Feeds:
Pos
Komentar

Tepian Kalijodo

By : Empi Muslion

 

Hingar bingar Batavia berderai dalam cengkraman lenggok alunan kecapi yang mengalun syahdu… air kali mengalir gemulai membasahi dahaga yang kerontang didera birahi nan merajang… biduk lalu silih berganti melambai lambai senyum kulum tergolek menarik simpati… bunga bunga meyerbak sari menusuk hidung lalu lalang pemburu wangi…

Jalan panjang bergelombang terhampar dinding dinding tembok  bergraviti… kelap kelip cahaya lampu mewarnai hidup perlu disirami… bocah bocah berlarian membawa lembaran buku dan pensil mengejar kilau peradaban madani… Suara adzan mengumandang mengantarkan tapak tapak kaki bergegas ntuk bertafakur membasuh diri…

Roda roda terus berputar pada sumbu yang bergetar… kerikil kerikil tajam terlindas menyibak lobang lobang kelam… lorong lorong cahaya akankah merasuki lembah lembah gelap yang menerawang… tangan tangan kekar akankah menimbang timbangan pada jarum tengah berpatok… karena nafas terus berderu maka jalur harus dilalu…

Tepian Kalijodo beribu kisah anak anak Adam dan Siti Hawa tercatat dalam aribaannya… airmu kan selalu mengalir, tepianmu kan selalu dilewati, mentarimu kan selalu dinanti… Kalijodo tetaplah bergairah jangan gelisah, buang sudah desah gulana, tataplah tegar berjalan lurus menuju arah matahari terbenam, disana kan terpapar jarum hidup ntuk kembali kejalan yang dimuliakan-NYA…

 

18 Februari 2016

By : Empi Muslion

 

Kokok ayam bersahutan

Air wudhuk terbasuhkan, menghadap ridho Sang Illahi

Kau ambil cangkul dan kapak tajam, terletak diujung dapur beralas tanah

Kau langkahkan kaki menuju sawah dan hutan semak belukar

Kau tanam padi kau semai kopi berharap buah bergelantungan

 

Pagi dan petang kau susuri

Jalan setapak penuh duri, berteman lintah, pacet dan babi rimba

Wajahmu tetap berseri, walau makan berteman nyamuk dan kecoa

 

Hari terus berganti

Padi dan kopi berbuah sudah

Senyummu mulai merekah

Kau tuai dan kau petik untuk dipanen

Datang tengkulak menghampiri, kau jual dengan berat hati

Dihargai dengan recehan yang tak sebanding dengan peluh keringatmu

Hutang sudah menunggu dari rentenir yang mengais dipunggungmu

Mimpi memperbaiki dapur dan naik haji

Hanya harapan yang selalu berganti saat bulir padi dan kopi mulai bersemi

Senyummu berbuah onak

 

Kau tak pernah menyadari

Bulir padi dan kopimu yang bermutu tinggi

Melalang buana ke kota-kota

Bulir padimu menjadi beras premium yang dibungkus indah bertengger di supermarket mewah

Butir kopimu menjadi minuman termahal tersaji di café café bermerk internasional

 

Kau hanya bisa bermimpi

Mimpimu dituai oleh kalangan borjuis

Kau hanya bisa berharap

Harapanmu dipanen oleh kalangan berduit

Kau hanya bisa berkhayal

Hayalanmu diberangus oleh kalangan berdasi

 

Pak tani dan bu tani

Inilah tanah pertiwimu

Gemah ripah loh jinawi

Hanya dendang penina bobo

Sambutlah esok pagi

Nan kan terus berulang

Sambil menunggu

Tanah pertiwimu tandas tergadai

Sawah ladangmu menjadi beton bertulang

Hanya hitungan waktu

Anak cucumu menjadi tamu di tanah moyangnya…

Oleh : Empi Muslion

 

Di lorong  jalan Causebay Road

Di pinggir jalan Jordan Road

Di atas trotoar hotel Pullman

Di depan teras hotel Regal

Di atas rumput taman Victoria Park

 

