Feeds:
Tulisan
Komentar

Anak Biologis VS Anak Bangsa

Hari hari belakang ini dengan kesibukan Capres dan Cawapres mengkampanyekan dirinya, juga kesibukan saya menonton gerak gerik Beliau Beliau di televisi, ada satu hal yang selalu menjadi pertanyaan penasaran saya dengan gaya kampanya yang dilakukan oleh Capres/Cawapres tersebut.

Adalah tentang keikutsertaan keluarga Capres/Cawapres dalam setiap kegiatan yang dilakukan terutama terhadap calon dinasti penerus generasi Sang Presiden dan Capres/Cawapres tersebut.

Lihatlah keberadaan Edi Baskoro anak Presiden SBY sekaligus Capres, begitu juga dengan Puan Maharani anak Capres Megawati. Tetapi yang banyak menjadi perbincangan masyarakat diwarung kopi adalah keberadaan Edi Baskoro anak SBY, karena kebetulan SBY sedang menjabat sebagai Presiden RI saat ini, dimana ada SBY disitu ada Edi Baskoro, dan fasilitas yang diterimanyapun tentunya sama dengan Sang Bapak, seperti salah satunya yang selalu terlihat dikaca televisi adalah fasilitas tempat duduknya yang selalu dibarisan Ring 1. Memang sebenarnya ini sah dan boleh boleh saja karena ini adalah kegiatan partai dan kampanye, diluar kegiatan resmi kenegaraan (kadangkala dikegiatan resmi kenegaraanpun hal ini juga sering terjadi).

Tetapi ada saja pertanyaan yang muncul di warung warung tempat saya nongkrong, dilihat dari keberadaan kapasitas perjalanan dan pengalaman Edi Baskoro dipanggung perpolitikan anak bangsa, jika dibandingkan dengan sederatan nama lainnya di tim kampanye SBY dan partai demokrat, kiranya masih banyak tokoh lain yang lebih pantas untuk menggantikan posisi dan kursi yang ditempati oleh Edi Baskoro. Pertanyaannya bagaimana jika Edi Baskoro bukan anak SBY ? apakah dia juga akan bisa mendapatkan fasilitas salahsatunya seperti kursi tempat duduk yang selalu dideretan utama dimana SBY melakukan setiap kegiatannya ?

Kalau hanya sebatas masalah tempat duduk dan kemunculan Edi Baskoro dalam setiap kegiatan SBY yang kita persoalkan tentu sangatlah naif kalau kita persoalkan, bagaimanapun dia adalah anaknya Presiden, « suka suka aku dong, aku mau bawa siapa » kata Presiden.

Saya melihat ini adalah salah satu agenda nyata yang tidak terselubung yakni pengkaderan dinasti keluarga dipanggung politik, dan ini telah berlangsung sejak bumi Indonesia ada. Lihat saja bagaimana Presiden Soekarno yang juga sering memunculkan Megawati dalam setiap kegiatannya apakah kegiatan seni, paskibraka dan sebagainya, dan akhirnya memang Megawati berhasil meneruskan dinasti Soekarno dipanggung politik Indonesia. Begitu juga dengan Presiden Soeharto yang mengkaderkan Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) yang begitu fenomenal dizaman pemerintahannya, tapi sayang karier politik Mbak Tutut baru sampai dilevel Menteri (belum tahu kedepannya apakah akan bisa seperti Megawati), begitu juga dengan Presiden Abdurrachman Wahid dulunya yang selalu setia didampingi oleh anaknya Yenni Wachid.

Kembali ke Edi Baskoro, dengan semakin tingginya jam terbang Edi Baskoro mengikuti setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh Bapaknya, tentu akan menambah referensi pengetahuan, pengalaman dan kepercayaan dirinya dalam menapak karier kedepannya terutama dibingkai ranah politik. Dan modal yang paling besar diperolehnya adalah keterkenalannya oleh masyarakat dengan kemunculannya selalu diapit Sang Presiden yang adalah Orang Tuanya dengan serta merta embel nama belakang keluarga akan selalu disandangnya. Secara otomatis tidak bisa dipungkiri simpati dan dukungan sebagian masyarakat ke SBY tentu akan mengalir pula kediri Edi Baskoro. Sudah pasti hal ini tak akan bisa diperoleh oleh anak Indonesia yang paling pintar, paling jenius dan paling berbakat kepemimpinannya sekalipun.

Dengan modal kesempatan yang diperoleh oleh Edi Baskoro serta anak Presiden/Calon Presiden lainnya, sebagai ANAK BIOLOGIS dari penguasa yang berkuasa, tentu sangat bertolak belakang dengan ANAK BANGSA lainnya yang ingin menapak karier dipanggung politik, yang bersusah payah membangun, meniti dan menata karier politiknya tertatah tatih. Apalagi ntuk menuju singgasana Istana Presiden atau minimal kursi terhormat dipanggung DPR.

Mustahil kesempatan berlian tersebut akan bisa didapat dengan begitu mudahnya oleh anak rakyat jelata di bumi Indonesia ini

Jadi janganlah heran jika nantinya yang menguasai panggung tertinggi kekuasaan di Republik Indonesia ini hanya dari keturunan yang itu itu lagi….

Selamat berjuang sobat.

Sejak 1997, Hampir 1000 Penambang Tewas di Kawasan yang Sama

detikcom – Rabu, Juni 17

Ledakan tambang yang menimbulkan banyak korban jiwa di kawasan Bukit Bual, Nagari V Koto, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar) ternyata bukan baru kali ini saja terjadi. Bahkan sejak 1997, diperkirakan sudah hampir 1000 penambang tewas karena berbagai sebab di kawasan itu.

Hal itu diungkapkan manajer Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edward, saat berbincang-bincang dengan detikcom melalui telepon, Rabu (17/6/2009).

“Korban kali ini memang yang terbesar. Namun kejadian seperti ini bukan yang pertama di kawasan itu. Sejak 1997, hampir 1000 penambang rakyat tewas dengan penyebab yang sama, yakni pekerja yang tidak memenuhi kualifikasi dan peralatan yang tidak memenuhi standar penambangan yang aman. Besarnya korban jiwa itu boleh ditanyakan pada masyarakat sekitar,” ujarnya.

Ade mengatakan, penambangan yang dilakukan oleh masyarakat itu sangat tinggi risikonya. Hal ini disebabkan minimnya pengetahuan dan alat yang digunakan para penambang. Apalagi para penambang itu melakukan penambangan dalam dengan membuat lorong hingga 300 meter ke dalam tanah.

Lebih lanjut Ade mengatakan, meski hampir setiap minggu selalu ada korban jiwa, namun masyarakat nyaris tidak pernah melaporkannya pada pihak yang berwenang. Begitu ada korban tewas, mereka berupaya menyembunyikan dan menyelesaikannya secara kekeluargaan. Tujuannya jelas untuk menghindari tindakan dari pihak berwenang dan aktivitas penambangan di sana tetap berlangsung.

“Ledakan gas metan kali ini juga terjadi karena pelanggaran yang dilakukan pengelalola dan pekerja tambang rakyat itu. Pemerintah kota Sawahlunto pada Desember lalu sudah mengingatkan bahwa ada peningkatan kadar gas metan sampai 2 persen yang sangat berbahaya bagi aktivitas penambangan namun tidak diacuhkan,” ujar Ade yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Sumbar.

Ade mengatakan, pemerintah daerah harus secepatnya menghentikan penambangan yang dilakukan masyarakat di sana. Selain berbahaya, areal pertambangan itu juga dikuasai negara.

“Saya tidak mengatakan bahwa kawasan itu tidak dapat diekploitasi. Ke depan, proses penambangan benar-benar harus dilakukan oleh para pekerja yang memenuhi kualifikasi, cara kerja standar dan menggunakan peralatan yang memenuhi tuntutan keamanan,” tukasnya.

Solusi atau Polusi ?

Gambar ini saya ambil pada pukul 8.30 WIB dipagi hari yang cerah…..

IMG_0065

Mungkin tujuannya baik untuk memudahkan masyarakat dalam pembuangan sampah sementara menjelang dibuang ketempat pembuangan akhir oleh dinas terkait, namun ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya :

1. Pembuatan tempat pembuangan sampah sementara ini apakah sudah berdasarkan sebuah kajian yang utuh ?

2. Dari segi estetika, apakah TPA sementara ini menjadikan kota semakin indah ?

3. Dari segi dampak polusi bau, bukankah TPA seperti ini semakin mencemarkan bau disekitarnya ?

4. Dari segi efektifitas pemungutan sampah oleh petugas pengumpul, apakah ini lebih efektif ?

5. Di tiang gantungannya dituliskan pukul 18.00 – 05.00, kita pakai asumsi masyarakat mematuhi aturan tersebut untuk menggantungkan limbah sampahnya ditiang gantungan sampah tersebut dan petugas pengumpul sampahpun tertib dan disiplin waktu dalam memungutnya. Apakah diwaktu malam hari keindahan kota tidak diperlukan ? dan  apalagi jika masyarakat dan petugas tidak disipiln mematuhi aturan tersebut ?

4. Pada umumnya masyarakat membuang sampah dengan gantungan plastik, apakah plastik yang digunakan menjamin ketahanannya terhadap sampah yang ada didalamnya ? bagaimana jika plastiknya bocor ?

IMG_0064

BIKIN KOMUNITAS BLOGGER LUHAK NAN TUO yuukkk

Istano 4

Sobat Blogger….

Jika Sobat termasuk salah seorang yang sudah membuat Blog, ingin membuat Blog, ingin mengembangkan Blog, atau hanya sekedar ingin tahu apa itu Blog….

