Antara Curhat, Kapasitas Dokter, Keangkuhan RS, Penjara dan Hukum yang Memayunginya

Semakin bingung saja menyaksikan berita berita di televisi dan nuansa penegakkan hukum ditanah air kita tercinta ini, bayangkan seorang yang mencurhatkan pengalaman hidup yang dialaminya saja bisa digerebek masuk penjara… huhu..
Kenapa kasus ini yang lebih heboh hanya dilihat dari UU ITE saja yang notobene UU ini sampai sekarang masih dalam perdebatan dan KUHP. Bagaimana dengan Rumah sakit dan kinerja dikter di RS Omni itu sendiri ? Padahal masih banyak UU lainnya yang harus diperhatikan dalam kasus ini terutama terhadap RS Omni dan para dokternya seperti UU Kesehatan, UU Praktik Kedokteran, UU Farmasi, UU Perlindungan Konsumen, dsb.
Kok secepat itu Kepolisian dan Kejaksaan dapat menjemput Ibu Prita dengan mudahnya ntuk digiring ke Penjara hanya dengan satu sandaran UU ITE saja dan ada juga pernyataan yang mengatakan hanya dikenai KUHP saja… mhhh tambah bengong saja liat liat pernyataan para penegak hukum kita dilayar kaca….
Tapi bagaimanapun, ada sedikit titik terang dan pernyataan yang jujur dari Jaksa Agung Hendarman Supandji yang mengatakan itu terjadi adalah atas ketidakprofesionalismean jaksa yang menanganinya… lmhhhh bagaimana dengan kasus kasus lainnya yang saban hari menimpa rakyat di Republik tercinta ini ?? apakah hukum masih bersandar pada kata ketidakprofesionalismean penegak hukum ntuk menegakkkannya ? entahlah………..
oohhhh…. negeriku…
Bagaimana dengan komunitas Blogger ? apakah akan ciut atau akan tetap melayang terbang dijagad maya ntuk mengekspresikan jeritan jiwa sebagai salah satu hak azazi manusia ??
Inilah isi lengkap email Prita Mulyasari yang dimuat di surat pembaca detik pada Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB dengan judul :
RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif
Jakarta – Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.
Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.
Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.
dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.
Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.
Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.
Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.
Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.
Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.
Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.
Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.
Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.
dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.
Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.
Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.
Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.
Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.
Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.
Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.
Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.
Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.
Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.
Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.
Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.
Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.
Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.
Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.
Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.
Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.
Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.
Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.
Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.
Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.
Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.
Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.
Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.
Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600
###########
Piluuu membaca surat Ibu Prita ini, mungkin ini hanya satu dari sekian juta masyarakat Indonesia yang mengalami pelayanan kesehatan seperti ini, kebetulan saja Ibu Prita mampu dan berani untuk mengungkapkan kejadian yang dialaminya secara gamblang, tidak menyerahkannya begitu saja atas nama Takdir.
Kasus ini saja terjadi dengan RS yang sudah berlabelkan RS Internasional bagaimana yang berskala nasional, dan apalagi Lokal ??
Lelah memang jika membicarakan pelayanan kesehatan di negara kita ini, saban hari cerita Mal Praktek menghiasi muka ibu pertiwi, ada rumah sakit yang menolak pasien yang tak memiliki uang, ketentuan dokter/bidan/perawat yang bekerja nyambi, membuka usaha rumah sakit/poliklinik yang dipertanyakan standarisasinya….
Ohhh… Murahnya sepotong nyawa di negara kita…………..
ganyang OMNI *kabur
takut dipenjara kejaksaan juga
hukum diseluruh dunia ini tidak ada yang mengatur tentang perasaan akan tetapi Hukum itu mengatur efek/akibat dari pada perasaan. tetapi kita harus ingat hukum dibuat dengan dasar perasaan. (perasaan yang terkekang oleh perilaku yang tidak menghargai sebuah rasa) sebab rasa itu dimiliki oleh setiap orang yang berperilaku baik, bermoral & beretika baik, ibu prita mereka yang tidak perna menghargai sebuah perasaan mereka akan dihantui oleh suatu rasa dimana rasa tersebut lebih dasyat dari yang perna ibu alami, kenapa ?? alasannya simple saja, ibu prita adalah orang yang menghargai tempat (tubuh) dimana perasaan itu berdiam, ibu ingin supaya tempat berdiamnya rasa menjadi baik dan ibu telah melakukan hal yang baik terhadap sebuah rasa, akan tetapi mereka yang tidak menghargai tempat dimana tempat persaan itu berdiam, mereka akan dihancurkan dari dalam dimana rasa itu berdiam (kehacuran Etika & Moral)
apa yang salah dengan tulisan Prita (jika benar kejadiannya)??? mengeluh/curhat, teriak, berontakkarena mendapat perlakuan yang mengecewakan bahkan dapat mengancam hidup dan kehidupan seseorang, kok nggak boleh…???!!!
Ibu Prita Mulyasari ibaratnya kelinci percobaan dr sebuah UU dlm negara yg dikelola oleh manusia2 yg hanya memikirkn kepentingan pribadi/gol, mgkn juga bu Prita bs dianggap sebagai pahlawan . . .dst
Dilain pihak kondisi pelayanan kesehatan seharusnya terus menerus diawasi, terutama RS yg berorientasi pd keuntungan, dg kejadian ini masyarakat hrs mulai berhati-hati dn waspada, dn IDI hrs terus menerus membina anggotanya
semoga kasus ini cepat selesai
Za maklum aja biaya kuliah bwat jdi dokter kan mahal,jdi pasien dijadiin proyek besar wat ngembaliin modal..!
Hmm… kalo menurut gua UU yang dipake menuntut ibu Prita itu mungkin ada gunanya juga.
Sebab misalnya… sebuah rumah sakit dgn dokter yang bereputasi baik dan sudah bekerja dengan baik, tetapi malah difitnah dan dijelek jelekkan namanya oleh seorang pasien yang punya maksud jelek (misalnya ingin memeras?).
Bisa aja kan?
Yang masalahnya biar emang gimana pun, hukum itu bukan keadilan. Hukum itu cuma aturan main. Hukum macam apa pun selalu bisa di belokin untuk kepentingan orang jahat. Yang salah itu bukan hukumnya, tetapi orang orangnya.
Tapi baiklah kita kembali ke masalah teknis: si rumah sakit Omni itu TIDAK BISA membuktikan bahwa dia sudah memberikan pelayananan yang baik. RS Omni menghindar dari menjawab komplain dan malah menyerang balik. Dari situ aja udah gak bener.
Mungkin harus ada Hukum baru, yang mana jika orang atau pihak yang merasa nama baiknya dicemarkan dan menuntut orang yang mencemarkan nama baiknya, maka dia harus lebih dulu membuktikan bahwa dia memang punya nama baik dan harus membuktikan bahwa dia memang sudah melakukan yang terbaik sesuai prosedur yang benar dan semuanya tercatat rapi dan bisa dipertanggung jawabkan.
Keliatannya RS Omni tidak bisa membuktikan bahwa dia memang punya nama baik dan memang sudah bertindak benar, kan? Kok gua malah lebih sering melihat orang yang ‘dicemarkan’ nama baiknya, malah seringkali orang yang MEMANG tidak punya nama baik juga dari awalnya… Ini lucu sekali…
rumah sakitnya masih menganut sistem orba …. jelas dikomplain kok malah memasukan penjara yg komplain saran.. janga kerumah sakit omni deh.. yg lainya yg lebih bagus dan murah banyak kok
salut sama perjuangan Ibu Prita, maju terus…
Tidak aneh, saya tidak comment mengenai UU yang belum jelas, karena masih kontoversial. Tapi comment saya terhadap Rumah Sakit, dulu juga saya pernah mengalami dengan rumah sakit yang lain (kalau disebutkan, nanti saya ikut nasib Ibu Prita, alangkah sedihnya nasib bangsa dibungkam seperti ini). Isteri saya masuk RS dengan kondisi yang sangat lemah, langsung harus di rawat, dan diinfus. Ada test lab, selanjutnya seperti Ibu Prita, saya minta hasilnya, dan berusaha bertemu dengan dokternya untuk menanyakan sakitnya, semua bungkam 1000 bahasa. Sampai hari ke 2, saya putuskan untuk menarik isteri saya pulang ke rumah, walaupun pihak RS tidak setuju, dan berusaha menahan. Tapi karena hingga saat hendak pulang, saya menanyakan sakit apa, tetap tidak ada yang menjawab, saya mengatakan siap menanggung segala resiko dalam menarik isteri saya pulang. Kejadian ini sudah lama sekali, tahun 1999. Tapi itulah kenyataan yang pernah saya hadapi, dan saya sudah bersepakat untuk tidak pernah mau masuk rumah sakit.
