Usai kalah dari Malaysia, tim nasional pulang ke Indonesia dengan kepala tertunduk. Tak ada lagi undangan makan maupun berkunjung ke rumah pejabat pada skuad besutan Alfred Riedl.
Pelatih tim nasional, menyesalkan tokoh politik maupun pejabat yang selama ini kerap mendatangkan gangguan pada konsentrasi pemain.
Menurut Alfred, terlalu banyak wawancara, minta tanda tangan dan lain sebagainya, merupakan hal yang tidak terlalu penting bagi tim nasional.
Dia mambana, konsentrasi pemain jangan diganggu menjelang leg kedua Piala AFF yang berlangsung, Rabu (29/12) di Jakarta.
Menurut Alfred, kekalahan tim nasional akibat terlalu banyaknya seremonial yang tak perlu. “Kami kalah karena banyak faktor non teknis,” kata dia.
Ketua MPR, Taufik Kiemas, juga menyesalkan politisasi terhadap tim nasional. “Kalau mau memberi bonus, nanti saja setelah juara,” kata dia.
Di lain pihak, Wakil Ketua DPR RI, Anis Matta, menilai kehadiran elite politik di stadion bisa berdampak buruk bagi penampilan timnas.
“Karena itu, saya kurang setuju jika ada elite politik yang menonton langsung partai final dari tribun di stadion, karena akan memberikan beban politik,” kata Anis.
Ia mengatakan, kekalahan dari Malaysia sebagai efek politisasi yang membuat tekanan tersendiri kepada tim nasional Indonesia.
Anis menyarankan agar semua elite politik tersebut lebih baik menonton bareng melalui televisi dari kantornya atau lingkungannya masing-masing.
Ketika tim nasional kalah, tak ada yang peduli kepada Bambang Pamungkas dan kawan-kawan. Padahal, ketika tampil bagus di penyisihan grup, banyak saja undangan makan dan acara lainnya dari tokoh politik dan pejabat.
Sementara itu, Menpora Andi Alfian Mallarangeng meminta agar tim nasional tidak diganggu untuk berbagai hal yang tidak perlu.
Usai melapor kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Kepresidenan, Senin (27/12)), Andi mengatakan, tim nasional harus berkonsentrasi dan berkonsolidasi untuk memenangkan pertandingan final leg kedua.
Andi menilai masih ada kesempatan bagi Indonesia untuk menang melalui pertandingan leg kedua meskipun berat harus mencetak empat gol tanpa sekalipun kebobolan dari Malaysia.
Apalagi, menurut dia, pemain Malaysia tentu bertandang ke Jakarta dengan penuh kepercayaan diri setelah menang pada pertandingan pertama. “Tentu saja berat tetapi bukan tidak mungkin. Kita pernah menang 5-1, rasanya kita bisa menang lagi,” ujarnya, seraya berharap dukungan kepada tim nasional tidak berkurang.
Bisa retak

Guru besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengingatkan para tokoh dan elite Indonesia untuk terus mengimbau para pendukung Indonesia agar tidak melakukan tindakan seperti suporter Malaysia.
Hikmahanto menilai kekalahan Indonesia atas Malaysia yang diwarnai oleh tindakan suporter Malaysia menembakkan sinar laser ke arah pemain Indonesia, bila tidak dikelola dengan baik, berpotensi menjadi sumber ketegangan baru hubungan Indonesia-Malaysia ketika pertandingan putaran kedua nanti.
“Pemerintah, para tokoh dan elite harus terus menghimbau para suporter Indonesia hingga menjelang pertandingan agar mereka tidak melakukan tindakan tidak terpuji seperti suporter Malaysia,” katanya yang dilansir republikaonline.
Menurut dia, pelatih dan para pemain pun bila perlu melakukan himbauan yang sama. Menurutnya, pelatih dan para pemain bisa menyampaikan, mereka tidak membutuhkan dukungan sebagaimana yang dilakukan pendukung Malaysia.
“Pendukung Indonesia diminta untuk percaya pada kemampuan para pemain dan pelatih untuk mengalahkan timnas Malaysia,” katanya.
Nurdin membantah
Meski tim nasional telah jadi alat politik dan pendomplengan bagi citra diri, Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid tetap saja membantah tudingan politisi sepakbola.
Kritikan publik tak digubris Nurdin Halid. Aktivitas nonteknis timnas seperti jamuan makan siang dari Aburizal Bakrie dan istighosah di pondok pesantren dianggap bukan sebuah masalah. Isu politisasi organisasi pun kembali dibantah.
Menurut Nurdin, jamuan makan di kediaman Ical dilakukan sebagai bentuk ucapan terimakasih atas perhatian salah satu orang terkaya di Indonesia itu pada PSSI. Disebutnya, selama dia memimpin PSSI, 80 persen pembiayaan tim Merah Putih berasal dari keluarga Bakrie.
“Saya sampaikan pada pengurus, timnas, ofisial dan pelatih, saya mau mengucapkan terimakasih pada keluarga Bakrie,” ucap Nurdin yang dilansir detikcom.
Tidak hanya itu, perayaan Istighosah di pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, juga dianggap bukan sebuah masalah yang mengganggu konsentrasi tim. Kegiatan yang dilakukan hanya 16 jam sebelum timnas berangkat ke Malaysia itu murni karena ada niat baik dari para Kyai untuk mendoakan pemain.
Saat ditanya soal politisasi Merah Putih, menurut dia, orang yang mempermasalahkan politisasi timnas justru bagian dari politisasi itu sendiri.
Di tubuh PSSI, kata Nurdin, memang tersebar berbagai tokoh parpol, namun bukan berarti ada politisasi timnas seperti yang dituduhkan.
“Di PSSI ada Demokrat, ada Golkar, Gerindra, dan ada Hanura. Kalau saya bawa politisasi, tidak mungkin saya bertahan 3 tahun jadi ketua umum di PSSI,” katanya.
Belum pesta
Sementara itu, pelatih Malaysia, Krishnasamy Rajagobal menyatakan belum ingin berpesta.
“Kami bermain sangat baik dengan mencetak tiga gol, tapi pekerjaan belum selesai. Kami masih punya 90 menit lagi untuk tetap fokus,” katanya.
Malaysia hanya butuh hasil imbang atau kalah dua gol untuk memastikan meraih juara Piala AFF untuk pertama kali dalam 14 tahun terakhir.
Sementara timnas Indonesia harus menang 4-0 untuk merebut mimpi Malaysia yang sudah siap berpesta merayakan keberhasilan mereka. (Singgalang.com)
Sungguhpun telah tertinggal 3-0 pada leg pertama final piala AFF yang dipertontonkan di bukit jahil, tetapi untuk final terakhir tanggal 29 Desember Tim Nasional akan menutup lembaran indah tahun 2010 dengan skor 5-1 kembali seperti babak penyisihan… ayoooo timnas KITA BISAAA..



Iyaaa….jangan sampai kita meniru malaysia dengan membalas menggunakan laser…kitaa harus terus tetap berusaha,kerja keras, tetep semangat, dan jangan sampai konsentrasi jadi buyar kayak kemaren, pokoknya emosi harus di jaga buat pertandingan entar malem….kita harus percaya cerita dari negeri dongen..bahwa pada akhirnya “kebenaranlah yang akan menan ” aku setuju dengan pengulangan skor 5-1 untuk Indonesia nanti malam……amieen