Jika sobat terutama yang berada di daratan bumi Luhak Nan Tuo (Tanah Datar)…

Mari kita coba ntuk membuat komunitas Blogger kecil kecilan yuukk di Tanah Datar ini, sekalian ntuk saling tukar pikiran, tukar wawasan, tukar pengalaman dan saling mencerahkan diantara kita…..

Jika ada sobats Blogger Tanah Datar yang berminat dan ingin bergabung.. ayooo daftarkan diri bisa lewat Blog Alang Babega ini…

Jika udah berkumpul beberapa orang anggota, nanti kita usahakan membuat acara kumpul bareng pada waktu dan tempat yang kita musyawarahkan bersama….

Ayoooo gabung…

Ditunggu lhoo………

Antara Curhat, Kapasitas Dokter, Keangkuhan RS, Penjara dan Hukum yang Memayunginya

prita

Semakin bingung saja menyaksikan berita berita di televisi dan nuansa penegakkan hukum ditanah air kita tercinta ini, bayangkan seorang yang mencurhatkan pengalaman hidup yang dialaminya saja bisa digerebek masuk penjara… huhu..

Kenapa kasus ini yang lebih heboh hanya dilihat dari UU ITE saja yang notobene UU ini sampai sekarang masih dalam perdebatan dan KUHP. Bagaimana dengan Rumah sakit dan kinerja dikter di RS Omni itu sendiri ? Padahal masih banyak UU lainnya yang harus diperhatikan dalam kasus ini terutama terhadap RS Omni dan para dokternya seperti  UU Kesehatan, UU Praktik Kedokteran, UU Farmasi, UU Perlindungan Konsumen, dsb.

Kok secepat itu Kepolisian dan Kejaksaan dapat menjemput Ibu Prita dengan mudahnya ntuk digiring ke Penjara  hanya dengan satu sandaran UU ITE saja dan ada juga pernyataan yang mengatakan hanya dikenai KUHP saja… mhhh tambah bengong saja liat liat pernyataan para penegak hukum kita dilayar kaca….

Tapi bagaimanapun, ada sedikit titik terang dan pernyataan yang jujur dari Jaksa Agung Hendarman Supandji yang mengatakan itu terjadi adalah atas ketidakprofesionalismean jaksa yang menanganinya… lmhhhh bagaimana dengan kasus kasus lainnya yang saban hari menimpa rakyat di Republik tercinta ini ?? apakah hukum masih bersandar pada kata ketidakprofesionalismean penegak hukum ntuk menegakkkannya ? entahlah………..

oohhhh…. negeriku…

Bagaimana dengan komunitas Blogger ? apakah akan ciut atau akan tetap melayang terbang dijagad maya ntuk mengekspresikan jeritan jiwa sebagai salah satu hak azazi manusia ??

Inilah isi lengkap email Prita Mulyasari yang dimuat di surat pembaca detik pada Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB dengan judul :

RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif

Jakarta – Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.  Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas.  Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600

###########

Piluuu membaca surat Ibu Prita ini, mungkin ini hanya satu dari sekian juta masyarakat Indonesia yang mengalami pelayanan kesehatan seperti ini, kebetulan saja Ibu Prita mampu dan berani untuk mengungkapkan kejadian yang dialaminya secara gamblang, tidak menyerahkannya begitu saja atas nama Takdir.

Kasus ini saja terjadi dengan RS yang sudah berlabelkan RS Internasional bagaimana yang berskala nasional, dan apalagi Lokal ??

Lelah memang jika membicarakan pelayanan kesehatan di negara kita ini, saban hari cerita Mal Praktek menghiasi muka ibu pertiwi, ada rumah sakit yang menolak pasien yang tak memiliki uang, ketentuan dokter/bidan/perawat yang bekerja nyambi, membuka usaha rumah sakit/poliklinik yang dipertanyakan standarisasinya….

Ohhh… Murahnya sepotong nyawa di negara kita…………..

Bagaimana hubungannya dengan kedudukan hukum sendiri ?

Sebagai bahan renungan atas musibah yang menimpa Prita Mulyasari dari catatan pribadinya yang diposting lewat surat elektroniknya, dibawah ini ada catatan dari Kompas…

TANGERANG, KOMPAS.com – Undang-Undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dinilai dapat membungkam rakyat. Apalagi dengan adanya pasal 27 ayat 3 yang mengancam seseorang atau lembaga dengan hukum enam tahun jika menyebarkan informasi yang dianggap sebagai fitnah. Oleh karena itu, Dewan Pers meminta agar UU ini segera diamandemen.

“UU ini harus direvisi. Supaya tidak ada lagi korban. Media juga bisa jadi korban. Sebab sekarang ini semua media memiliki media online. Kritik itu kan justru sebagai kontrol bagi pejabat. Itu hak rakyat. UU ini justru menyebutnya sebagai penghinaan,” ujar Wakil Dewan Pers, Leo Batubara, kepada wartawan di LP Wanita Tangerang, Rabu (3/6).

Menurut dia, ketika UU ini diiundangkan, Dewan Pers telah menemuhi Menkominfo. Dewan Pers geram karena UU itu dibentuk DPR tanpa mengajak dewan pers dan lembaga pers lain. UU itu memuat pasal 27 ayat 3 yang mengatur tentang penyebaran informasi pencemaran nama baik, akan dipenjara maksimal 6 tahun dan atau denda maksimal Rp1 miliar.

“Ini lebih kejam dari KUHP buatan Belanda. Ini 6 tahun dan atau denda Rp1 miliar dan bisa di tahan dulu. Saat itu Menteri bilang, tidak akan kena. Menteri berjanji tidak akan jauh ke situ. Tapi sekarang sudah ada korban kedua,” tuturnya.

“UU ini mematikan hak konstitusional rakyat. UU ini harus segera diamandemen. Kami sendiri telah mengajukan amandemen ke DPR setahun lalu. Tapi tidak ada tanggapan hingga kini belum ada tanggapan,” tukasnya.

Dari jalur transportasi udara, laut, darat sampai transportasi jalan kaki. Dari areal pembuangan sampah sampai areal real estate, dari halaman rumah sampai lapangan golf, dari warung kaki lima sampai Hotel bintang lima. Dari ujung Sabang sampai  tanah Merouke nusantara, sepertinya gugusan mutu manikam itu seakan menjadi ruang waktu ntuk menunggu detik nafas meninggalkan badan tanpa kewajaran.

Sontak, dalam lima bulan berjalan ditahun 2009 ini saja sudah beberapa buah pesawat TNI jatuh berguguran kebadan Bumi, belum lagi jika kita perpanjang daftar kecelakaan transportasi udara baik sipil maupun militer menghiasi desir air mata membasahi muka bangsa ini.

Bukan hanya di Udara, dilaut coba saja dengarkan rentetan kecelakaan kapal laut, feri, kapal nelayan menghiasi ombak tangis duka keluarga yang ditinggalkannya.

Di darat ? walau pemberitaan kecelakaan pesawat udara lebih mengangkasa gaungnya dibanding kecelakaan didarat, tetapi justru kecelekaan di jalan raya yang setiap hari grafiknya semakin meningkat memakan korban jiwa jiwa yang melayang begitu saja dengan mudahnya. Mobil angkutan antar kota yang terjun masuk jurang, mobil travel yang kadang tak memiliki izin terayek yang berlari kencang menabrak tiang, jutaan motor buatan Jepang yang bertabrakan tiap hari tanpa henti….

Itu baru cerita kita disekitar transportasi, bagaimana dengan roh roh yang melayang saat mata mata kosong antri saat menunggu berbagai bantuan atau program yang berembel murah atau gratis ? Rasanya tak kan pernah hilang saat tangan tangan melompong bertukar salaman dengan tangan malaikat penyabut nyawa ditangga acara Dzakat dengan nominal Rp. 30.000,-. Bantuan BLT, antrian nyawa ntuk harapan merubah nasib disaat heboh dukun cilik Ponari…

Akhh…. belum lagi sepotong nyawa itu tergeletak dikolong kolong jembatan, sepotong nyawa itu tersangkut dikantong kantong plastik pembuangan sampah, sepotong nyawa itu berjuntai dipinggir pinggir pantai, sepotong nyawa itu tak dapat berkelik dari ujung ujung badik senapan, ohhhh nyawa bangsaku…..

Akankah semua itu hanya bisa kita patrikan kesalahannya pada sang manusia yang sepotong nyawanya itu sudah tergenang tenang melayang ??

Bukan bermaksud membandingkan, tetapi sebagai rujukan ntuk meminimalisir murahnya sepotong nyawa di bumi zamrud khatulistiwa ini, lihatlah di negara eropa sana jika terjadi TIGA (3) saja kasus kematian yang tidak wajar dalam SATU (1) tahun dinegaranya itu adalah sebuah BENCANA BESAR dan AIB bagi masyarakat, negara, dan pemerintahannya….

Bagaimana dengan kita ??

sepertinya setiap ruang dibumi Indonesia ini adalah arena yang selalu rawan untuk sepotong nyawa…

MASIH RELEVANKAH MEMBICARAKAN LATAR BELAKANG SUKU SANG CAPRES DAN CAWAPRES INDONESIA ??

Sampai kondisi dan situasi Indonesia saat ini, terutama dalam kaitannya dengan perspektif Pilpres ini, saya setuju jika unsur primordial terutama Jawa – Luar Jawa masih bisa untuk dijadikan salah satu pertimbangan untuk kepemimpinan di Indonesia.