Untuk Bu Prita, anda tidak sendirian.
bubarkan omni, sesat
Kalo memang benar kejadiannya seperti itu, saya rasa ga ada salahnya kita bicara kebenaran, apalagi skrg zamannya kemerdekaan… kita bebas, bebas bicara, bebas mengeluarkan pendapat, bebas untuk komplain, mengeluh dan sebagainya. Setelah saya baca dari cerita di atas saya pikir ini benar dan ga ada kebohongan. Ya semoga aja, Ibu Prita diberi kekuatan untuk menghadapi semua ini… Semoga semuanya cepat selesai.
Bakar omni…..
wajah indonesia tercinta
maluuuuuuu ….
Hei…para dokter…bertindaklah secara profesional kalo gak mau trima komplain dari pasien jangan hanya bergaya dengan seragam tapi ga tau jelas riwayat penyakit pasien.
saya menyayangkan keadaan seperti ini, disatu sisi prita sebagai korban yang telah dirugikan baik jiwa maupun materi. tetapi indonesia merupakan negara hukum dan mempunyai tata krama dalam menyampaikan sesuatu baik keluhan ataupun kritikan. kita mempunyai lembaga perlindungan konsumen yang dibentuk swadaya yaitu YLKI. seandainya prita berkonsultasi dengan YLKI mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi seperti yang dia alami. dan jika hasilnya harus ada tuntutan hukum terhadap OMNI, prita akan mendapatkan dukungan dari YLKI sebagai pembawa pesan secara legal.
Kita tidak bisa juga menyalahkan OMNI sebagai biang dari segalanya, karena OMNI sendiri juga menjadi korban dari pencemaran nama baik. tak baik menghakimi sebuah instansi yang cukup besar dan profesional hanya dikarenakan oleh beberapa oknum yang bertindak tidak sesuai dengan aturan.
kemelut antara pasien dengan RS merupakan suatu kemelut panjang, dan yang biasanya selalu dimenagkan oleh pasien sendiri dan yang dirugikan adalah staff dan dokter profesional yang tidak terlibat yang ikut dirugikan.
turut simpati dg ibu prita
ibu prita, prcylh… Byk phk yg akn mndkg anda, meNgiNgAt kasus sprti ini sgt konyol, d mna hak b’opini hrs d btsi dgn UU dan mgkn jg dgn kekuasaan.
Buat RS.omni, s’baiknya anda mlkkn intrpksi.
Kalau tau jadi begini jadinya, pasti bu Prita, sebelum nya akan menyiapkan untuk merekam, mencatat, memvideokan, mendokumentasikan setiap langkah2 perawatan, tindakan pelayanan & lain2nya, supaya ketika terjerat UU Informasi & Traksaksi Elektronik, bisa di lawan balik dgn bukti2 tsb, karena terbukti bukan fitnah, tapi ini faktanya. Bisa kita jadi pelajaran.
depkes harus berbenah…awasi rs2 yang cuma jual gdung bagus tnpa kualitas
hhhh… smua gara2 uang… Bu prita tambah sakit gara2 uang…
Bu pRita masuk penjara karena uang
tegakkan keadilan… kemana kami harus mengeluh jika kami dizalimi..??
Ya Bgitulah orang Pinter sukanya Minterin Orang…
kebenaran harus ditegakkan, mari kita dukung ibu prita, kita doakan smoga beliau tabah menghadapi ujian ini dan dapat menang di pengadilan nanti… amin
sabar mb allah akan selalu berpihak pada yg benar
karena hal yg sm jg pernah menimpa saya itu terjadi pada ayah saya yg awalnya sakit gejala batu ginjal karena dirawat disalah satu rumah sakit di pulau sumatera ,dokter mencoba berbagai macam obat dari yang sangat mahal sampai obat yg berharga 600 rupiah sj,satu bulan ayah saya menjadi kelinci percobaan para dokter yg tdk brtanggung jawab atau karena pendidikannya yg asal-asalan badan ayah saya pun membengkak sampai matanya pun tidak bs terbuka krn bengkak mgkn oleh impusan dan percobaan berbagai obat, bukan membaik bahkan sangat menyedihkan sewaktu dibawa kerumah sakit sialan itu ayah ku masih bs berjalan cm buang air kecilnya sj yg kurang dan sakit… alhasil dr gejala batu ginjal krn percobaan dokter-dokter bodoh itu ayah menjadi gagal ginjal, dg sangat menyesal kami membawa ayah ke rumah sakit yg laiinya yng mungkin lebih baik dr RS 1 ayah disarankan untuk cuci darah, hidup ayah ku menjadi tergantung dengan alat pencuci darah tersebut, meski dengan begitu ayah tetap nggak bs berjalan dan hidupnya menjadi terbatas minumnya cm diperbolehkan satu gelas sehari,,, ayah cm bisa bertahan 10 bulan dengan alat pencuci darah itu allah telah memberikan jalan yg terbaik untuknya biar dia tdk menanggung sakit dan betapa hausnya hidup didunia …..
berapa banyak lagi korban dokter-dokter bodoh diindonesia ini
saya harap jgn deh berusaha untuk menjadi dokter jk memang otak kalian tdk memadai untuk itu
karena kalian tahu nyawa manusia yg kalian permainkan
semoga sehat selalu dan hidup yang bahasguia
sabar, bu. mudah2an kesabaran ibu sekeluarga membuat ibu lekas sembuh dan pulih seperti sediakana. percayalah, Tuhan bersama ibu. biarlah yang salah menerima balasannya sendiri.
Ibu Prita, Semoga cepet sembuh, itu OMNI memang RUMAH SAKIT YANG SAKIT.
kebenaran pasti akan terkuak. Tuhan tidak pernah tidur…
dah ga heran rs di indonesia sekarang berorientasi 95% bisnis! 3%medis, 2% pelayanan & kepedulian thdp keselamatan pasien! kasus ms. prita hanyalah salah satu kasus dari ribuan kasus/hari di rs yg ada di indonesia.
sudah mjd rahasia umum bahwa rs kita mementingkan/mengejar ; dagang obat, kejar omset rawat inap, ngadu bebanyak2an pasien antar rs & antar dokter (dijadiin barang aduan u/ mereka saling mengungguli & menyombongkan diri 1 sama lainnya!), kejar pemasukan dgn “maksa” ;infus, inject, transfuse, rawat inap (bed & sewa kamarnya >mahal drpd hotel *****) ck’ck’ck’ck’ck’ck’…
rrruuuuaaaarrrrrr biasa kejamnya…!!!
saya yakin TUHAN MAHA ADIL & MELIHAT, & saya yakin mereka2 ( tim&kru rumah sakit ) juga punya keluarga yg mereka sayangi, kalau memang jeritan & curahan kepedihan hati pasien (korban mal) tidak mereka tanggapi & sadar diri; mungkin mereka sendiri yang harus mengalaminya!!!
note; percuma lewat jalur hukum!!! berapapun harta yg kita punya + kemungkinan kecil bisa menyamai harta yg dimiliki rs ===> kalah modal!!!
{ opini diatas adalah opini yg saya kutip dari tanggapan di salah satu forum } piss,…… y
hukum di negri ini hanya berlaku untuk kalangan tertentu bagi rakyat kecil mungkin hukum itu tak berlaku…
padahal sudah jelas – jelas dia hanya berkeluh kesal atas apa yang menimpa dirinya bahkan mungkin bukan hanya bu prita saja yang mengalami kejadian seperti ini cuma saja mereka masih takut mengalami kejadian seperti yang di alami bu prita ini jadi kebanyakan menyebut ini hanya “TAKDIR”
padahal kalau berkaca pada perusakan nama baik band greenday apa dia di penjarakan dengan lagu yang berjudul AMERICAN IDIOT..??? jelas” dia menghina sebuah NEGARA yang kalau di tuntut itu bisa lebih berat karna menyangkut martaba dan kebesaran sebuah bangsa…..
ini hanya masalah peraasaan ketidak nyamanan atas prilaku sebuah perusahaan terhadap hidupnya yang di curahkan lewat dunia maya tapi apa penjara malah menanti dia. sungguh tak bermoral hukum negri ini tak bisa melihat mana yang salah mana yang benar… yang jadi korban tetap saja rakyat indonesia sendiri….
hukum bangsa ini hanya berlaku untuk kalangan tertentu bagi rakyat kecil mungkin hukum itu tak berlaku…
padahal sudah jelas – jelas dia hanya berkeluh kesal atas apa yang menimpa dirinya bahkan mungkin bukan hanya bu prita saja yang mengalami kejadian seperti ini cuma saja mereka masih takut mengalami kejadian seperti yang di alami bu prita ini jadi kebanyakan menyebut ini hanya “TAKDIR”
padahal kalau berkaca pada perusakan nama baik band greenday apa dia di penjarakan dengan lagu yang berjudul AMERICAN IDIOT..??? jelas” dia menghina sebuah NEGARA yang kalau di tuntut itu bisa lebih berat karna menyangkut martaba dan kebesaran sebuah bangsa…..
ini hanya masalah peraasaan ketidak nyamanan atas prilaku sebuah perusahaan terhadap hidupnya yang di curahkan lewat dunia maya tapi apa penjara malah menanti dia. sungguh tak bermoral hukum negri ini tak bisa melihat mana yang salah mana yang benar… yang jadi korban tetap saja rakyat indonesia sendiri….
ya jelas aja banyak dokter2 bodoh ngaku profesional, lha wong sekarang untuk jadi dokter gak perlu cerdas kok, asal punya uang banyak, sogok sana sini untuk kuliah kedokteran.. potret instansi pendidikan di indonesia..
hidup prita…hidup kebenaran dan keadilan!
saya sangat kasihan sekali sama bu prita dia cuma mengeluh tentang rumah sakit yang merawatnya tapi malah di cebloskan ke penjara ? moga-moga bu prita kuat menghadapi semua ini ,
Omni kok bisa separah itu ya.. sungguh mengecewakan…
bu,prita lanjut khan perjungan mu..kami sll mndukung anda..
smga anda mndapat kkuatan dan kbnaran akan trngkap amin…
Allah SWT akan sll ada di phak ibu..
Jadi Takut Ke RS OMNI walaupun diklaim Assuransi juga..
Mudah2an Allah segera mengakhiri penderitaan mbak Prita, kembali sehat, nyaman dan bahagia…. sebagai balasan dari kesabaran dan ketabahannya…
Pengalaman mbak Prita ini, semoga menjadi pelajaran bagi semua pihak, dan utk RS2 di Negeri tercinta ini,terutama dengan lebel2 Internasional dst…, dapat mulai membenahi manajemen dan menatar dokter2nya agar tetap ingat pada janjinya sbg dokter…., …utk mengobati bukan utk menguras kantong pasien….. Salut untuk keberanian mbak Prita….!!
kenapa ya orang mengeluh kok masuk penjara.Aneh.
Kasus yang terjadi pada ibu Prita merupakan suatu pelajaran bagi negeri ini, tidak hanya pada individu tersebut yang mengalaminya tapi juga bagi institusi yang bersangkutan…
Zaman demokrasi ini yang seharusnya kebebasan hak berbicara, mengemukakan pendapat dan sebagainya merupakan hak asasi manusia, hal ini juga sudah termaktub dalam UUD pasal 28 mengapa menjadi dilema… Kalo emang pihak omni yang merasa nama baiknya dicemarkan seharusnya juga ikut dihukum dong karena melanggar UUD 1945 pasal 28 ayat 1…
Buat Bu Prita, Jangan Takut bu, yang benar pasti akan ditunjukkan Jalan oleh Alloh… Alloh selalu bersama hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.
Bubarkan Omni!!!
sudah -/+ 12 tahun saya tunggu, adakah orang yg berani membongkar kolusi antara dokter, rumah sakit, apotik dan perusahaan farmasi, bahkan saya pernah menulis untuk Kompas, tentang kolusi tersebut dan trik2x nya tetapi Kompas tidak berani memuat dengan alasan sudah full !!!…
Kejadian yg menimpa Sdri. Prita adalah akibat dari kolusi tersebut di atas, bahkan sejak 12 tahun lalu para dokter sudah di target oleh manajemen Rumah sakit, sudah seperti salesman !!!…
Jka anda mengetahui bagaimana cara mereka berkolusi, anda sekalian akan merasa ngeri dan menakutkan… walaupun tidak semua bahkan masih ada dokter yg idealis dan tidak komersial, namun umumnya dokter seperti itu tidak ada di Rumah Sakit Mewah, umumnya mereka mengabdi di kota kecil atau pedalaman di Indonesia…
Obat golongan G yg harus menggunakan resep dokter seharusnya di Indonesia tidak perlu mahal karena pada umumnya obat buatan PMDN di Indonesia hanya jiplakan dan tidak ada yg dari hasil riset, obat tersebut menjadi mahal karena sebagian besar uang yg di bayarkan oleh pasien dalam menebus obat digunakan untuk kontrak dokter yg menulis resep merk obat yg di produksi oleh perusahaan farmasi tertentu, untuk intertain dokter ke luar negeri dan banyak lagi, pada akhirnya kita2x ini yg harus menanggung biaya tersebut di atas, gila kan…
OMNI International yg di Alam Sutera?? wews,. itu kan RS baru… deket rumah gw. pdahal niatnya klo emergency bakal ke sana. jadi mikir lagi deh…
turut prihatin dengan ibu prita…
tp menurut saya,dlm kasus ini cuma mis comunikasi aja…indikasi untu rawat inap itui bukanhnya dr hasil lab aja,,harus di liat juga kondisi klinis pasien…
klo ada gejala2 yang mengharus kan pasien untuk opname,walaupun hasil lab masih normal..
