …………