Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Palito’ Category

Tepian Kalijodo

By : Empi Muslion

 

Hingar bingar Batavia berderai dalam cengkraman lenggok alunan kecapi yang mengalun syahdu… air kali mengalir gemulai membasahi dahaga yang kerontang didera birahi nan merajang… biduk lalu silih berganti melambai lambai senyum kulum tergolek menarik simpati… bunga bunga meyerbak sari menusuk hidung lalu lalang pemburu wangi…

Jalan panjang bergelombang terhampar dinding dinding tembok  bergraviti… kelap kelip cahaya lampu mewarnai hidup perlu disirami… bocah bocah berlarian membawa lembaran buku dan pensil mengejar kilau peradaban madani… Suara adzan mengumandang mengantarkan tapak tapak kaki bergegas ntuk bertafakur membasuh diri…

Roda roda terus berputar pada sumbu yang bergetar… kerikil kerikil tajam terlindas menyibak lobang lobang kelam… lorong lorong cahaya akankah merasuki lembah lembah gelap yang menerawang… tangan tangan kekar akankah menimbang timbangan pada jarum tengah berpatok… karena nafas terus berderu maka jalur harus dilalu…

Tepian Kalijodo beribu kisah anak anak Adam dan Siti Hawa tercatat dalam aribaannya… airmu kan selalu mengalir, tepianmu kan selalu dilewati, mentarimu kan selalu dinanti… Kalijodo tetaplah bergairah jangan gelisah, buang sudah desah gulana, tataplah tegar berjalan lurus menuju arah matahari terbenam, disana kan terpapar jarum hidup ntuk kembali kejalan yang dimuliakan-NYA…

 

18 Februari 2016

Read Full Post »

By : Empi Muslion

 

Kokok ayam bersahutan

Air wudhuk terbasuhkan, menghadap ridho Sang Illahi

Kau ambil cangkul dan kapak tajam, terletak diujung dapur beralas tanah

Kau langkahkan kaki menuju sawah dan hutan semak belukar

Kau tanam padi kau semai kopi berharap buah bergelantungan

 

Pagi dan petang kau susuri

Jalan setapak penuh duri, berteman lintah, pacet dan babi rimba

Wajahmu tetap berseri, walau makan berteman nyamuk dan kecoa

 

Hari terus berganti

Padi dan kopi berbuah sudah

Senyummu mulai merekah

Kau tuai dan kau petik untuk dipanen

Datang tengkulak menghampiri, kau jual dengan berat hati

Dihargai dengan recehan yang tak sebanding dengan peluh keringatmu

Hutang sudah menunggu dari rentenir yang mengais dipunggungmu

Mimpi memperbaiki dapur dan naik haji

Hanya harapan yang selalu berganti saat bulir padi dan kopi mulai bersemi

Senyummu berbuah onak

 

Kau tak pernah menyadari

Bulir padi dan kopimu yang bermutu tinggi

Melalang buana ke kota-kota

Bulir padimu menjadi beras premium yang dibungkus indah bertengger di supermarket mewah

Butir kopimu menjadi minuman termahal tersaji di café café bermerk internasional

 

Kau hanya bisa bermimpi

Mimpimu dituai oleh kalangan borjuis

Kau hanya bisa berharap

Harapanmu dipanen oleh kalangan berduit

Kau hanya bisa berkhayal

Hayalanmu diberangus oleh kalangan berdasi

 

Pak tani dan bu tani

Inilah tanah pertiwimu

Gemah ripah loh jinawi

Hanya dendang penina bobo

Sambutlah esok pagi

Nan kan terus berulang

Sambil menunggu

Tanah pertiwimu tandas tergadai

Sawah ladangmu menjadi beton bertulang

Hanya hitungan waktu

Anak cucumu menjadi tamu di tanah moyangnya…

Read Full Post »

Oleh : Empi Muslion

 