jd alasan di opname nya dokter bisa merekomendasikan intuk therapi untuk oral intake..misal nya pasien mual muntah ga bisa minum n makan…
jd harus di infus,untuk tamabahan makanan…
ya sebener nya,apa yang akan kita lakukan,berikan n dptkan harus diinform sejelas2 nya pada pasien
karena mereka berhak tau…
Menurut saya, surat ibu Prita, tidak ada yang salah….. saya membacanya ikut GERAM. karena kenyataannya Ibu Prita memang benar2 di permainkan. Untuk mendapatkan hak sebagai pasienpun tidak diperhatikan, untuk mendapat hasil medis harus berdebat dan di permainkan berhari2…benar2 tidak profesional. ATAU memang ada yang SALAH terjadi pada malam itu (mungkin alat lab yang rusak atau memang sudah biasa menakut-nakuti pasien yang benar-benar butuh pertolongan, jadi main sebut saja hasil lab yang paling buruk untuk bisa mengelabui pasien agar bersedia dirawat inap). setelah itu gampang tinggal cari akal bagaimana agar tidak terkesan salah/ ceroboh, yaitu dengan kata REVISI. ini rumah sakit sedang bercanda atau bagaimana? kok hasil lab bisa berubah 670% dari hasil awal… Padahal SANGAT BERBAHAYA sekali kalau hasil lab keliru, karena ini menyangkut nyawa seseorang, seharusnya pihak RS bertanggung jawab dengan salah mendiagnosa berdasarkan hasil Lab yang salah apalagi sudah sampai 2 kali diperiksa Lab, yang jelas semua biaya ditanggung ibu prita via Asuransi. kalau dari awal salah maka dokterpun akan salah mendiagnosa dan tentunya obat2/suntikan yang diberikan tidak tepat.Dengan trombosit yang amat sangat rendah itulah sebabnya diagnosa dokter demam berdarah. Ini merugikan dan membahayakan pihak pasien. Apalagi tidak mendapat keterangan yang semestinya, dari cerita bu Prita Dokter terkesan tidak bertanggung jawab, melemparkesalahan pada Lab. kalau memang ada kersalahan diagnosa segera diberitahu ke pasien dan diperbaiki diagnosanya, bukan malah hanya merevisi hasil Lab yang sudah dilakukan 2 kali malam itu….. HARUSNYA RUMAH SAKIT DAN DOKTER BISA DITUNTUT… sakitnya gondongan kok dibilang demam berdarah jadi mana tanggung jawab RS tsb. RS lain malah cepat mendiagnosa penyakit dengan benar, sehingga obat yang diberikan tepat. COBALAH PARA AHLI HUKUM, IDI DAN POLISI ADAKAN PENYELIDIKAN YANG BENAR TENTANG PROSEDUR, DIAGNOSA DAN SAKITNYA IBU PRITA SEHINGGA IBU PRITA DIHARUSKAN RAWAT INAP KARENA DEMAM BERDARAH DAN VIRUS UDARA……APAKAH ADA KEKELIRUAN ATAU KELALAIAN RUMAH SAKIT DALAM HAL INI. UNTUNG SAJA IBU PRITA BERINISIATIF PINDAH RUMAH SAKIT, KALAU TIDAK TENTU NASIBNYA AKAN LAIN…..
BAGAIMANA KALAU IBU PRITA YANG GANTIAN MENGAJUKAN TUNTUTAN KARENA KESALAHAN DIAGNOSA DENGAN HASIL LAB YANG SALAH/FIKTIF..
BENER JUGA KITA HARUS WASPADA TERHADAP RUMAH SAKIT. JANGAN2 KITA PUN AKAN MENGALAMI SEPERTI INI..
IBU PRITA YANG DIZOLIMI…MAJU TERUS DAN TABAH YA…SEMOGA ALLAH MAHA KUASA, MEMBUKAKAN HATI NURANI PARA PENEGAK HUKUM DI INDONESIA.
kebenaran pasti menang…!!!
Sangat disayangkan ….
Ini terjadi kurangnya komunikasi dokter-pasien. Mestinya setiap planning yang akan dilakukan ke pasien harusnya dikomukasikan ke pasien atau keluarganya dan harus mendapat persetujuan pasien/keluarganya.Nah,saat komikasi ini staf medis/dokter/perawat harus bisa menjelaskan dengan jelas dan dimengerti pasien/keluarganya. Disini adalah hak pasien/keluarga pasien untuk menyatakan setuju atau tidak setuju. Bila terjadi hasil lab.yang mecurigakan,semestinya dokter tersebut menginformasikan ke pasien,mungkin perlu croscheck ke lab.lain diluar rumah sakit atau lab.dalam rumah sakit.Disinilah dokter harus menyediakan waktu yang cukup untuk memberikan penjelasan kenapa dan bagaimana.
Memang,terkadang ada beberapa dokter spesialis dirumah sakit sepertinya masih menjadi “dewa” sehingga tidak ada staff lain yang berani menegurnya atau mengkritiknya. Semoga hal ini menjadi pelajaran yang berharga dan perlu ditekankan disinilah pentingnya komikasi yang baik antara dokter dan pasien. Jangan pasien dijadikan objek tetapi ajalaklah dia sebagai subjek dalm pengobatan karena pasien punya hak atas setiap perlakuan yang dikenakan atas badanya (menerima/menolak).
Bangun tidur langsung melihat kabar ibu prita.kemarin saya membaca tulisan ibu prita,saya berharap semoga rumahsakit tempat ibu prita yg baru dpt menyimpulkan detail detail sakit ibu prita.sejak berapa hari sakit gondongen itu berawal.dan apakah karena demam dan gondongen bisa menyebabkan darah bergumpal gumpal yg tidak bisa di cek up harapan ibu prita menurut pendapat saya hanya berada pada penjelasan dari dokter rumasakit kedua semoga memberikan keterangan yg betul dan tidak ada esek esek
Bangun tidur langsung melihat kabar ibu prita.kemarin saya membaca tulisan ibu prita,saya berharap semoga rumahsakit tempat ibu prita yg baru dpt menyimpulkan detail detail sakit ibu prita.sejak berapa hari sakit gondongen itu berawal.dan apakah karena demam dan gondongen bisa menyebabkan darah bergumpal gumpal yg tidak bisa di cek up harapan ibu prita menurut pendapat saya hanya berada pada penjelasan dari dokter rumasakit kedua semoga memberikan keterangan yg betul dan tidak ada esek esek .selamat untuk ibu prita
[...] Surat Prita Mulyasari Antara Curhat, Kapasitas Dokter, Keangkuhan RS dan Hukum yang Memayunginya [...]
Jaksa nya Gatek Mas…
Mari kita dukung agar Ibu Prita bebas dari jerat hukum..
“…kemelut antara pasien dengan RS merupakan suatu kemelut panjang, dan yang biasanya selalu dimenangkan oleh pasien sendiri dan yang dirugikan adalah staff dan dokter profesional yang tidak terlibat yang ikut dirugikan.”
@ mas fuad, apakah anda pernah melakukan survei utk kesimpulan ini?…
KENYATAANNYA, tulisan anda semestinya tertulis:
“…kemelut antara pasien dengan RS merupakan suatu kemelut panjang dan DI INDONESIA BIASANYA selalu dimenangkan oleh RS sendiri yang nyata-nyata merugikan kredibilitas dokter profesional dan staff dokter lain yang tidak terlibat.”
dan untuk banyak kasus, kalaupun pasien dapat memenangkan perkara, itupun karena ada campur tangan pihak lain, dalam hal ini adalah media informasi…
Di Indonesia, silakan kita bertanya kepada diri kita sendiri maupun orang-orang disekitar kita, PASTI mayoritas pernah punya masalah dalam hal kenyamanan, layanan & keamanan dengan Dokter, RS, Perawat…
Hanya saja terkadang kita sebagai konsumen terkadang selalu memilih untuk mengalah karena tidak mau ribut-ribut…
Sudah menjadi rahasia umum bahwasannya layanan publik di negara kita tercinta ini BURUK dan perlu pencetus untuk mengangkat masalah ini ke ranah yang berkompeten untuk merubah keburukan ini…
Dan e-mail Ibu Prita adalah “pencetus” itu…
Jangan pernah takut untuk sharing tentang pengalaman
anda,, maju terus Bu Prita… Kebenaran pasti akan menang.
Kita akan selalu mendukung Anda dengan doa.
Buat bu Prita, turut berduka atas kejadian yang ibu alami semoga dengan peristiwa ini semakin terungkap kasus-kasus yang sama, dan mencadi cerminan kepada semua peayanan kesehatan agar lebih prima,cermat dalam menangani kesehatan yg menyangkut nyawa manusia
Sebenarnya apa yang terjadi pada ibui prita pernah terjadi pada banyak orang…kesewenang-wenangan di rumah sakit. bedanya ibu prita punya keberanian untuk mengungkapkan. maju terus ibu prita. ibu sebenarnya bukan korban, tapi pahlawan. apa yg telah dilakukan pihak RS sebenarnya ‘menggali kubur sendiri’. saat ini setelah sekian juta orang mengamati masalah ini, apakah masih ada yang mau menggantungkan nasib kesehatannya ke RS tersebut….????
Dr.H siapa yaaa??
mudah2 dia sadar akan perbuatannya dan ingat karma akan selalu ada. jika tidak di dunia diakhirat pasti ada. ingatlah para dokter2 yang berkerja tidak dengan hati nurani.kalian punya keluarga dan punya orang terkasih.mana kasih sayang dengan sesama..minim sekali.
saya turut berduka atas kejadian yang menimpa ibu prita, saya ga nyangka rumah sakit inter seperti itu bisa melakukan hal seperti ini. Untuk depkes mohon lebih teliti dalam memilih dokter,
Ibu prita saya mendukung ibu
” KayakNya siH internasionaL yah Pasti didalemnya oRang2 Berpendidikan,, tpi kUg kayak gini Yah,, Ga bisa nerima kritikan,, sedih deeh,,
buat bu prita, saya turut prihatin. dan turut mendoakan semoga masalah ini cepat selesai.
dan saya jugak mengucapakaan selamat kepada bu prita yang bersikap berani.
buat pihak – pihak yang merasa dipermalukan atau dicemarkan nama baiknya seharus nya merasa malu dengan keadaan ini. walaupun anda menang sekalipun. tapi faktanya
bu Prita lah pemenang sejatinya.
semoga dosa – dosa mereka diampunkan..
wassalam..
Kasihan ibu prita, saya sangat prihatin atas kejadian yg menimpa ibu, smg orang yang menzolimi ( rs omni, polisi n jaksa ) dlm waktu dekat ini mendapat azab yang lebih pedih dari ibu. smg ibu sabar, tabah n tawakal kunci utama untuk dalam menghadapi masalah ini.
Gak profesional banget RS Omni dan dokternya. Layanan yang seenaknya sendiri juga pernah saya alami, meski beda masalahnya.
Maka, pemerintah bertindaklah menertibkan rumah sakit. Jangan hanya mau uang pasien doang….
RS omni tu ga bs di untung,,,harusny denger tu keluhan pasien dmn pelayanan yg kurang baek harusnya dijadkn untuk intropeksi diri dong bkn malah nuntut….
sekarang omni hrs mikir gimana caranya tuk munculkan image yg baek,biar ga di segel tu rumah sakit..
tapi kayaknya sulit xe ye dah banyak yg tau lau RS omni berbahaya buat pasien..
buat bu prita smga allah selalu melindungin ibu ya….
aku peribadi mendukung ibu,dan msh banyak lg yg berpihak kpd bu prita
buat ibu prita selalu tawakal, mdh2an mslh ibu ini bisa cepat diselesaikan dengan baik dan kekeluargaan.manusia tidak luput dari kesalahan
ini lah kalo semua tdk tau diri…… buka mata buka hati……. baca bagaimana keluhan hati orang yang menderita……. ini nama nya sudah jatuh ketiban tangga……..selamat berjuang ibu prita.
OMNI MENGGALI LUBANG KUBURNYA SENDIRI mayaholic dilawan..kcian dh OMNI tp ngomong2 kena pasal pencemaran nama baek ga ya jd takyut…
Kalau gitu mendingan berobat ke dukun Ponari aja….
sungguh malang nasibmu wahai sohib mayaku.. ternyata hukum di negeri kita masih belum berpihak pada yang benar… mirip seperti sebilah pisau dapur yang biasa ibu pake… tajam di bawah dan tumpul di atas. Orang yang pintar akan hukum pandai nian mencari celah untuk menyalahkan orang lain… andaikan dirinya yang menjadi Prita, bgm???… Memang hukum di negeri kita, mungkin sudah begitulah… yang pandai tentang hukum…ehm berpura-pura tak tau hukum, Tunggu hukum dari Tuhan sajalah… entar bgm kelak kamu di dalam kubur di sana… sayang penegak hukum yang telah dulu di alam sana… tak pernah bangkit… andaikan bisa… wah… hebohlah dunia.
Saya jg pny pengalaman yg sama dg ibu prita,tp berhubung saya dl kuliah di akper saya hanya memendam sakit hati kepada pihak rs yg memperlakukan saya dg tdk berdasarkan asas kemanusiaan yang adil dan beradab. Dimohon kepada menteri kesehatan utk lebih mengawasi manajemen dan pelayanan rumah sakit yg sangat bnyk jumlahnya di negeri kita tercinta INDONESIA. Suwun
saya mendukung bu prita,,,semangat
jgn pernah takut ngomong ttg kebenaran.. ^_^
EMANK SALAH YH KLO CUMA CERITA AJAH?? BIAR SEMUA ORANG TW JUGA X.. AD PENGALAMAN KAYAK GITU. KATANYA INTERNASIONAL,TP PENANGANANNYA KAYAK RUMAH SAKIT PINGGIRAN YANG GK ADA IJIN. PAYAH..!!
Bukankah apa yang disampaikan Bu Prita, bisa ditanggapi secara Positif dari pihak Rumah Sakit ?
Bagi saya sebagai masyarakat…sangatlah berterima kasih terhadap apa yang telah disampaikan oleh Bu Prita.
Berbagi pengalaman seperti ini sangatlah berharga. Semoga Allah mempermudah Ibu Prita dalam
menyelesaikan masalah ini…Amiin
buat bu prita saya sangat prihatin.tabah saja kebenaran pasti menang
bopengnya dunia hukum dan kesehatan kita.
Prita, aku mendukungmu,
tetap semangat,
mari kita tingkatkan keimanan kita, karena dengan iman itulah, Allah akan menolong kita, dari jalan yg tak terduga,
hasbunAllah wani’malwakil, ni’malmaulawani’mannasir.
innaalillaahi WIR…ternyata ad juga yang lebih mementingkan uang daripada nyawa seseorang (PASIEN)..
insylh bu prita, seorang yang didzolimi akan dikabul doanya…
pihak RS yang aneh…coba klo keluarga dr tersebut yang mengalami,pasti mereka akn marah juga krn gak mau dirugikan apalagi bersangkut paut dengan nyawa…
semoga Allah memberikan kesabaran pada Ibu Prita n memberikan pelajaran yang berharga untuk para dokter yang bertindak sewenang2
RS.Omni Tolong Jangan Semaunya Sendiri Memenjarakan Orang , Bu Prita Sabar Aja Bu Semua Pasti Ada Balasan Dr gusti allah , Saya Juga Sering Dengar Ada Kasus Seperti Ini Anak Saya Yang Hanya Sakit Demam Aja Di Vonis Kanker Otak Apa Gak Kurang Ajar RS, Yang Ada Di SBY , Memang Hukum Sudah Kacau Balau .Smoga Cepat Beres rusanya Bu
wah…… kayaknya ada permainan… coz ga ada kata penipuan…. cuma ada kata kebohongan, dan emang benar dibohongi… aduh…. OMNI gimana sech… tuntutanya kabur…. karena pengen kabur dari tanggung jawab
Tidak hanya kesehatan (rumah sakit yang “Rusak”), Lembaga pednidikan juga “Rusak Parah”. Rusak…… Rusak………
saya dulu pernah mengalami hal yang menyedihkan ketika Almarhum Ayah saya terserah stroke, saya minta bantuan seorang dokter syaraf terkenal di Surabaya, ketika di pintu pagar dibukakan oleh si pembantu, lalu si Dokter muncul dari balik pintu (di teras), dia bertanya sama si pembantu : “wana atau tenglang…?” ( wana–> sebutan buat pribumi/Indonesia sedangkan tenglang adalah chinese), saya sungguh terkejut dengan pertanyaan sang dokter ke pembantunya, saya yang kebetulan berdarah campuran (jawa dan tionghoa), tentu saja sangat menyesalkan apa yang saya dengar! masak iya mau nolong seseorang mesti ditanya dulu dari ras/suku apa???
akhirnya saya tidak dibantu oleh sang dokter bejad itu dan seumur-umur saya menyumpahi dia, semoga dia terkutuk dan menjadi kerak neraka!!
maju terus bu Prita, jangan sampai rakyat kecil selalu menjadi korban tipu daya orang kaya!
semoga semua pihak bisa belajar dari kasus ini, bagaimanapun juga, kritik dan saran tetap diperlukan agar suatu istansi tidak arogan dan bisa berkembang menjadi lebih baik lagi.
Masyarakat juga hendaknya tetep bisa nulis kritik dan saran dengan bahasa yg baik dan data yang cukup akurat,
Saya sih berharap lembaga yang berwenang dalam melindungi hak2 konsumen bisa memperjuangkan hak2 tersebut, jgn sampai jd lembaga yg mandul..
thx
Kepada yth, Direksi RS OMNI International.
Ternyata di Rumah Sakit anda masih ada dokter yang mementingkan egonya sendiri sehingga mengorban nasib pasien dan membahayakan perusahaan.
nasib ibu prita tidak lebih baik dari adik saya. Adik saya sampai menderita stephen-johnson syndrome gara2 perbuatan tidak bertanggungjawab dari dokter syaraf yg baru di rumah sakit Ngudi Waluyo Blitar. Untung saja dokter2 yang lain cukup sigap, selain adik saya sendiri yang memang cukup kuat, sehingga dia bisa langsung keluar dari rumah sakit setelah 12 hari rawat inap. Walaupun tadinya kepala rumah sakit tidak mau bertanggung jawab, namun akhirnya dia mau mengganti biaya rawat inap setelah ayah saya mengancam akan melaporkan ke kepolisian dan menyebarkan berita tersebut di radio :p
sungguh tidak profesional dengan rs bertataraf internasional. di indoensia memang konsumen seperti kita-kita ini yang menjadi korbaaaan. sebaiknya RS tersebut lebih cocok di kampung yang belum ada listriknya
insya Allah doa orang yang di aniaya di ijabah oleh Allah SWT dan diberikan jalan keluar yang baik.
Terus berjuang prita kami dukung Anda dan doakan anda dalam hal keadilan. Depkes RI harus berani menindak RS macam OMNI agar kedepannya tidak ada kejadian seperti ini… RS macam OMNI pasti kan mengalami kehancuran nama baiknya dimasyarakat… Wahai Dokter2 dan Pengurus RS se Indonesia Ingat Allah SWT maha mengetahui segala niatan kalian dalam bekerja..berlaku adillah dan jujur dalam pelayananmu kepada pasien, jangan pandang bulu.karena Allah SWT tidak pernah melihat status manusia dan Dia Maha Adil.INGAT ITU……!!!
BREAKING NEWS !!!
TANGGAPAN KEJATI BANTEN ATAS PEMERIKSAAN JAKSA YANG MENUNTUT PRITRA:
“Kita tidak berbicara siapa yang akan kemudian bertanggung jawab terhadap pembuatan …(BAP),yang penting, tapi siapa yang harus bertanggung jawab mereka yang melakukan tindakan pidana (PRITA). Saya berikan apresiasi kepada jaksa tersebut!!”
saya juga pernah ngalamin dulu waktu anak sy skt panas kata dr m katanya demam berdarah,harus rawat inap,tapi sy tolak,terus dia nyuruh sy cek lab,dicek lab ternyata negatif,terus wktu anak sy batuk gak sembuh sembuh ke dr a dibilangnya gejala tbc,terus dikasih obat, tp tetep aja gak sembuh,pas kakak sy kan dokter juga dtg terus liat obatnya, kakak sy bilang obat apaan ini,bikin keropos tulang, terus kakak sy kasih resep dan Alhamdulillah anak sy sembuh, gak kebayang kalau kakak sy gak datang,berapa uang yang harus sy keluarkan buat cek lab dll karena dibilang tbc anak sy.dokter a dan dokter m itu semua dokter ahli spesialis anak yang cukup terkenal di daerah sy, tapi apa?makanya sy lebih percaya dengan dokter umum dr k, dia bener bener dokter yang baik,gak ngambil keuntungan.banyak dokter kurang professional mgkin karena masuk kedokteran yang ptg uang sekarang tuh,jadi lulusannya juga banyak yang asal jadi dokter.sy dukung bu prita,
Memang miris sekali kejadian yang menimpa Ibu Prita, mudah -mudahan tidak ada lagi kejadian seperti ini cukup disini.
Kasian Ibu Prita maupun pasien lainnya yang menjadi korban kesewenangan pihak rumah sakit dan aparat berwenang kasus hukum seperti hidup didalam penjajahan saja. Sehingga RUU yang sudah di putuskan oleh DPR/Pemerintah rancu,dimana letak kebebasan berpendapat di negeri ini? Katanya Negara Demokrasi masih saja menggunakan cara lama,Ujung-Ujung nya Duwit….Masya’allah.
pasti ada hikmahx, klo bukan ibu prita pastilah kejadian seperti ini tidak akan terungkap pada RS tersebut, mudah-mudahan Manajemen pengelola Rumah Sakit dimanapun dapat mengambil pelajaran agar semakin meningkatkan pelayanannya, dan untuk ibu Prita..tetap semangat dan semoga kasusnya cepat selesai dengan baik.
tegakkan keadilan, salam untuk prita sekeluarga
buat ibu prita mudah-mudahan ibu di kasih kesabaran sama allah SWT…..dan apa yang menimpa ibu akan di balas yang lebih baik dari-NYA
HASIL DENGAR PENDAPAT KOMISI IX DPR DGN MANAGEMENT RS OMNI:
1. KOMISI SEMBILAN TIDAK PUAS DENGAN JAWABAN DARI PIHAK RS OMNI
2. MENGUSULKAN PENCABUTAN IZIN OPERASIONAL RS OMNI
3. MENCABUT TUNTUTAN RS OMNI KEPADA PRITA MULYASARI
4. RS OMNI HARUS MINTA MAAF SECARA TERBUKA KEPADA PRITA MULYASARI
saya sekeluarga juga dapat merasakan apa yang di alami ibu prita.semoga saja kejadian yang dialami ibu prita dapt menjadi pelajaran buat semua orang.amin
Mungkin ni yg namanya teguran buat kita semua baik secara individunya maupun dari pihak pelayanan….
smoga dari pihak pelayanan yang ada ditanah indonesia ini bisa menjunjung Hak Asasi Manusia warga Indonesia
kan indonesia negara pancasila dan punya UUD !!!
untuk kedepannya hal ini bisa menjadi acuan juga pelajaran bahwa hidup itu merupakan ketergantungan satu sama lain…
maka niscaya semua umat slalu dalam keadaan slamat, aman, aminnn…
thank’s
kalau orang susah atau miskin hukum selalu didepan begitu berhadapan dengan orang yang berduiit dibelakang.inilah negara kita yang tercinta tanah beli, air juga beli.Tapi tenang aja bu prita saya siap mendukung kalau perlu pasukan jin saya saya suruh kepung jakarta.
yach..UUD 45 aja menjamin kebebasan berbendapat…sekarang tinggian mana UUD 45 dgn UU ITE??? sekarang para pejabat yg mroses hukum udah mulai diperiksa ama intstansinya…
kita tunggu aja hasilnya…..
VIVA BU PRITA…
salut buat mba prita yg menguak pendustaan RS omni. doa tulus kami sertakan untuk anda….tuntut baliklah mba prita…
Para konsumen bersatulah, karena kita sering diperdaya oleh para kapitalis yang hanya mengejar untung……
Aku bingung, berobat ke Ponari di Jombang yang murah meriah dibilang sesat, berobat ke OMNI INTENASIONAL yang mahal, malah masuk bui… oalah… sopo sing bener to nggerr…….
Oalahhhh….Kebenaran Hanya Milik Alloh, Berserah Dirilah Hanya KepadaNya, Insyaalloh Yg Benar Akan Menang…..
Kasihan ya OMNI, mau memperbaiki citranya tapi malah namanya jadi HANCUR hik hik hik….
kalo ibu ga salah,kenapa harus takut?ibu jangan takut ya? kebenaran pasti menang kok!
buktinya banyak yang mendukung ibu….
semoga RS OMNI mencabut tuntutannya atas ibu,
amien………
semoga allah senantiasa memberikan perlindungan serta rahmatNya pada ibu…..
cayoooooo
Mbak..anda adalah pionir dr semua pasien yg pernah punya dan mungkin akan punya pengalaman seperti anda. mudah-mudahan ini bisa ditiru oleh pasien lain…(tp…berani ga ya???). Saya jadi mikir…kalo saya punya uang banyak, saya mau bikin Rumah Sakit Tradisional aja, yang lebih mengedepankan wong-wong cilik kayak kita (tp bukan berarti para penggede dan borjuis ga boleh berobat di sini). Trus nanti saya akan merekrut Ponari yang barangkali pas saya meresmikan Rumah Sakit ini sudah bergelar dokter… Dia kan sudah terlatih mengobati orang tanpa milih status pasien dan tanpa menetapkan tarif berobat.
PESAN BAGI RAKYAT INDONESIA,JANGAN PERNAH MENGELUH APALGI PROTES BILA DIPERLALKUKAN TIDAK ADIL.INGAT DULU SIAPA ANDA,APA KEDUDUKAN ANDA.KARENA KELUHAN DI NEGERI INI BISA BERUJUNG MASUK PENJARA.
BRAVO HUKUM INDONESIA.
SALUT SETINGGI TINGGINYA BUAT KEJAKSAAN
saya jd trenyuh
Jadi seperti kembali ke jaman penjajahan, bisa hidup tenang (baca: diam tdk diganggu) saja sudah cukup senang
salam kenal bos…
Sekarang makin banyak orang pinter yang keblinger…….!
Pada 4 November 2008 kira-kira pukul 16.15 saya membawa anak saya ke RS Omni, Pulomas, Jakarta Timur, untuk mendapat perawatan di ruang UGD. Menurut pihak rumah sakit, anak saya mendapat serangan jantung akut. Setelah dirawat di UGD, anak saya disarankan pindah ke ruang ICCU. Tak lama kemudian, dokter menganjurkan agar anak saya dirujuk ke RS Harapan Kita untuk mendapat pengobatan lebih lanjut karena peralatan di RS Omni tidak lengkap.
Dengan segera abang saya berangkat ke RS Harapan Kita membawa hasil pemeriksaan RS Omni sekaligus memesan kamar. Pihak RS Harapan Kita menyebutkan supaya anak saya segera dibawa. Karena pihak RS Omni tidak dapat menyediakan ambulans dengan alasan sopir tidak ada, mereka menyarankan menggunakan Ambulans 118 dengan biaya Rp 200.000. Waktu itu di RS Omni ada tiga kendaraan milik rumah sakit tersebut yang sedang parkir.
Akibat tak ada pelayanan ambulans RS Omni, anak saya terlambat dibawa ke RS Harapan Kita. Beberapa jam menunggu Ambulans 118, anak saya, Daniel Wilbert Tambunan (27), drop dan meninggal dunia di RS Harapan Kita, empat jam kemudian.
Beberapa hari setelah itu, pihak RS Omni menagih biaya perawatan. Tak saya periksa satu per satu pada saat itu. Barulah saya lihat kemudian di sana tercantum biaya kamar jenazah Rp 25.000. Aneh betul. RS Omni tidak menyediakan ambulans untuk anak saya yang membutuhkannya, tapi menagih biaya kamar jenazah yang tak pernah dipergunakan anak saya. M Edyson Tambunan Jalan Nusa Cendana Blok C No 4 Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara
[ Sumber : kompas ]
SALUT DENGAN MBAK PRITA,KITA BERHARAP BANYAK DENGAN KEJADIAN INI, AGAR PARA RUMAH SAKIT DIMANAPUN BISA MENGAMBIL HIKMAHNYA DAN MENINGKATKAN MUTU PELAYANANNYA SEHINGGA TIDAK MENGECEWAKAN BANYAK PIHAK, DAN TIDAK ADA YANG DIRUGIKAN, UNTUK PARA DOKTER KALO MENGANALISA HARUS LEBIH HATI-HATI DAN DENGAN DATA.
DAH GITU BIAYA RUMAH SAKIT SEKARANG MINTA AMPUN MUAHAL……………NYA
UNTUK PRITA SEMOGA KASUSNYA CEPAT SELESAI
AMIEN…………
Ada bebrapa hal juga yg harus kita luruskan dengan berbagai pernytaan yang dibuat oleh masyarakat awam bahkan dunia pers yang juga terlalu memojokan RS dan dokter indonesia secara umum, seperti misalnya :
1. Istilah malpraktek begitu mudah terucap dan dijadikan sebagai headline berbagai pemberitaan media cetak maupun elektronik, padahal banyak dari mereka yang tidak mengerti dengan benar apa sebenarnya defenisi malpraktek, sehingga setiap tindakan dokter yang dianggap tidak sesuai dengan apa yg diharapkan oleh si pasien dianggap sebagai sebuah tindakan malpraktek.
2. Setiap kali media masa hanya mengangkat masalah RS yang tidak memberikan layanan kepada masyarakat yg tidak mampu secara finansial, seharusnya berbagi media juga mencoba mengangkat peran dari RS yg telah membantu pengobatan dari para pasien tidak mampu, namun pada akhirnya pihak pasien tetap tidak dapat membayar biaya pengobatan. Bila hal ini dibiarkan terus berlarut, menurut anda apakah RS dapat membiayai seluruh biaya operasional dari RS itu, apakah anda mengerti bahwa program pemerintah yang selalu didengung2kan, seperti misalnya JAMKESMAS, tidak selalu optimal pada pelaksanaannya, dikarenakan berbagai macam alasan.
hendaklah kita juga arif dalam memberikan penilaian, jangan “rusak susu sebelanga karena nila setitik”, saya tidak mencoba untuk membela para dokter namun hendaklah kita tidak menggeneralisasi semua RS dan dokter di Indonesia, padahal tidak sedikit dari dokter2 di Indonesia yang telah mengabdikan dirinya dengan penuh ketulusan, tanpa mendapat bayaran bahkan kehidupan yang sewajarnya.
terima kasih, semoga dapat menjadi bahan renungan kita semua.
ya Allah… tak terasa menetes air mata saya membaca surat ibu prita… begitu mudahnya nyawa dipermainkan hanya demi meraih keuntungan utk beberapa pihak.. semoga ibu prita tabah dalam menjalani cobaan.. untk RS terkait semoga bisa memperbaiki kinerja nya..
dokter, cita-cita jadi dokter sangat di gemari oleh anak. anak2 membayangkan dokter itu penuh dengan ketulusan, kelembutan, iptek yang tinggi, kehidupan yang lebih baik, semua serba wah…………… tapi itu dulu, nyatanya, ada juga dokter yang tega seperti itu………. sedih deh gue.
ya memang sangat tragis melihat apa yang telah dialami oleh ibu Prita..ya semoga saja keluarga diberi ketabhan
Semua orang mempunyai haknya untuk mengutarakan pendapat. Hal ini tidak bisa dibatasi dengan apapun. Seorang ibu Prita yang menjadi korban kenpa malah dia yang menjadi tersangka,apa undang2 di negara ini hanya memihak kepada orang yng diatas atau memang orang2 kecil hanya sebagai kambing percobaan. Maju terus Ibu prita Mulyasari kebenaran memihak anda, semoga ALLAH meridhoi hambanya yang benar…..Amin
Akhirnya kebenaran yang menang… HArusnya pemerintah segera bertindak karena byk sekali masalah2 spt itu
[...] Surat Prita Mulyasari Antara Curhat, Kapasitas Dokter, Keangkuhan RS, Penjara dan Hukum yang Memayunginya [...]
maju terus mb.prita……kami selalu mendukung perjuanganmu….
rumah sakit kok gt yach…
kasihan bu prita…sudah jd klinci percobaan malah mau dimasukan penjara..
tuhan maha adil!!!
setuju dgn pendapat ronald… Masy hanya melihat scr awam, mis pasien mengeluh sakit dada,sakitnya menjalar ke pundak dibw ke rs lalu dipasang infus tiba2 meninggal.. Pasti rs yang akan disalahkan… padahal pasien meninggal krn serangan jantung akut dan bkn krn di infus..
Apakah masy tahu masuk kedokteran umum tuh mahal apalagi sekolah spesialisasi..