Menurut saya untuk negara seperti Indonesia yang memiliki multi etnis, multi cultur, multi problem dan multi multi lainnya…. serta faktor geografis yang sangat rentan dan sangat mudah terhadap isu isu disintegrasi dan kegiatan separatisme, apalagi kekuasaan masih dianggap sebuah faktor supremasi identitas/kultus status oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia, maka saya kira kepemimpinan Indonesia ini masih akan kuat unsur primordialnya…

Mungkin boleh saja kita mengatakan dizaman yang rasional, menjunjungtinggi objektifitas dan mengedepankan kualitas ini, masihkah relevan faktor kesukuan dijadikan sebagai pertimbangan kepemimpinan di Indonesia ? menurut saya masih relevan…

Mungkin secara faktor rasionalitas tadi, kita bisa mengamini siapapun Presiden dan Wapresnya, tapi jauh dilubuk hati masyarakat Indonesia menurut ilmu sosiologi yang merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi kekerabatan, terpola secara kesukuan bukan masyarakat individualis, apalagi tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang masih rentan terhadap dinamika politik yang tidak sehat, maka unsur primordial tadi belum bisa kita kesampingkan begitu saja..

Dinamika kepemimpinan ini, sebenarnya pada skala kecil banyak menghiasi panggung demokrasi organisasi di Indonesia, seperti latar belakang saya yang pernah mengikuti dan merasakan nuansa demokrasi kecil kecilan ini saat di STPDN dahulu, yang mana STPDN adalah etalase mini Indonesia, yang dihuni oleh seluruh anak nusantara yang memiliki karakter dan budaya yang berbeda.

Saat itu dalam organisasi yang bernama Wahana Bina Praja semacam BEM di Perguruan Tinggi lainnya, khususnya dalam pemilihan Gubernur dan Wagubnya, kebetulan saat itu pada angkatan 05 pasangan Gubernur dan Wagubnya Luar Jawa dan Jawa. Begitu juga angkatan 06 pasangannya Jawa dan Luar Jawa, angkatan 07 pasangannya Luar Jawa dan Jawa. Meskipun pada saat itu bukan pemilihan langsung oleh Praja tetapi melalui DPP, namun anggota DPP yang memilih pun sudah memiliki wawasan kebangsaan yang bernusantara yang tinggi, dan kepemimpinan ini mendapat respon dan apresiasi yang tinggi dari segenap Praja saat itu.

Namun pada angkatan 08 Pasangan Jawa sangat mendominasi, hal ini mengakibatkan kurangnya respon yang positif di kalangan Praja waktu itu khususnya luar Jawa (ini menurut adik kelas saya M.Muji, mungkin juga dirasakan oleh sebagian Praja lainnya saat itu).

Mungkin kasus ini bersifat kasuistik, tapi bagaimanapun fenomena ini, banyak sedikit pada skala kecilnya sudah dapat memberikan contoh, seperti saat kepemimpinan organisasi Praja di STPDN/IPDN ini yang merupakan etalase mini nusantara Indonesia, apalagi dalam skala besar yang mana masyarakat Indonesia memiliki tingkat pendidikan, wawasan yang beragam pula ?

Mungkin ada kajian menarik lainnya, yakni tentang aliran budaya politik yang berkembang di Indonesia, yaitu Budaya politik pesisir yang dipresentasikan oleh luar jawa yang berkarakter egaliter dan demokratis dan budaya politik pedalaman yang dipresentasikan oleh budaya jawa yang berkarakter hierarkis dan elitis, kira kira apakah ada karena faktor ini mengapa SBY menggandeng Boediono, Megawati menggandeng Prabowo dan Jusuf Kalla berpasangan dengan Wiranto ?

Saya pikir alangkah eloknya jika kedua budaya politik itu disatukan untuk saling melengkapi khazanah budaya kepemimpinan politik di Indonesia (ini hanya pandangan saya pribadi, pandangan sobat lainnya tentu juga memiliki argumentasi sendiri).

Semua ini hanya berpulang kepada kita sendiri melihatnya dari sudut dan perspektif apa, semua pandangan dan perspektif itu semua debatable… itulah demokrasi..

Sebuah etalase politik yang membatin dalam roh masyarakat Indonesia saat pendeklarasian SBY-Boediono di gedung Sabuga Bandung beberapa hari yang lalu.

Di Sumatera Barat dan Komunitas urang awak (ras Minangkabau) pada umumnya, moment pendeklarasian SBY-Boediono ini meninggalkan sejumput dialek akan keberadaan Gawaman Fauzi (terlepas dari kapasitasnya apakah mewakili baju pribadi atau atas nama pakaian Gubernur Sumatera Barat nya).

Dari peristiwa Gamawan Fauzi sebagai Deklarator tersebut, secara garis besarnya ada dua arus debat lapau yang muncul di warung warung kopi di Sumatera Barat.

Arus pertama, keberadaan GF di panggung deklarasi SBY-Boediono dengan irama suara yang tegas dan jelas membacakan kesepakatan koalisi anak bangsa mendukung SBY-Boediono, banyak komentar mendukung yang keluar, ada komentar yang berbau primodial, emosional maupun rasional.

Namun sebaliknya, arus kedua juga memunculkan perdebatan yang mengalirkan lontaran lontaran pemikiran yang berbau sinisme terhadap GF, tidak netral, ambisi dan inobjektifisme.

Sekarang saya coba merangkai dua arus dari debat lapau yang muncul atas GF yang menjadi deklarator tersebut : GF mengatakan kehadirannya dipanggung deklarasi tersebut adalah atas permintaan SBY dalam kapasitas pribadi, menurutnya ini adalah apresiasi SBY atas kinerja GF yang selama ini telah mendapat label sebagai kepala daerah yang konsen memerangi korupsi dan reformasi birokrasi.

Jika dilihat alasan yang dikemukakan oleh GF ini dan apresiasi SBY terhadapnya, adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan bagi GF khususnya dan Sumatera Barat umumnya. Tapi rupanya latar belakang ini juga memunculkan sisi sisi lain yang memunculkan diskusi dimata dan kepala publik. Keberadaan deklataror GF, bagaimanapun terlepas sebagai kapasitas pribadi, didalam diri GF tentunya juga sulit untuk melepaskannya dari baju Gubernur Sumatera Barat yang mengharuskannya/mewajibkannya untuk MEMPERLAKUKAN SAMA semua masyarakat/profesi/golongan/partai/dsb…

Maka disinilah akar perdebatan tersebut… yang memunculkan kembali pertanyaan yang selalu berulang ini “bagaimana membedakan dalam diri seorang pejabat publik antara keberadaannya sebagai kapasitas pribadi, dinas dan keberadaannya dalam kapasitas politik ??

Untuk masalah ini, kalau kita mau mendapatkan jawabannya yang hitam diatas putih tentu hanya hukum yang akan mengaturnya, tetapi sampai saat ini aturan inipun masih belum ada mengaturnya secara tegas, berarti secara hukum kita bisa membenarkan GF selaku pejabat publik hadir sebagai deklator SBY-Boediono yang merupakan aktifitas politik.

Bagaimana dengan etika birokrasi, etika pemerintahan dan etika politik yang juga ketiga etika tersebut harus melekat pada diri GF ? yang mana GF juga sebagai pembina tertinggi birokrasi dan pemerintahan di Sumatera Barat, GF juga sebagai gubernur yang keberadaannya untuk bisa menjadi gubernur juga melalui proses politik yang mana GF diusung oleh partai politik yakni PDIP dan PBB, mungkin disinilah sebenarnya yang menjadikan peristiwa GF menjadi deklarator SBY-Berbudi tersebut menjadi panjang dan tak akan berkesudahan karena memang belum ada pisau pengadilnya.

Karena ini masalah ETIKA, maka jawabannya BISA SESUAI ETIKA tetapi juga TIDAK BERETIKA.. Etika adalah masalah BAIK-BURUK, etika sendiri tentu tidak bisa dikenai hukum formil, etika hanya bisa dihukum secara normatif , sanksi sosial dan persepsi yang terdapat dalam kepala dan hati pendiskusi masing masing..

Ujung dialektika yang akan menjadi sekelumit catatan sejarah yang dipertontonkan oleh GF dalam pendeklarasian SBY-Berbudi (slogan yang diusulkan GF) yang diusung oleh Partai Demokrat beserta koalisinya ini, akhirnya hanya berpulang kepada persepsi dan pandangan kita masing masing ke Gamawan Fauzi..

Apakah kita bisa menerima penampilan GF dipanggung deklarasi politik itu sesuai Etika Diatas atau Tidak Beretika, tergantung kita sendiri untuk menilai Gamawan Fauzi….

Dari tampilan GF yang menjadi deklarator SBY-Boediono yang merupakan aktifitas politik (bukan aktifitas kenegaraan dan pemerintahan), sebenarnya sorotan ini juga dapat dipertanyakan ke diri SBY selaku Capres ataupun selaku Presiden RI saat ini, mengapa SBY meminta/melibatkan GF yang saat ini juga sedang memangku jabatan publik (Gubernur yang harus menempatkannya memberikan perlakuan sama kepada semua golongan/partai di daerahnya) masuk kearena kegiatan politik yang unsur politisnya sangat tinggi ?

Tentu juga tidak fair jika  kehadiran GF sebagai deklarator SBY-Boediono hanya ditumpangkan ke GF semata, GF hadir tentu juga ada yang meminta. Walau mungkin hal ini akan memnuculkan perdebatan yang panjang lagi, seperti, “Mengapa GF tak bisa menolak dengan memberikan argumen yang tidak/merusak apresiasi yang diberikan SBY?” apakah tokoh Minang tidak ada lagi yang memiliki idealisme, integritas diri dan komitmen semacam Muhammad Hatta, Sutan Syahrir atau Ahmad Husein yang berani mengatakan TIDAK jika itu akan menjadi perdebatan masyarakat dan merusak integritas diri yag sudah dibangunnya, dan berbagai persepsi lainnya….

Akhirnya, semua itu, mari kita pulangkan kembali pada pandangan kita terhadap kapasitas dan integritas seorang Gamawan Fauzi….

Apa Alasan SBY memilih Boediono sebagai Cawapresnya ?

Terlepas dari segala macam persepsi dan gonjang ganjing partai politik di Indonesia saat ini terutama soal Capres dan Cawapres Indonesia untuk lima tahun kedepan, saya ingin menyoroti mengapa SBY akhirnya menjatuhkan Cawapresnya kepada Boediono.

ada beberapa faktor yang menurut saya mengapa SBY memilih BOEDIONO :

1. Faktor Percaya Diri SBY yang tinggi

Mengapa saya katakan percaya diri SBY tinggi ?

Ini berkaitan dengan Kapasitas Pribadi SBY VS Parpol yang berkoalisi dengan Partai Demokrat. SBY mengenyampingkan cawapres dari kalangan Parpol yang telah mendekatkan diri dan ingin berkoalisi dengan Partai Demokrat. Saya melihat SBY telah mengukur kapasitas dan elektabilitas dirinya pasca pemilu legislatif 9 April yang lalu, kita tentunya tidak bisa menutup mata dan harus mengakui keberhasilan besar Partai Demokrat meraih 20 % lebih suara tidak terlepas dari Faktor SBY, dan apa yang kita kenal dengan istilah Tsunami SBY.

Dengan kondisi demikian, SBY melihat siapapun wakilnya yang akan disandingkan, Beliau telah berkeyakinan akan tetap bisa melaju ke singgasana Istana untuk keduakalinya, walaupun resistensi dan penolakan akan timbul sekalipun dari para partai yang akan berkoalisi dengan demokrat.

2. Faktor SBY ingin melepaskan diri dari campur tangan partai politik dalam memimpin pemerintahan

Dengan diambilnya kalangan nonpartai sebagai cawapres SBY, kita menyaksikan banyaknya tanggapan dari kalangan pengurus partai demokrat di media massa yang memberikan alasan, bahwa mengenai cawapres SBY, partai demokrat menyerahkan sepenuhnya kepada SBY untuk menentukannya dan ini sekaligus adalah untuk memperkuat sistem presidential sebagai sistem ketatanegaraan kita.

Dari pernyataan berbagai kalangan pengurus demokrat tersebut, dapat disikapi, sebenarnya ini menunjukkan bahwa SBY dalam kepemimpinannya lima tahun kedepan tidak ingin terlalu banyak campur tangan dari pihak lain terutama dari pihak parpol yang berkoalisi untuk mempengaruhi keleluasaan dalam membuat kebijakan dan mencampuri aksestabilitas SBY dalam memimpin kekuasaan negara dan pemerintah Indonesia.

3. Gaya kepemimpinan SBY

Gaya kepemimpinan SBY yang berlatar belakang militer yang mengedepankan sistem komando dan formalistik. Walaupun SBY telah lama menyesuaikan diri dengan kepemimpinan sipil yang egaliter dan demokratis tetapi tentunya budaya militer sebagai dasar pembentukan karakter kepemimpinan SBY tidak bisa hilang begitu saja. Hal ini dapat kita lihat beberapa contoh kasus gaya kepemimpinan militeristik SBY yang masih melekat, seperti beberapakali memarahi menterinya di depan umum. Kemudian beberapa kasus disharmonisasi SBY dengan JK yang terjadi karena kasus yang tidak substansial misalnya masalah protokoler, kinerja JK yang dianggap melewati kewenangannya, dsb.

Semua itu muaranya adalah masalah karakter, dan gaya kepemipinan seseorang, sehingga SBY banyak dianggap oleh beberapa kalangan sebagai antikritik dan mewarisi semangat feodalisme.

Apakah faktor gaya kepemimpinan ini menjadi salah satu alasan SBY memilih Boediono yang kalem, mungkin saja bisa jadi.

4. Psikologi kepemimpinan SBY

Kita menyaksikan selama empat setengah tahun duet SBY-JK belakangan ini banyak sekali isu yang beredar tentang ketidakharmonisan SBY dengan JK, ketidakharmonisan ini tentunya muncul akibat kekuatan yang dimiliki oleh JK yang secara struktural memiliki kekuatan di parlemen lewat partai Golkar dan JK yang sekaligus sebagai Ketua Umum Partai Golkar, kemudian ditambah pribadi dan gaya kepemimpinan JK sendiri yang lugas dan cepat dalam mengambil keputusan (bisa jadi warisan kepemimpinan saudagar) sehingga JK sebagai penyeimbang kekurangan SBY memunculkan kesan adanya kepemimpinan ganda bahkan JK oleh beberapa tokoh dilabeli dengan “The Real Presiden”. Tentunya untuk lima tahun kedepan SBY tidak ingin pengalaman pada periode pertama kepemimpinannya terulang kembali, sehingga SBY mengambil wakilnya yang akan diprediksikan sesuai dengan karakter dan gaya kepemimpinan SBY seperti presentasi Boediono yang akan dapat memberikan rasa nyaman dalam bekerja dan mententramkan psikologis kepemimpinan SBY.

5. Budaya politik SBY yang berlatar belakang budaya Jawa.

Kajian budaya politik yang berkembang di Indonesia, secara garis besarnya dipengaruhi oleh dua aliran budaya politik yakni budaya politik pesisir dan budaya politik pedalaman yang keduanya memiliki perbedaan yang sangat tajam. Budaya politik pesisir diwakili oleh daerah daerah yang berada diluar jawa yang memiliki karakteristik demokratis dan egaliter, sedangkan budaya politik pedalaman yang dipresentasikan oleh daerah Jawa memiliki karakteristik hierarkis dan elitis.

Dari pengaruh dua budaya politik yang sangat kontras ini, maka tidaklah heran jika perjalanan sejarah kepemimpinan bangsa sering terjadi Disharmonis terutama jika terjadi kombinasi antara dua budaya politik tadi, seperti Soekarno-Hatta yang juga pecah ditengah jalan, untuk fenomena pengalaman SBY – JK selama ini, bisa jadi faktor budaya politik ini menjadikan alasan SBY untuk menggandeng Boediono yang juga berasal dari daerah Jawa Timur sebagai pendampingnya.

6. Faktor Objektif

5 faktor diatas mungkin dapat dianggap sebagai faktor Subjektifitas, faktor objektifnya, saya melihat Boediono yang merupakan ahli ekonomi dan kinerjanya selama ini dianggap cukup mampu dan berhasil membawa ekonomi Indonesia terhindar dari krisis Global, akan dianggap mampu untuk menggantikan peran Jusuf Kalla yang dianggap oleh berbagai kalangan selama ini banyak memberikan kontribusi positif bagi ekonomi bangsa.

Karena duet SBY – JK selama ini sering dianggap sebagai kombinasi ideal dalam tataran pembangunan Indonesia yang saling melengkapi kekurangan yang ada diantara keduanya, seperti, SBY mepresentasikan menjaga persatuan dan ketahanan bangsa, penegakkan hukum dan hubungan luar negari sedangkan JK mempresentasikan penguatan ekonomi masyarakat, kesejahteraan rakyat dan perekat kesatuan bangsa. Maka untuk menggantikan sosok JK itulah mengapa SBY memilih Boediono.

Namun sepertinya Boediono hanya bisa mempresentasikan faktor ekonominya saja yang terdapat pada kapasitas JK, faktor lain yang ada pada JK seperti peran negosiasi dan diplomasinya dalam mendamaikan berbagai kegiatan separatis yang muncul diberbagai daerah (seperti Aceh, Maluku, Poso), naluri dan prediksi JK dalam mengatasi persolan ekonomi bangsa sepertinya belum tergambar dalam sosok Boediono.

7. Faktor Strategi Politik dan Masa Depan Partai  Demokrat

Diambilnya Boediono dari kalangan profesional (non partai) sebagai pendamping SBY,  hal ini  tentunya juga ada kaitannya dengan kalkulasi masa depan partai demokrat.

Kita pahami bersama tumbuh besarnya partai demokrat menjadi partai papan atas dipercaturan politik Indonesia tidak terlepas dari figur SBY, tanpa memperkecil keberadaan pengurus partai demokrat lainnya, bisa dikatakan partai demokrat adalah SBY. Pada pemilu presiden 2009 – 2014 jika SBY dan pasangannya terpilih, maka ini adalah periode terakhir kepemimpinan SBY sebagai Presiden. Tentunya Partai demokrat juga  memperhitungkan masa depan eksistensi dan mempertahankan prestasi partai demokrat pasca 2014 setelah SBY tak akan bisa lagi dicalonkan menjadi Presiden, maka disinilah terjadi kalkulasi politik untuk seorang wakil presiden.

Jika calon wakil presiden diambil dari kalangan partai, bisa jadi untuk pemilu 2014 Partai Demokrat akan berbagi porsi keberhasilan/Citra partai/kegagalan dengan partai dari gerbong sang wakil presiden, maka disini akan terjadi sharing popularitas partai demokrat dengan partai sang wapres, apalagi  jika figur yang akan dijagokan untuk pemilu berikutnya tidak ada figur yang menandingi setara citra SBY.

Jika calon wakil presiden diambil dari kalangan profesional/independen/non partisan, maka partai demokrat akan mendapatkan citra utuh (berhasil/gagal) dari masyarakat  akan eksistensi SBY yang mempresentasikan partai demokrat, maka suara partai demokrat untuk pemilu berikutnya, jika tidak akan merosot paling tidak, tidak akan  berbagi dengan partai sang wapres yang tidak memiliki kendaran partai politik.

silahkan para sobat mengomentari/menambahkan faktor lainnya…

Ini adalah foto Presiden Barack Obama dan Wakilnya Joe Biden saat makan siang dengan burger’s di sebuah Mall (Harlington) Virginia….

Paspampresnya dimana yaa ??…:)

mhhhhh………..

obama_burger_01

Foto : Time

The full transcript of Obama’s third press conference on April 29, 2009:

OBAMA: Please, be seated. Before we begin tonight, I just want to provide everyone with a few brief updates on some of the challenges we’re dealing with right now.

First, we are continuing to closely monitor the emergency cases of the H1N1 flu virus throughout the United States. As I said this morning, this is obviously a very serious situation, and every American should know that their entire government is taking the utmost precautions and preparations.

Our public health officials have recommended that schools with confirmed or suspected cases of this flu strongly consider temporarily closing. And if more schools are forced to close, we’ve recommended that both parents and businesses think about contingency plans if their children do have to stay home.

I’ve requested an immediate $1.5 billion in emergency funding from Congress to support our ability to monitor and track this virus and to build our supply of antiviral drugs and other equipment. And we will also ensure that those materials get to where they need to be as quickly as possible.

And, finally, I’ve asked every American to take the same steps you would take to prevent any other flu: keep your hands washed; cover your mouth when you cough; stay home from work if you’re sick; and keep your children home from school if they’re sick.

We’ll continue to provide regular updates to the American people as we receive more information. And everyone should rest assured that this government is prepared to do whatever it takes to control the impact of this virus.

The second thing I’d like to mention is how gratified I am that the House and the Senate passed a budget resolution today that will serve as an economic blueprint for this nation’s future.
r-obama-presser-huge

I especially want to thank Leader Reid, Speaker Pelosi, all of the members of Congress who worked so quickly and effectively to make this blueprint a reality.

This budget builds on the steps we’ve taken over the last 100 days to move this economy from recession to recovery and ultimately to prosperity.

We began by passing a recovery act that has already saved or created over 150,000 jobs and provided a tax cut to 95 percent of all working families. We passed a law to provide and protect health insurance for 11 million American children whose parents work full time. And we launched a housing plan that has already contributed to a spike in the number of homeowners who are refinancing their mortgages, which is the equivalent of another tax cut.

But, even as we clear away the wreckage of this recession, I’ve also said that we can’t go back to an economy that’s built on a pile of sand, on inflated home prices and maxed-out credit cards, on overleveraged banks and outdated regulations that allow recklessness of a few to threaten the prosperity of all.

We have to lay a new foundation for growth, a foundation that will strengthen our economy and help us compete in the 21st century. And that’s exactly what this budget begins to do.

It contains new investments in education that will equip our workers with the right skills and training, new investments in renewable energy that will create millions of jobs and new industries, new investments in health care that will cut costs for families and businesses, and new savings that will bring down our deficit.

I also campaigned on the promise that I would change the direction of our nation’s foreign policy. And we’ve begun to do that, as well. We’ve begun to end the war in Iraq, and we forged with our NATO allies a new strategy to target Al Qaida in Afghanistan and Pakistan.

OBAMA: We have rejected the false choice between our security and our ideals by closing the detention center at Guantanamo Bay and banning torture without exception.

And we’ve renewed our diplomatic efforts to deal with challenges ranging from the global economic crisis to the spread of nuclear weapons.

So I think we’re off to a good start, but it’s just a start. I’m proud of what we’ve achieved, but I’m not content. I’m pleased with our progress, but I’m not satisfied.

Millions of Americans are still without jobs and homes, and more will be lost before this recession is over. Credit is still not flowing nearly as freely as it should. Countless families and communities touched by our auto industry still face tough times ahead. Our projected long-term deficits are still too high, and government is still not as efficient as it needs to be.

We still confront threats ranging from terrorism to nuclear proliferation, as well as pandemic flu. And all this means you can expect an unrelenting, unyielding effort from this administration to strengthen our prosperity and our security in the second hundred days, in the third hundred days, and all of the days after that.

You can expect us to work on health care reform that will bring down costs while maintaining quality, as well as energy legislation that will spark a clean-energy revolution. I expect to sign legislation by the end of this year that sets new rules of the road for Wall Street, rules that reward drive and innovation, as opposed to short-cuts and abuse.

And we will also work to pass legislation that protects credit card users from unfair rate hikes and abusive fees and penalties. We’ll continue scouring the federal budget for savings and target more programs for elimination. And we will continue to pursue procurement reform that will greatly reduce the no-bid contracts that have wasted so many taxpayer dollars.

So we have a lot of work left to do. It’s work that will take time, and it will take effort. But the United States of America, I believe, will see a better day.

We will rebuild a stronger nation, and we will endure as a beacon for all of those weary travelers beyond our shores who still dream that there’s a place where all of this is possible. I want to thank the American people for their support and their patience during these trying times, and I look forward to working with you in the next hundred days, in the hundred days after that, all of the hundreds of days to follow to make sure that this country is what it can be.

And with that, I will start taking some questions.

And I’ll start with you, Jennifer.

QUESTION: Thank you, Mr. President. With the flu outbreak spreading and worsening, can you talk about whether you think it’s time to close the border with Mexico and whether — under what conditions you might consider quarantining, when that might be appropriate?

OBAMA: Well, first of all, as I said, this is a cause for deep concern, but not panic. And I think that we have to make sure that we recognize that how we respond intelligently, systematically, based on science and what public health officials have to say, will determine in large part what happens.

I’ve consulted with our public health officials extensively on a day-to-day basis, in some cases an hour-to-hour basis. At this point, they have not recommended a border closing. From their perspective, it would be akin to closing the barn door after the horses are out, because we already have cases here in the United States.

We have ramped up screening efforts, as well as made sure that additional supplies are there on the border so that we can prepare in the eventuality that we have to do more than we’re doing currently.

But the most important thing right now that public health officials have indicated is that we treat this the same way that we would treat other flu outbreaks, just understanding that, because this is a new strain, we don’t yet know how it will respond.

So we have to take additional precautions, essentially, take out some additional insurance. Now, that’s why I asked for an additional $1.5 billion, so that we can make sure that everything is in place should a worst-case scenario play out.

I do want to compliment Democrats and Republicans who worked diligently back in 2005 when the bird flu came up. I was part of a group of legislators who worked with the Bush administration to make sure that we had beefed up our infrastructure and our stockpiles of antiviral drugs, like Tamiflu.

OBAMA: And I think the Bush administration did a good job of creating the infrastructure so that we can respond. For example, we’ve got 50 million courses of anti-viral drugs in the event that they’re needed.

So, the government is going to be doing everything that we can. We’re coordinating closely with state and local officials. Secretary Napolitano at the Department of Homeland Security, newly installed Secretary Sebelius of Health and Human Services, our acting CDC director, they are all on the phone on a daily basis with all public health officials across the states to coordinate and make sure that there’s timely reporting, that if — as new cases come up, that we’re able to track them effectively, that we’re allocating resources so that they’re in place.

The key now I think is to make sure that we’re maintaining great vigilance, that everybody responds appropriately when cases do come up, and individual families start taking very sensible precautions that — can make a huge difference.

So wash your hands when you shake hands. Cover your mouth when you cough. I know it sounds trivial, but it makes a huge difference. If you are sick, stay home. If your child is sick, keep them out of school.

To — if you are feeling certain flu symptoms, don’t get on an airplane, don’t get on a — any system of public transportation where you’re confined and you could potentially spread the virus.

So those are the steps that I think we need to take right now. But understand that because this is a new strain, we have to be cautious. If this was a strain that we were familiar with, then we might have to — then I think we wouldn’t see the kind of alert levels that we’re seeing, for example, with the World Health Organization. OK?

Deb Price of Detroit News. Where’s Deb?

Good to see you.

QUESTION: Thank you, Mr. President.

On the domestic auto industry, have you determined that bankruptcy is the only option to restructure Chrysler? And do you believe that the deep cuts in plant closings that were outlined this week by General Motors are sufficient? OBAMA: Let me speak to Chrysler first because the clock is ticking on Chrysler coming up with a plan. I am actually very hopeful, more hopeful than I was 30 days ago, that we can see a resolution that maintains a viable Chrysler auto company out there.

What we’ve seen is the unions have made enormous sacrifices on top of sacrifices that they had previously made. You’ve now seen the major debt holders come up with a set of potential concessions that they can live with.

All of that promises the possibility that you can get a Fiat- Chrysler merger and that you have an ongoing concern. The details have not yet been finalized, so I don’t know to jump the gun. But I am feeling more optimistic than I was about the possibilities of that getting done.

With respect to GM, we’re going to have another 30 days. They’re still in the process of presenting us with their plans. But I’ve always said that GM has a lot of good product there and if they can get through these difficult times, and engage in some of the very difficult choices that they’ve already made, that they can emerge a strong, competitive, viable company.

And that’s my goal in this whole process. I would love to get the U.S. government out of the auto business as quickly as possible. We have a circumstance in which a bad recession compounded some great weaknesses already in the auto industry.

And it was my obligation and continues to be my obligation to make sure that any taxpayer dollars that are in place to support the auto industry are aimed not at short-term fixes that continue these companies as wards of the state, but rather institutes the kind of restructuring that allows them to be strongly competitive in the future. I think we’re moving in that direction.

Last point, you asked about Chrysler bankruptcy. It was the prudent and appropriate thing for Chrysler to do to engage in the filings that they — that received some notice a while back because they had to prepare for possible contingencies.

It’s not clear that they’re going to have to use it. The fact that the major debt-holders appear ready to make concessions means that, even if they ended up having to go through some sort of bankruptcy, it would be a very quick type of bankruptcy and they could continue operating and emerge on the other side in a much stronger position.

So my goal is to make sure that we’ve got a strong, viable, competitive auto industry. I think some tough choices are being made. There’s no denying that there’s significant hardship involved, particularly for the workers and the families in these communities.

And we’re going to be coming behind whatever plan is in place to make sure that the federal government is providing as much assistance as we have to ensure that people are landing back on their feet, even as we strengthen these core businesses. Jake? Where’s Jake? There he is.

QUESTION: Thank you, Mr. President. You’ve said in the past that waterboarding, in your opinion, is torture. Torture is a violation of international law and the Geneva Conventions. Do you believe that the previous administration sanctioned torture?

OBAMA: What I’ve said — and I will repeat — is that waterboarding violates our ideals and our values. I do believe that it is torture. I don’t think that’s just my opinion; that’s the opinion of many who’ve examined the topic. And that’s why I put an end to these practices.

I am absolutely convinced it was the right thing to do, not because there might not have been information that was yielded by these various detainees who were subjected to this treatment, but because we could have gotten this information in other ways, in ways that were consistent with our values, in ways that were consistent with who we are.

I was struck by an article that I was reading the other day talking about the fact that the British during World War II, when London was being bombed to smithereens, had 200 or so detainees. And Churchill said, “We don’t torture,” when the entire British — all of the British people were being subjected to unimaginable risk and threat.

And then the reason was that Churchill understood, you start taking short-cuts, over time, that corrodes what’s — what’s best in a people. It corrodes the character of a country.

And — and so I strongly believed that the steps that we’ve taken to prevent these kinds of enhanced interrogation techniques will make us stronger over the long term and make us safer over the long term because it will put us in a — in a position where we can still get information.

In some cases, it may be harder, but part of what makes us, I think, still a beacon to the world is that we are willing to hold true to our ideals even when it’s hard, not just when it’s easy.

At the same time, it takes away a critical recruitment tool that Al Qaida and other terrorist organizations have used to try to demonize the United States and justify the killing of civilians.

And it makes us — it puts us in a much stronger position to work with our allies in the kind of international, coordinated intelligence activity that can shut down these networks.

So this is a decision that I’m very comfortable with. And I think the American people over time will recognize that it is better for us to stick to who we are, even when we’re taking on an unscrupulous enemy.

OK?

QUESTION: (OFF-MIKE)

OBAMA: I’m sorry?

QUESTION: (OFF-MIKE) sanctioned torture?

OBAMA: I believe that waterboarding was torture. And I think that the — whatever legal rationales were used, it was a mistake.

OBAMA: Mark Knoller?

QUESTION: Thank you, sir. Let me follow up, if I may, on Jake’s question. Did you read the documents recently referred to by former Vice President Cheney and others saying that the use of so-called “enhanced interrogation techniques” not only protected the nation but saved lives?

And if part of the United States were under imminent threat, could you envision yourself ever authorizing the use of those enhanced interrogation techniques?

OBAMA: I have read the documents. Now they have not been officially declassified and released. And so I don’t want to go to the details of them. But here’s what I can tell you, that the public reports and the public justifications for these techniques, which is that we got information from these individuals that were subjected to these techniques, doesn’t answer the core question.

Which is, could we have gotten that same information without resorting to these techniques? And it doesn’t answer the broader question, are we safer as a consequence of having used these techniques?

So when I made the decision to release these memos and when I made the decision to bar these practices, this was based on consultation with my entire national security team, and based on my understanding that ultimately I will be judged as commander-in-chief on how safe I’m keeping the American people.

That’s the responsibility I wake up with and it’s the responsibility I go to sleep with. And so I will do whatever is required to keep the American people safe. But I am absolutely convinced that the best way I can do that is to make sure that we are not taking short cuts that undermine who we are.

And there have been no circumstances during the course of this first 100 days in which I have seen information that would make me second guess the decision that I have made. OK?

Chuck Todd.

QUESTION: Thank you, Mr. President. I want to move to Pakistan. Pakistan appears to be at war with the Taliban inside their own country. Can you reassure the American people that if necessary America could secure Pakistan’s nuclear arsenal and keep it from getting into the Taliban’s hands or, worst case scenario, even al Qaeda’s hands?

OBAMA: I’m confident that we can make sure that Pakistan’s nuclear arsenal is secure. Primarily, initially, because the Pakistani army, I think, recognizes the hazards of those weapons falling into the wrong hands. We’ve got strong military-to-military consultation and cooperation.

I am gravely concerned about the situation in Pakistan, not because I think that they’re immediately going to be overrun and the Taliban would take over in Pakistan. I’m more concerned that the civilian government there right now is very fragile and don’t seem to have the capacity to deliver basic services: schools, health care, rule of law, a judicial system that works for the majority of the people.

And so as a consequence, it is very difficult for them to gain the support and the loyalty of their people. So we need to help Pakistan help Pakistanis. And I think that there’s a recognition increasingly on the part of both the civilian government there and the army that that is their biggest weakness.

On the military side, you’re starting to see some recognition just in the last few days that the obsession with India as the mortal threat to Pakistan has been misguided, and that their biggest threat right now comes internally. And you’re starting to see the Pakistani military take much more seriously the armed threat from militant extremists.

We want to continue to encourage Pakistan to move in that direction. And we will provide them all of the cooperation that we can. We want to respect their sovereignty, but we also recognize that we have huge strategic interests, huge national security interests in making sure that Pakistan is stable and that you don’t end up having a nuclear-armed militant state.

QUESTION: But in a worst-case scenario…

OBAMA: I’m not going to engage in…

QUESTION: (OFF-MIKE) military could secure this nuclear…

OBAMA: I’m not going to engage in — in hypotheticals of that sort. I feel confident that that nuclear arsenal will remain out of militant hands.

OK, Jeff Mason?

QUESTION: Thank you, Mr. President. One of the biggest changes you’ve made in the first 100 days regarding foreign policy has had to do with Iraq. But do the large-scale — there’s large-scale violence there right now. Does that affect the U.S.’s strategy at all for withdrawal? And could it affect the timetable that you’ve set out for troops?

OBAMA: Well, first of all, I think it’s important to note that, although you’ve seen some spectacular bombings in Iraq that are a — a legitimate cause of concern, civilian deaths, incidents of bombings, et cetera, remain very low relative to what was going on last year, for example.

And so you haven’t seen the kinds of huge spikes that you were seeing for a time. The political system is holding and functioning in Iraq.

Part of the reason why I called for a gradual withdrawal as opposed to a precipitous one was precisely because more work needs to be done on the political side to further isolate whatever remnants of Al Qaida in Iraq still exists.

And I’m very confident that, with our commander on the ground, General Odierno, with Chris Hill, our new ambassador, having been approved and already getting his team in place, that they are going to be able to work effectively with the Maliki government to create the conditions for an ultimate transfer after the national elections.

But there’s some — some serious work to do on making sure that how they divvy up oil revenues is ultimately settled, what the provincial powers are and boundaries, the relationship between the Kurds and the central government, the relationship between the Shia and the Kurds. Are they incorporating effectively Sunnis, Sons of Iraq, into the structure of the armed forces in a way that’s equitable and just?

Those are all issues that have not been settled the way they need to be settled. And what we’ve done is, we’ve provided sufficient time for them to get that work done, but we’ve got to keep the pressure up, not just on the military side, but on the diplomatic and development sides, as well.

Chip Reid?

QUESTION: Thank you, Mr. President. On Senator Specter’s switch to the Democratic Party, you said you were thrilled; I guess nobody should be surprised about that.

But how big a deal is this, really? Some Republicans say it is huge. They believe it’s a game-changer. They say that, if you get the 60 votes in the Senate, that you will be able to ride roughshod over any opposition and that we’re on the verge of, as one Republican put it, “one-party rule.”

Do you see it that way? And, also, what do you think his switch says about the state of the Republican Party?

OBAMA: Well, first of all, I think very highly of Arlen Specter . I think he’s got a record of legislative accomplishment that is as good as any member of the Senate.

And I think he’s always had a strong independent streak. I think that was true when he was a Republican; I think that will be true when he’s a Democrat.

He was very blunt in saying I couldn’t count on him to march lockstep on every single issue. And so he’s going to still have strong opinions, as many Democrats in the Senate do.

I’ve been there. It turns out, all the senators have very strong opinions. And I don’t think that’s going to change.

I do think that having Arlen Specter in the Democratic caucus will liberate him to cooperate on critical issues, like health care, like infrastructure and job creation, areas where his inclinations were to work with us, but he was feeling pressure not to.

And I think the vote on the recovery act was a classic example. Ultimately, he thought that was the right thing to do. And he was fiercely berated within his own party at the time for having taken what I consider to be a very sensible step. So — so I think it’s, overall, positive.

OBAMA: Now, I am under no illusions that suddenly I’m going to have a rubber-stamp Senate. I’ve got Democrats who don’t agree with me on everything, and that’s how it should be.

Congress is a co-equal branch of government. Every senator who’s there, whether I agree with them or disagree with them, I think truly believes that they are doing their absolute best to represent their constituencies.

And we’ve got regional differences, and we’ve got some parts of the country that are affected differently by certain policies. And those have to be respected, and there’s going to have to be compromise and give-and-take on all of these issues.

I do think that, to my Republican friends, I want them to realize that me reaching out to them has been genuine. I can’t sort of define bipartisanship as simply being willing to accept certain theories of theirs that we tried for eight years and didn’t work and the American people voted to change.

But there are a whole host of areas where we can work together. And I’ve said this to people like Mitch McConnell . I said, look, on health care reform, you may not agree with me that I — we should have a public plan. That may be philosophically just too much for you to swallow.

On the other hand, there are some areas like reducing the costs of medical malpractice insurance where you do agree with me. If I’m taking some of your ideas and giving you credit for good ideas, the fact that you didn’t get 100 percent can’t be a reason every single time to oppose my position.

And if that is how bipartisanship is defined, a situation in which basically, wherever there are philosophical differences, I have to simply go along with ideas that have been rejected by the American people in a historic election, you know, we’re probably not going to make progress.

If, on the other hand, the definition is that we’re open to each other’s ideas, there are going to be differences, the majority will probably be determinative when it comes to resolving just hard, core differences that we can’t resolve, but there is a whole host of other areas where we can work together, then I think we can make progress.

QUESTION: Is the Republican Party in the desperate straits that Arlen Specter seems to think it is? OBAMA: You know, politics in America changes very quick. And I’m a big believer that things are never as good as they seem and never as bad as they seem.

You’re talking to a guy who was 30 points down in the polls during a — a primary in Iowa. So — so I never — I don’t believe in crystal balls.

I do think that our administration has taken some steps that have restored confidence in the American people that we’re moving in the right direction and that simply opposing our approach on every front is probably not a good political strategy.

Ed Henry?

QUESTION: Thank you, Mr. President. In a couple of weeks, you’re going to be giving the commencement at Notre Dame. And, as you know, this has caused a lot of controversy among Catholics who are opposed to your position on abortion.

As a candidate, you vowed that one of the very things you wanted to do was sign the Freedom of Choice Act, which, as you know, would eliminate federal, state and local restrictions on abortion. And at one point in the campaign when asked about abortion and life, you said that it was above — quote, “above my pay grade.”

Now that you’ve been president for 100 days, obviously, your pay grade is a little higher than when you were a senator.

(LAUGHTER)

Do you still hope that Congress quickly sends you the Freedom of Choice Act so you can sign it?

OBAMA: You know, the — my view on — on abortion, I think, has been very consistent. I think abortion is a moral issue and an ethical issue.

I think that those who are pro-choice make a mistake when they — if they suggest — and I don’t want to create straw men here, but I think there are some who suggest that this is simply an issue about women’s freedom and that there’s no other considerations. I think, look, this is an issue that people have to wrestle with and families and individual women have to wrestle with.

OBAMA: The reason I’m pro-choice is because I don’t think women take that — that position casually. I think that they struggle with these decisions each and every day. And I think they are in a better position to make these decisions ultimately than members of Congress or a president of the United States, in consultation with their families, with their doctors, with their doctors, with their clergy.

So — so that has been my consistent position. The other thing that I said consistently during the campaign is I would like to reduce the number of unwanted presidencies that result in women feeling compelled to get an abortion, or at least considering getting an abortion, particularly if we can reduce the number of teen pregnancies, which has started to spike up again.

And so I’ve got a task force within the Domestic Policy Council in the West Wing of the White House that is working with groups both in the pro-choice camp and in the pro-life camp, to see if we can arrive at some consensus on that.

Now, the Freedom of Choice Act is not highest legislative priority. I believe that women should have the right to choose. But I think that the most important thing we can do to tamp down some of the anger surrounding this issue is to focus on those areas that we can agree on. And that’s — that’s where I’m going to focus.

Jeff Zeleny.

QUESTION: Thank you, Mr. President.

During these first 100 days, what has surprised you the most about this office? Enchanted you the most from serving in this office? Humbled you the most? And troubled you the most?

OBAMA: Now let me write this down.

(LAUGHTER)

OBAMA: I’ve got…

QUESTION: Surprised, troubled…

OBAMA: I’ve got — what was the first one?

QUESTION: Surprised.

OBAMA: Surprised. QUESTION: Troubled.

OBAMA: Troubled.

QUESTION: Enchanted.

OBAMA: Enchanted, nice.

(LAUGHTER)

QUESTION: And humbled.

OBAMA: And what was the last one, humbled?

QUESTION: Humbled. Thank you, sir.

OBAMA: All right. OK. Surprised. I am surprised compared to where I started, when we first announced for this race, by the number of critical issues that appear to be coming to a head all at the same time.

You know, when I first started this race, Iraq was a central issue, but the economy appeared on the surface to still be relatively strong. There were underlying problems that I was seeing with health care for families and our education system and college affordability and so forth, but obviously, I didn’t anticipate the worst economic crisis since the Great Depression.

And so, you know, the typical president, I think, has two or three big problems. We’ve got seven or eight big problems. And so we’ve had to move very quickly and I’m very proud of my team for the fact that we’ve been able to keep our commitments to the American people, to bring about change, while at the same time managing a whole host of issues that had come up that weren’t necessarily envisioned a year-and-a-half ago.

Troubled? I’d say less troubled, but, you know, sobered by the fact that change in Washington comes slow. That there is still a certain quotient of political posturing and bickering that takes place even when we’re in the middle of really big crises.

I would like to think that everybody would say, you know what, let’s take a time-out on some of the political games, focus our attention for at least this year, and then we can start running for something next year. And that hasn’t happened as much as I would have liked.

Enchanted? Enchanted. I will tell you that when I — when I meet our servicemen and -women, enchanted is probably not the word I would use.

(LAUGHTER)

OBAMA: But I am so profoundly impressed and grateful to them for what they do. They’re really good at their job. They are willing to make extraordinary sacrifices on our behalf. They do so without complaint. They are fiercely loyal to this country.

And, you know, the more I interact with our servicemen and women, from the top brass down to the lowliest private, I’m just — I’m grateful to them.

Humbled by the — humbled by the fact that the presidency is extraordinarily powerful, but we are just part of a much broader tapestry of American life, and there are a lot of different power centers. And so I can’t just press a button and suddenly have the bankers do exactly what I want or, you know, turn on a switch and suddenly, you know, Congress falls in line.

And so, you know, what you do is to — is to make your best arguments, listen hard to what other people have to say, and coax folks in the right direction.

This metaphor has been used before, but the ship of state is an ocean liner. It’s not a speedboat. And so the way we are constantly thinking about this issue, of how to bring about the changes that the American people need, is to — is to say, if we can move this big battleship a few degrees in a different direction, you may not see all the consequences of that change a week from now or three months from now, but 10 years from now or 20 years from now, our kids will be able to look back and say, “That was when we started getting serious about clean energy. That’s when health care started to become more efficient and affordable. That’s when we became serious about raising our standards in education.”

And — and so I — I have a much longer time horizon than I think you do when you’re a candidate or if you’re listening, I think, to the media reportage on a day-to-day basis.

And I’m humbled, last, by the American people who have shown extraordinary patience and I think a recognition that we’re not going to solve all of these problems overnight.

OK. Lori Montenegro?

QUESTION: Thank you, Mr. President. Mr. President, when you met with the Hispanic Caucus a few weeks ago, reports came out that the White House was planning to have a forum to talk about immigration and bring it to the forefront.

Going forward, my question is, what is your strategy to try to have immigration reform? And are you still on the same timetable to have it accomplished in the first year of your presidency?

And, also, I’d like to know if you’re going to reach out to Senator John McCain , who is Republican and in the past has favored immigration reform?

OBAMA: Well, we reach out to — to Senator McCain on a whole host of issues. He has been a leader on immigration reform. I think he has had the right position on immigration reform. And I would love to partner with him and others on what is going to be a critical issue. We’ve also worked with Senator McCain on what I think is a terrific piece of legislation that he and Carl Levin have put together around procurement reform. We want that moved, and we’re going to be working hard with them to get that accomplished.

What I told the Congressional Hispanic Caucus is exactly what I said the very next day in a town hall meeting and what I will continue to say publicly, and that is we want to move this process.

We can’t continue with a broken immigration system. It’s not good for anybody. It’s not good for American workers. It’s dangerous for Mexican would-be workers who are trying to cross a dangerous border.

OBAMA: It is — it is putting a strain on border communities, who oftentimes have to deal with a host of undocumented workers. And it keeps those undocumented workers in the shadows, which means they can be exploited at the same time as they’re depressing U.S. wages.

So, what I hope to happen is that we’re able to convene a working group, working with key legislators like Luis Gutierrez and Nydia Velazquez and others to start looking at a framework of how this legislation might be shaped.

In the meantime, what we’re trying to do is take some core — some key administrative steps to move the process along to lay the groundwork for legislation. Because the American people need some confidence that if we actually put a package together, we can execute.

So Janet Napolitano , who has great knowledge of this because of having been a border governor, she’s already in the process of reviewing and figuring out how can we strengthen our border security in a much more significant way than we’re doing.

If the American people don’t feel like you can secure the borders, then it’s hard to strike a deal that would get people out of the shadows and on a pathway to citizenship who are already here, because the attitude of the average American is going to be, well, you’re just going to have hundreds of thousands of more coming in each year.

On the other hand, showing that there is a more thoughtful approach than just raids of a handful of workers as opposed to, for example, taking seriously the violation of companies that sometimes are actively recruiting these workers to come in. That’s again something we can start doing administratively.

So what we want to do is to show that we are competent and getting results around immigration, even on the structures that we already have in place, the laws that we already have in place, so that we’re building confidence among the American people that we can actually follow through on whatever legislative approach emerges. OK?

QUESTION: (OFF-MIKE)

OBAMA: I see the process moving this first year. And I’m going to be moving it as quickly as I can. I’ve been accused of doing too much. We are moving full steam ahead on all fronts.

Ultimately, I don’t have control of the legislative calendar, and so we’re going to work with legislative leaders to see what we can do.

Andre Showell? There you go.

QUESTION: Thank you, Mr. President.

As the entire nation tries to climb out of this deep recession, in communities of color, the circumstances are far worse. The black unemployment rate, as you know, is in the double digits. And in New York City, for example, the black unemployment rate for men is near 50 percent.

My question to you tonight is given this unique and desperate circumstance, what specific policies can you point to that will target these communities and what’s the timetable for us to see tangible results?

OBAMA: Well, keep in mind that every step we’re taking is designed to help all people. But, folks who are most vulnerable are most likely to be helped because they need the most help.

So when we passed the Recovery Act, for example, and we put in place provisions that would extend unemployment insurance or allow you to keep your health insurance even if you’ve lost your job, that probably disproportionately impacted those communities that had lost their jobs. And unfortunately, the African-American community and the Latino community are probably overrepresented in those ranks.

When we put in place additional dollars for community health centers to ensure that people are still getting the help that they need, or we expand health insurance to millions more children through the Children’s Health Insurance Program, again, those probably disproportionately impact African-American and Latino families simply because they’re the ones who are most vulnerable. They have got higher rates of uninsured in their communities.

So my general approach is that if the economy is strong, that will lift all boats as long as it is also supported by, for example, strategies around college affordability and job training, tax cuts for working families as opposed to the wealthiest that level the playing field and ensure bottom-up economic growth.

And I’m confident that that will help the African-American community live out the American dream at the same time that it’s helping communities all across the country.

Michael Scherer of TIME?

QUESTION: Thank you, Mr. President. During the campaign, you criticized President Bush’s use of the state secrets privilege, but U.S. attorneys have continued to argue the Bush position in three cases in court. How exactly does your view of state secrets differ from President Bush’s? And do you believe presidents should be able to derail entire lawsuits about warrantless wiretapping or rendition if classified information is involved?

OBAMA: I actually think that the state secret doctrine should be modified. I think right now it’s overbroad.

But keep in mind what happens, is we come in to office. We’re in for a week, and suddenly we’ve got a court filing that’s coming up. And so we don’t have the time to effectively think through, what exactly should an overarching reform of that doctrine take? We’ve got to respond to the immediate case in front of us.

There — I think it is appropriate to say that there are going to be cases in which national security interests are genuinely at stake and that you can’t litigate without revealing covert activities or classified information that would genuinely compromise our safety.

But searching for ways to redact, to carve out certain cases, to see what can be done so that a judge in chambers can review information without it being in open court, you know, there should be some additional tools so that it’s not such a blunt instrument.

And we’re interested in pursuing that. I know that Eric Holder and Greg Craig, my White House counsel, and others are working on that as we speak.

STAFF: Last question.

OBAMA: Jonathan Weisman, you get — you get the last word. Where are you? There you are.

QUESTION: Thank you, sir. You are currently the chief shareholder of a couple of very large mortgage giants. You’re about to become the chief shareholder of a car company, probably two.

And I’m wondering, what kind of shareholder are you going to be? What is the government’s role as the keeper of public — public trust and bonds in — in soon-to-be public companies again? Thank you.

OBAMA: Well, I think our — our first role should be shareholders that are looking to get out. You know, I don’t want to run auto companies. I don’t want to run banks. I’ve got two wars I’ve got to run already. I’ve got more than enough to do. So the sooner we can get out of that business, the better off we’re going to be.

We are in unique circumstances. You had the potential collapse of the financial system, which would have decimated our economy, and so we had to step in.

As I’ve said before, I don’t agree with every decision that was made by the previous administration when it came to TARP, but the need for significant intervention was there, and it was appropriate that we moved in.

With respect to the auto companies, I believe that America should have a functioning, competitive auto industry. I don’t think that taxpayers should simply put — attach an umbilical cord between the U.S. Treasury and the auto companies so that they are constantly getting subsidies, but I do think that helping them restructure at this unique period when sales — you know, the market has essentially gone from 14 million down to 9 million, I don’t think that there’s anything inappropriate about that.

My goal on all this is to help these companies make some tough decisions based on realistic assumptions about economic growth, about their market share, about what that market is going to look like, to prevent systemic risk that would affect everybody, and, as soon as their situations are stabilized and the economy is less fragile so that those systemic risks are diminished, to get out, find some private buyers, and…

QUESTION: (OFF-MIKE) products or services (OFF-MIKE)

OBAMA: I don’t think that we should micromanage, but I think that, like any investor, the American taxpayer has the right to scrutinize what’s being proposed and make sure that their money is not just being thrown down the drain.

And so, you know, we’ve got to strike a balance. I don’t want to be — I’m not an auto engineer. I don’t know how to create an affordable, well-designed plug-in hybrid. But I know that, if the Japanese can design an affordable, well-designed hybrid, then, doggone it, the American people should be able to do the same.

So my job is to ask the auto industry: Why is it you guys can’t do this? And, in some cases, they’re starting to do it, but they’ve got these legacy costs. You know, there are some terrific U.S. cars being made, both by Chrysler and G.M.

The question is, you know, give me a plan so that you’re building off your strengths and you’re projecting out to where that market is going to be. I actually think, if you look at the trends, that those auto companies that emerge from this crisis, when you start seeing the pent-up demand for autos coming back, they’re going to be in a position to really do well, globally, not just here in the United States.

So I just want to help them get there. But I want to disabuse people of this notion that somehow we enjoy, you know, meddling in the private sector, if — if you could tell me right now that, when I walked into this office that the banks were humming, that autos were selling, and that all you had to worry about was Iraq, Afghanistan, North Korea, getting health care passed, figuring out how to deal with energy independence, deal with Iran, and a pandemic flu, I would take that deal.

(LAUGHTER)

And — and that’s why I’m always amused when I hear these, you know, criticisms of, “Oh, you know, Obama wants to grow government.” No. I would love a nice, lean portfolio to deal with, but that’s not the hand that’s been dealt us.

And, you know, every generation has to rise up to the specific challenges that confront them. We happen to have gotten a big set of challenges, but we’re not the first generation that that’s happened to. And I’m confident that we are going to meet these challenges just like our grandparents and forbearers met them before. All right? Thank you, everybody.

The full transcript of Obama’s third press conference on April 29, 2009: OBAMA: Please, be seated. Before we begin tonight, I just want to provide everyone with a few brief updates on some of the cha…
The full transcript of Obama’s third press conference on April 29, 2009: OBAMA: Please, be seated. Before we begin tonight, I just want to provide everyone with a few brief updates on some of the cha…
Filed by Marcus Baram
(huffingtonpost)

Inu Kencana

Inu Kecana Syafi’ie, mantan dosen STPDN Jatinangor yang terkenal dengan penerbitan bukunya yang kontroversial “IPDN Undercover”.

Inu membidik satu kursi di Senayan melalui Partai Bulan Bintang Dapil Sumatera Barat 2. Duduk di urutan 4 (yang mustahil lolos jika menggunakan sistem nomor urut) ia berhasil memperoleh 4.369 suara. Inu mendulang banyak suara di kampung halamannya, Kota Payakumbuh 1.652 dan Limapuluh Kota 1.578.

Suara Inu nomor dua terbanyak setelah Nizar Dahlan yang memperoleh 8.708. Tapi perolehan PBB yang hanya 30.307 jauh dari harapan untuk sebuah kursi di DPR RI, 61.208 suara.
(Padangkini.com)

Sepertinya kepopuleran Inu Kencana Syafiie yang telah menggo-nasional, sangat jauh kalah populer dengan tokoh tokoh lokal seperti, Djufri, Yultekhnil, Leonardy Harmaini, Ermawati Tanjung, Arkadius, Zahara Hasni, Irdinansyah Tarmizi, Asli Chaidir, Trinda Farhan Satria, Rafdinal dan lainnya termasuk tokoh dari Jakarta sendiri seperti Jefry Geovanni, Fadli Zon, Indra Jaya Piliang, Adrian Maulana, dst… yang semuanya meraih suara diatas 10.000 suara….
mmmhhhh ….. :)
Kiranya Kegarangan Pak Inu tak segarang yang dipersepsikan oleh publik selama ini…….
ANJING MENGGONGGONG KAFILAH BERLALU
SELAMAT BERJUANG PAK INU
TAK SATU JALAN KE MEKAH…..
Semoga cita cita Pak Inu untuk mewujudkan mimpi mimpi indah itu tetap terwujud….

“…….Saya juga tidak ingin bapak terjebak ke dalam kelompok cendikia yang suka mengeneralisasi data dan permasalahan. Bukankah bapak yang mengajari kami untuk memandang setiap persoalan dengan mata hati, filosofi dan komprehensif yang berlandaskan pada etika, logika dan estetika?? Entahlah…….
Pak saya sekarang tertunduk lesu, kebanggan saya yang ada pada bapak selama ini menjadi semu, karena ngaur dan campur baurnya informasi dan cara komunikasi yang bapak gunakan, idealisme bapak untuk menegakkan aturan, membasmi perilaku yang menyimpang pada segenap tataran di lembaga IPDN menjadi tererosi dari cara bapak sendiri yang mengeneralisasi. Orang mulai bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan INU?
Saya berharap semoga Bapak diberi amanah dan kepercayaan untuk memimpin sebuah institusi, mudah-mudahan bisa memimpin IPDN (walaupun bapak tidak akan mengharapkannya, karena bapak bukanlah manusia yang haus jabatan, ini hanya harapan saya semata), cobalah pak, seandainya bapak diberi kepercayaan, usahakanlah untuk merealisasikan niat, ide, harapan, cita-cita yang ideal tersebut, yang selalu bersemi pada nurani bapak. Semoga sang waktu bisa memberi bukti dan menjawabnya….. “

(dari buku INU KENCANA Undercover_ INU PRIBADI YANG UNIK (Sebuah Surat Terbuka)….)

Tulisan Sebelumnya »