Di lorong  jalan Causebay Road

Di pinggir jalan Jordan Road

Di atas trotoar hotel Pullman

Di depan teras hotel Regal

Di atas rumput taman Victoria Park

 

Di depan kelap kelip lampu hotel

Di tengah gemerlap kilauan cahaya mall

Di samping gedung-gedung menjulang langit

Di bawah jembatan layang

Di emperan tangga penyeberangan

 

Kami saling membentang tikar

Membentang kertas koran, plastik dan pakaian

Saling membawa makanan

Ada bakso, ada lontong, ada ketoprak, ada berbagai makanan khas nusantara lainnya

Berkumpul bercengkrama bersenda gurau

Bercerita tentang kampung halaman yang indah permai

Kampung halaman yang gemah ripah loh jinawi

Kampung halaman mutu manikam zamrud khatulistiwa

 

Kami dengan semangat baja empat lima

Saling membuat janji

Bertemu karib kerabat

Saudara senasip seperjuangan

Datang dari berbagai penjuru ranah nusantara

Melepas penat enam hari mengurus rumah tangga orang lain

Nan sering kami sebut sebagai majikan

 

Saling menukar makanan yang kami masak dari rumah

Bahkan kami juga membawa kompor dan memasak dipingir trotoar ini

Kami menari

Kami bersenandung

Kami berdiskusi

Kami membaca

Kami berjualan

Kami berkesenian

Kami berqasidah

Kami bersembahyang

Kami berdo’a

 

Di emperan jalan penuh deru debu ini

Kami melangsa dan berbahagia

Bahwa negara kami kaya raya

Bercerita tentang alam, tanah, hutan, laut, sungai, danau, pulau

Bercerita tentang tambang emas, minyak, tembaga, batu bara, timah, nikel, bauksit, pasir besi

Bercerita tentang kayu jati, tembakau, kopi, rotan

Bercerita tentang tembakau, kebun teh, ladang kopi, casiavera, coklat

Bercerita tentang lada, cabe, bawang, brokoli, tomat, bayam, kangkung

Bercerita tentang sapi, kuda, kambing, ayam, itik

Bercerita tentang  durian, nenas, apel, manggis, mangga, rambutan

Bercerita tentang padi, sagu, tebu, jagung

Bercerita tentang ikan tuna, ikan bawal, ikan teri, lobster, cumi, udang, gurita

Bercerita tentang batu kecubung, batu bacan, batu sungai dareh, batu delima

Bercerita harta karun lainnya

 

Tapi

Apakah kami sedang bermimpi ?

Mengapa kami ratusan ribu banyaknya

Terdampar di negara yang sebesar pulau Talaud ini ?

 

Pak Jokowi

Tengoklah kami

Kartini Kartini Indonesia yang melanglang buana

Di ujung tanjung negara Cina

Hanya seluas titik diatas kertas peta

Mengharap hidup penyambung nyawa

 

Pak banyak diantara kami yang retak hubungan rumah tangga

Bercerai suami dengan istri

Berpisah anak dengan bundanya

Berpisah kami dengan sanak saudara

 

Pak Jokowi

Kami juga ingin

Menjadi majikan di negeri sendiri

Kami juga ingin menikmati udara pagi tapi tidak seminggu sekali

Tidak berjanji setiap minggu seperti ini

Menikmati mentari pagi tanpa ada yang membayangi

 

Mungkin bapak dan pejabat teras ditanah air sana

Menjadikan kami pahlawan devisa negara

Tapi sebenarnya pak kami  adalah warga yang tersia-sia

Buruh yang melangsa

Menggadaikan jiwa raga

Jangan lagi persenangkan hati kami dengan balutan kata kamuflase

Sebait kata Pahlawan

Sebenarnya kami terbuang

Pak Jokowi

Indonesia belum merdeka

 

Dalam lubuk hati kami terdalam

Tidak ingin pak kami seperti ini

Walau kami mendapatkan penghasilan

Mungkin jauh lebih baik dari kami bekerja siang malam membanting tulang di tanah air

Tetapi uang bukan segalanya pak

Kami juga punya hati

Kami juga punya jiwa

Kami juga punya rasa

Kami juga punya harga diri

 

Pak Jokowi

Jangan jadikan kami berlama-lama seperti ini

Lepaskan belenggu penjajahan abad baru ini

Yang penjajahnya tidak lain anak negeri sendiri

Perih, pedih, ngilu sekali pak

Saat orang-orang dari berbagai manca negara

Menenteng  tas berlabelkan brand internasional

Langkah sepatu berdegup keras dengan jaket kulit buaya dari negara Indonesia

Melirik kami

Memandang kami

Mereka saling bertanya

Anda dari mana ?

Oh dari Indo yaa ?

 

Pak cukup sudah penjajahan oleh bangsa sendiri ini

Pak negara kita jauh lebih kaya dari negara kecil ini

Negara kita jauh lebih memiliki sumber daya alam nan tak terkira

Pak hentikan korupsi yang merajalela

Pak hentikan penghamburan uang negara nan tak berguna

Pak hentikan jalan jalan keluar negeri pejabat negara yang tak bermakna

Pak hentikan bagi bagi saham sumber daya alam

Pak hentikan koar koar politisi nan tak berkesudahan

Jangan lagi kepentingan pribadi dan golongan dikedepankan

Perjuangkanlah martabat dan harkat bangsa kami

Merdekalanlah kami dari penjajahan baru ini

 

Pak kelolalah negara besar ini

Banyak lapangan pekerjaan yang bisa dibentang

Kami tidak harus menghamba ke negeri orang

Kami tidak harus diperalat oleh calo calo berdasi

Jika APBN dan APBD tidak digerayang

Jika aparat tidak bersengkokol dengan kaum pemodal

Jika kekayaan alam tidak digadai ke kaum kapitalis

Hargailah hasil pertanian kami

Hargailah hasil perkebunan kami

Hargailah hasil hutan kami

Hargailah hasil perikanan kami

Jangan lagi tengkulak, calo, makelar lebih kenyang

Dari tangan dan keringat kami yang siang malam menunggu hasil panen datang

 

Pak kami juga tidak ingin selalu menjadi buruh dinegara orang

Walau

Hujan emas dinegara Hong Kong

Hujan batu di negeri sendiri tetap lebih kami cintai

Tidak bisa diganti dengan harga apapun

 

Yang Mulia Bapak Presiden Jokowi tercinta

 

 

(Buat Saudaraku Buruh Migran di Negara Hong Kong)

Hongkong, 6 Desember 2015

Read Full Post »

By : Empi Muslion

Belum kering pedih mata menggelantung dikelopak

Belum hilang sesak nafas tersendat dikerongkongan

Belum pupus roda ekonomi rakyat nan terkoyak

Belum sirna kelamnya kota tanpa cahaya

Belum habis derai tangis kehilangan anak

Belum lama gembok pintu sekolah baru di buka

Belum jelas katanya ada pengusaha nan merompak

Belum lenyap lingkaran Presiden dan warga Suku Anak Dalam bercengkrama

Ternyata

Itu belum menjadi keprihatinan juga

Ya itu hanya kisah duka warga

Saya disini

Dibentangan beludru karpet merah

Di deru desiran Jaguar tanpa hambatan di macetnya jalan raya

Duduk di kursi empuk

Lebih nikmat memainkan bidak bidak

Sambil bertukar pengalaman dengan mafia pengemis  pulsa

Ketik sms

Ini penting, mama sedang ke Amerika “Mama minta pulsa”

Hallo

Ini tanah air beta

Tanah tumpah darah saya

Tidak ada yang tidak bisa diatur

Tapi jangan lupa

Mr.Presiden dan Wakil Presiden ada jatah sahamnya

Biar saja saya yang mengatur

Beres itu semua

Kalian mau perpanjang berapun akan bisa saya  atur

Karena saya sudah ditinggali ilmu kanjuruhan Mak Erot

Bisa memperpanjang keinginan yang kalian minta

Titipan sahamnya untuk Bapak Presiden dan Wapres

Pasti akan saya sampaikan

Jangan khawatir

Tidakkah kalian melihat

Donald Trump saja saya dekatnya luar biasa

Sampai bahu saya diusap-usapnya

Apalagi hanya

Presiden dan Wakil Presiden Indonesia

Ahaaaa

Oke

Kita ketemu saja besok lusa

Jangan lupa jet pribadinya

Kita kelapangan golf terindah di dunia

Sambil minum vin de jura

Menikmati

Lambaian tangan anak anak

Mengibarkan bendera menyambut kita

Read Full Post »

Nyanyian Angsa

NYANYIAN ANGSA
Karya : W.S Rendra

Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya:
“Sudah dua minggu kamu berbaring.
Sakitmu makin menjadi.
Kamu tak lagi hasilkan uang.
Malahan kapadaku kamu berhutang.
Ini beaya melulu.
Aku tak kuat lagi.
Hari ini kamu harus pergi.”

(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya tegas dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Maka darahku terus beku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang sengsara.
Kurang cantik dan agak tua).

Jam dua-belas siang hari.
Matahari terik di tengah langit.
Tak ada angin. Tak mega.
Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran.
Tanpa koper.
Tak ada lagi miliknya.
Teman-temannya membuang muka.
Sempoyongan ia berjalan.
Badannya demam.
Sipilis membakar tubuhnya.
Penuh borok di klangkang
di leher, di ketiak, dan di susunya.
Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah.
Sakit jantungnya kambuh pula.
Ia pergi kepada dokter.
Banyak pasien lebih dulu menunggu.
Ia duduk di antara mereka.
Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka.
Ia meledak marah
tapi buru-buru jururawat menariknya.
Ia diberi giliran lebih dulu
dan tak ada orang memprotesnya.
“Maria Zaitun,
utangmu sudah banyak padaku,” kata dokter.
“Ya,” jawabnya.
“Sekarang uangmu brapa?”
“Tak ada.”
Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang.
Ia kesakitan waktu membuka baju
sebab bajunya lekat di borok ketiaknya.
“Cukup,” kata dokter.
Dan ia tak jadi mriksa.
Lalu ia berbisik kepada jururawat:
“Kasih ia injeksi vitamin C.”
Dengan kaget jururawat berbisik kembali:
“Vitamin C?
Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.”
“Untuk apa?
Ia tak bisa bayar.
Dan lagi sudah jelas ia hampir mati.
Kenapa mesti dikasih obat mahal
yang diimport dari luar negri?”

(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya iri dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku gemetar ketakutan.
Hilang rasa. Hilang pikirku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang takut dan celaka.)

Jam satu siang.
Matahari masih dipuncak.
Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.
Dan aspal jalan yang jelek mutunya
lumer di bawah kakinya.
Ia berjalan menuju gereja.
Pintu gereja telah dikunci.
Karna kuatir akan pencuri.
Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu.
Koster ke luar dan berkata:
“Kamu mau apa?
Pastor sedang makan siang.
Dan ini bukan jam bicara.”
“Maaf. Saya sakit. Ini perlu.”
Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau.
Lalu berkata:
“Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu.
Aku lihat apa pastor mau terima kamu.”
Lalu koster pergi menutup pintu.
Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan.
Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.
Setelah mengorek sisa makanan dari giginya
ia nyalakan crutu, lalu bertanya:
“Kamu perlu apa?”
Bau anggur dari mulutnya.
Selopnya dari kulit buaya.
Maria Zaitun menjawabnya:
“Mau mengaku dosa.”
“Tapi ini bukan jam bicara.
Ini waktu saya untuk berdo’a.”
“Saya mau mati.”
“Kamu sakit?”
“Ya. Saya kena rajasinga.”
Mendengar ini pastor mundur dua tindak.
Mukanya mungkret.
Akhirnya agak keder ia kembali bersuara:
“Apa kamu – mm – kupu-kupu malam?”
“Saya pelacur. Ya.”
“Santo Petrus! Tapi kamu Katolik!”
“Ya.”
“Santo Petrus!”
Tiga detik tanpa suara.
Matahari terus menyala.
Lalu pastor kembali bersuara:
“Kamu telah tergoda dosa.”
“Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.”
“Kamu telah terbujuk setan.”
“Tidak. Saya terdesak kemiskinan.
Dan gagal mencari kerja.”
“Santo Petrus!”
“Santo Petrus! Pater, dengarkan saya.
Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya.
Yang nyata hidup saya sudah gagal.
Jiwa saya kalut.
Dan saya mau mati.
Sekarang saya takut sekali.
Saya perlu Tuhan atau apa saja
untuk menemani saya.”
Dan muka pastor menjadi merah padam.
Ia menuding Maria Zaitun.
“Kamu galak seperti macan betina.
Barangkali kamu akan gila.
Tapi tak akan mati.
Kamu tak perlu pastor.
Kamu perlu dokter jiwa.”

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya sombong dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku lesu tak berdaya.
Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang lapar dan dahaga.)

Jam tiga siang.
Matahari terus menyala.
Dan angin tetap tak ada.
Maria Zaitun bersijingkat
di atas jalan yang terbakar.
Tiba-tiba ketika nyebrang jalan
ia kepleset kotoran anjing.
Ia tak jatuh
tapi darah keluar dari borok di klangkangnya
dan meleleh ke kakinya.
Seperti sapi tengah melahirkan
ia berjalan sambil mengangkang.
Di dekat pasar ia berhenti.
Pandangnya berkunang-kunang.
Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar.
Orang-orang pergi menghindar.
Lalu ia berjalan ke belakang satu retoran.
Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan.
Kemudian ia bungkus hati-hati
dengan daun pisang.
Lalu berjalan menuju ke luar kota.

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Yang Mulya, dengarkanlah aku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur lemah, gemetar ketakutan.)

Jam empat siang.
Seperti siput ia berjalan.
Bungkusan sisa makanan masih di tangan
belum lagi dimakan.
Keringatnya bercucuran.
Rambutnya jadi tipis.
Mukanya kurus dan hijau
seperti jeruk yang kering.
Lalu jam lima.
Ia sampai di luar kota.
Jalan tak lagi beraspal
tapi debu melulu.
Ia memandang matahari
dan pelan berkata: “Bedebah.”
Sesudah berjalan satu kilo lagi
ia tinggalkan jalan raya
dan berbelok masuk sawah
berjalan di pematang.

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya tampan dan dengki
dengan pedang yang menyala
mengusirku pergi.
Dan dengan rasa jijik
ia tusukkan pedangnya perkasa
di antara kelangkangku.
Dengarkan, Yang Mulya.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang kalah.
Pelacur terhina).

Jam enam sore.
Maria Zaitun sampai ke kali.
Angin bertiup.
Matahari turun.
Haripun senja.
Dengan lega ia rebah di pinggir kali.
Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya.
Lalu ia makan pelan-pelan.
Baru sedikit ia berhenti.
Badannya masih lemas
tapi nafsu makannya tak ada lagi.
Lalu ia minum air kali.