Seharusnya pemerintah mbuat aturan spy pendidikan khususnya kedokteran bs jauh lbh murah dibanding skrg..
Tau ga seh kalo biaya dokter umum khususnya di daerah2 spt di yogja, crbn,dll ga jauh beda tarifnya ama tkg cukur. Kalo tkg cukur 15rb, dr umum ada yg tarifnya cm 10rb..
pemimpin di negeri ini kurang peduli terhadap rayaknya, nyatanya kurang kepedulianya terhadap rakyatya,klau emang peduli cepat tuntaskan musibah yang menimpa ibu prita. dan segera adili omni hospital kalau perlu cabut izinya
semoga jaksa atau pun penyidik yang telah mendapat uang jatah dari omni perutnya akan membesar dan mati,,,,,, sabarlah ibu prita dengan cobaan ini
OMNI= OMong Ngalor ngIdul, hwahahaha alias pembual. sekarang RS OMNI udah sepi, kasian deh luuu
ass.wr.wb
saya kesal dgn pernyataan dari pihak RS. OMNI INTERNASIONAL. Bu Prita dituduh mencemarkan nama baik RS tersebut padahal apa yang ibu tulis adalah kisah yang ibu alami sebenarnya….Saya kagum dengan ketegaran Bu Prita menghadapi masalah ini dan tenang menjawab pertanyaan-pertanyaan dari wartawan.
semoga RS OMNI menyesali apa yang telah mereka perbuat kepada Bu Prita..
Sukses ya bu…..
ass.wr.wb
Wah semoga hasil dengar pendapat OMNI dengan Komisi 9 DPR RI benar2 dilaksanakan. Dukung Prita!!!!
MATINYA KEBEBASAN BERPENDAPAT
Biarkanlah ada tawa, kegirangan, berbagi duka, tangis, kecemasan dan kesenangan… sebab dari titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menghirup udara dan menemukan jati dirinya…
itulah kata-kata indah buat RS OMNI Internasional Alam Sutera sebelum menjerat Prita dengan pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik.
………………………………………………………………………………………….
Bila kita berkaca lagi kebelakang, sebenarnya pasal 310 KUHP adalah pasal warisan kolonial Belanda. Dengan membungkam seluruh seguruh teriakan, sang rezim penguasa menghajar kalangan yang menyatakan pendapat. Dengan kejam penguasa kolonial merampok kebebasan. tuduhan sengaja menyerang kehormatan, nama baik, kredibilitas menjadi ancaman, sehingga menimbulkan ketakutan kebebasan berpendapat.
Menjaga nama baik ,reputasi, integritas merupakan suatu keharusan, tapi alangkah lebih bijaksana bila pihak-pihak yang merasa terganggu lebih memperhatikan hak-hak orang lain dalam menyatakan pendapat.
Dalam kasus Prita Mulyasari, Rumah sakit Omni Internasional berperan sebagai pelayan kepentingan umum. Ketika pasien datang mengeluhjan pelayanan buruk pihak rumah sakit, tidak selayaknya segala kritikan yang ada dibungkam dan dibawah keranah hukum.
Kasus Prita Mulyasari adalah presiden buruk dalam pembunuhan kebebasan menyatakan pendapat.
Ya Alloh tunjukilah kami yang benar itu benar. yang salah itu salah.
ya Alloh lindungilah hamba – Mu yang lemah ini.
ijin ngopy surat-nya boss ya..
salam…
sebetulnya etika profesi kedokteran itu apa sih?
apa peran IDI (ikatan dokter indonesia)??
kemudian, RS swasta atau RS internasional atau RS pemerintah, apa juga punya jiwa utk menyembuhkan dan menyelamatkan orang sakit? apa jiwa tsb dibeli dengan profit sesaat aja?
dan,
kenapa managemen atau skill dari dokter dan perawat masih terus “amburadul”?
perawat senior dan yunior terasa sangat jauh sense of job nya, yunior terkesan sembrono dan sak enake dewe (semaunya aja), weleh weleh…
apa kata dunia???
salam
Jarot
makasih bu pritta, keberanian anda membuat kami para ibu merasa memiliki pahlawan baru. sekarang saya yakin, para dokter dan paramedis gak akan sembarangan lagi deh memperlakukan pasien setelah kasus bu pritta terjadi. ibaratnya memang bu pritta harus jadi tumbal atas buruknya pelayanan medis di indonesia, tapi sekaligus itu membuat bu pritta jadi shero, karena insya Alloh saya yakin, haqqul yaqin, bahwa mereka yg masih punya hati nurani akan tergerak untuk memperbaiki diri, dan memberikan pelayanan yg lebih baik.
di tingkat lokal malah mungkin lebih baik. puskesmas2 di jogja (krn saya tinggal di jogja) saling berlomba lho memberikan pelayanan terbaik mereka, malah ada yg dah dapat pengakuan ISO segala. dokter2nya koperatif, sabar memberikan penjelasan (soalnya sy rada cerewet sk nanya macam2 hehe), dan staf2nya jg ramah2, yaa meskipun di beberapa tempat masih ada jg yg sok birokratis dan rada jutek.
semoga mereka sadar ya bhwa mereka punya profesi yg luarbiasa terhormat, luarbiasa mulia, dan mereka harusnya jd malaikat penolong, bukannya malah jd malaikat pencabut nyawa … naudzubillah min dzalik …
Inilah yang banyak terjadi, banyak orang yang diberikan kelebihan oleh Allah untuk menjadi ahli di suatu bidang, dengan maksud untuk membantu orang lain, tp malahan hanya untuk memanfaatkan kekurang tahuan orang, hanya untuk mendapat untung sebesar-besarnya, mereka pikir dng mereka memperkaya diri, mereka akan kekal hidup didunia, tp nyatanya tidak, kita hanya sebentar hidup didunia, diakhirat amal perbuatan kita yang akan berpengaruh…
alhamdulillah masih banyak yang takut sama Allah
maju terus”prita”langkahmu sudah benar,kita sebagai orang yang tak tahu masalah kedokteran tidak bisa dipermainkan begitu saja….Jangan pernah patah semangat “LANJUTKAN”
ya, apa mentang-mentang kita orang awam sehingga orang-orang yang berilmu dan berpangkat tinggi bisa mempermainkan kita dengan ilmu yang mereka puja. di mana etika medis mereka? kasihan ibu prita kan? teganya memenjarakan seorang ibu dengan 2 batita tanpa prosedur hukum yang berlaku. semoga kita bisa mengambil himah dari peristiwa ini dan semoga ke depan tidak terjadi hal yang serupa.
Bagaimana ya seandainya ibu prita istri seorang jenderal atau
istri Danyon atau Kapolres….apakah akan kena juga UU ITE….atau malah ……. (takut juga kena UU ITE) ………(mulut diplester mode on)………
dokter indonesia terlalu banyak jam prakteknya sehingga sangat terburu-buru dalam menganalisa hasil pemeriksaan yang memerlukan kehati-hatian, dokter harus tahu bahwa dunia medis bukanlah dunia bisnis, dunia medis mengedepankan keakuratan dan kehati-hatian, tidak seperti bisnis yang punya unsur spekulasi dan peranan intuisi dalam mengambil keputusan secara cepat. saran saya kurangilah jam praktek dokter indonesia, hanya sebatas jam 8 malam dan minimal memeriksa pasien 15 menit per pasien sehingga punya banyak waktu untuk menganalisa dari hasil konsultasi dengan pasien
selamat, ibu prita hari ini sudah bebas tanpa syarat.. ( 25 June 2009 )
pelajaran bagus untuk masarakat indonesia tercinta.
semoga kasus yang seperti ini tidak terulang lagi..
Theerrrrlllaaaaaalllluuuul……………… kata Rhoma Irama.
macam mana pula bah kau ini ,rs kok kayak gtu pasien kecewa betul bah…
ya Allah….cuma curhat ajha bsa msuk pnjara…..
kta nya di Indonesia bebas berpendapat n berargumen???
jdi serem clu mw berobat ke RS…..