(Malaekat penjaga firdaus
tak kau rasakah bahwa senja telah tiba
angin turun dari gunung
dan hari merebahkan badannya?
Malaekat penjaga firdaus
dengan tegas mengusirku.
Bagai patung ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)

Jam tujuh. Dan malam tiba.
Serangga bersuiran.
Air kali terantuk batu-batu.
Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang
dan mengkilat di bawah sinar bulan.
Maria Zaitun tak takut lagi.
Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya.
Mandi di kali dengan ibunya.
Memanjat pohonan.
Dan memancing ikan dengan pacarnya.
Ia tak lagi merasa sepi.
Dan takutnya pergi.
Ia merasa bertemu sobat lama.
Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya.
Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya.
Ia jadi berduka.
Dan mengadu pada sobatnya
sembari menangis tersedu-sedu.
Ini tak baik buat penyakit jantungnya.

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki.
Ia tak mau mendengar jawabku.
Ia tak mau melihat mataku.
Sia-sia mencoba bicara padanya.
Dengan angkuh ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)

Waktu.

Bulan.

Pohonan.

Kali.

Borok.

Sipilis.

Perempuan.
Bagai kaca
kali memantul cahaya gemilang.
Rumput ilalang berkilatan.
Bulan.

Seorang lelaki datang di seberang kali.
Ia berseru: “Maria Zaitun, engkaukah itu?”
“Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan.
Lelaki itu menyeberang kali.
Ia tegap dan elok wajahnya.
Rambutnya ikal dan matanya lebar.
Maria Zaitun berdebar hatinya.
Ia seperti pernah kenal lelaki itu.
Entah di mana.
Yang terang tidak di ranjang.
Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia.
“Jadi kita ketemu di sini,” kata lelaki itu.
Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya.
Sedang sementara ia keheranan
lelaki itu membungkuk mencium mulutnya.
Ia merasa seperti minum air kelapa.
Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu.
Lalu lelaki itu membuka kutangnya.
Ia tak berdaya dan memang suka.
Ia menyerah.
Dengan mata terpejam
ia merasa berlayar
ke samudra yang belum pernah dikenalnya.
Dan setelah selesai
ia berkata kasmaran:
“Semula kusangka hanya impian
bahwa hal ini bisa kualami.
Semula tak berani kuharapkan
bahwa lelaki tampan seperti kau
bakal lewat dalam hidupku.”
Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya.
Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar.
“Siapakah namamu?” Maria Zaitun bertanya.
“Mempelai,” jawabnya.
“Lihatlah. Engkau melucu.”
Dan sambil berkata begitu
Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu.
Tiba-tiba ia terhenti.
Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.
Di lambung kiri.
Di dua tapak tangan.
Di dua tapak kaki.
Maria Zaitun pelan berkata:
“Aku tahu siapa kamu.”
Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya.
Lelaki itu menganggukkan kepala: “Betul. Ya.”

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya jahat dan dengki
dengan pedang yang menyala
tak bisa apa-apa.
Dengan kaku ia beku.
Tak berani lagi menuding padaku.
Aku tak takut lagi.
Sepi dan duka telah sirna.
Sambil menari kumasuki taman firdaus
dan kumakan apel sepuasku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur dan pengantin adalah saya.)

Read Full Post »

’09 Janvier

2009

yaa ternyata hari ini

lembaran itu sudah berganti

daun daun 2008 yang kemaren hijau mewangi kini telah lapuk dimakan anai anai

pelepah pelepah dahaga itu kini tlah menjadi mumi memori

ada kehancuran nan terpatri, ada kebahagiaan yang bersemi, ada rona rona semu yang mengakrabi, ada noktah noktah realita yang harus ditelusuri

2009

hanyalah tetap sebuah relung relung waktu nan mengaliri  zaman

hanyalah sebuah penanda batas nan tak kan bisa dibatasi

akankah aku bisa memberi arti dan memaknai ?

sobat

hanya tetap uluran jiwaku

ntuk

selalu jabat erat

salam dalam derak dua ribu sembilan

Read Full Post »

Do’a Buat Pendiam

” Jika melihat praktek biadab, tunjukkanlah pada saat yang sama tidak terlibat dan menyembunyikan praktek yang tidak beradab itu “

Read Full Post »

Older Posts »