Di depan kelap kelip lampu hotel

Di tengah gemerlap kilauan cahaya mall

Di samping gedung-gedung menjulang langit

Di bawah jembatan layang

Di emperan tangga penyeberangan

 

Kami saling membentang tikar

Membentang kertas koran, plastik dan pakaian

Saling membawa makanan

Ada bakso, ada lontong, ada ketoprak, ada berbagai makanan khas nusantara lainnya

Berkumpul bercengkrama bersenda gurau

Bercerita tentang kampung halaman yang indah permai

Kampung halaman yang gemah ripah loh jinawi

Kampung halaman mutu manikam zamrud khatulistiwa

 

Kami dengan semangat baja empat lima

Saling membuat janji

Bertemu karib kerabat

Saudara senasip seperjuangan

Datang dari berbagai penjuru ranah nusantara

Melepas penat enam hari mengurus rumah tangga orang lain

Nan sering kami sebut sebagai majikan

 

Saling menukar makanan yang kami masak dari rumah

Bahkan kami juga membawa kompor dan memasak dipingir trotoar ini

Kami menari

Kami bersenandung

Kami berdiskusi

Kami membaca

Kami berjualan

Kami berkesenian

Kami berqasidah

Kami bersembahyang

Kami berdo’a

 

Di emperan jalan penuh deru debu ini

Kami melangsa dan berbahagia

Bahwa negara kami kaya raya

Bercerita tentang alam, tanah, hutan, laut, sungai, danau, pulau

Bercerita tentang tambang emas, minyak, tembaga, batu bara, timah, nikel, bauksit, pasir besi

Bercerita tentang kayu jati, tembakau, kopi, rotan

Bercerita tentang tembakau, kebun teh, ladang kopi, casiavera, coklat

Bercerita tentang lada, cabe, bawang, brokoli, tomat, bayam, kangkung

Bercerita tentang sapi, kuda, kambing, ayam, itik

Bercerita tentang  durian, nenas, apel, manggis, mangga, rambutan

Bercerita tentang padi, sagu, tebu, jagung

Bercerita tentang ikan tuna, ikan bawal, ikan teri, lobster, cumi, udang, gurita

Bercerita tentang batu kecubung, batu bacan, batu sungai dareh, batu delima

Bercerita harta karun lainnya

 

Tapi

Apakah kami sedang bermimpi ?

Mengapa kami ratusan ribu banyaknya

Terdampar di negara yang sebesar pulau Talaud ini ?

 

Pak Jokowi

Tengoklah kami

Kartini Kartini Indonesia yang melanglang buana

Di ujung tanjung negara Cina

Hanya seluas titik diatas kertas peta

Mengharap hidup penyambung nyawa

 

Pak banyak diantara kami yang retak hubungan rumah tangga

Bercerai suami dengan istri

Berpisah anak dengan bundanya

Berpisah kami dengan sanak saudara

 

Pak Jokowi

Kami juga ingin

Menjadi majikan di negeri sendiri

Kami juga ingin menikmati udara pagi tapi tidak seminggu sekali

Tidak berjanji setiap minggu seperti ini

Menikmati mentari pagi tanpa ada yang membayangi

 

Mungkin bapak dan pejabat teras ditanah air sana

Menjadikan kami pahlawan devisa negara

Tapi sebenarnya pak kami  adalah warga yang tersia-sia

Buruh yang melangsa

Menggadaikan jiwa raga

Jangan lagi persenangkan hati kami dengan balutan kata kamuflase

Sebait kata Pahlawan

Sebenarnya kami terbuang

Pak Jokowi

Indonesia belum merdeka

 

Dalam lubuk hati kami terdalam

Tidak ingin pak kami seperti ini

Walau kami mendapatkan penghasilan

Mungkin jauh lebih baik dari kami bekerja siang malam membanting tulang di tanah air

Tetapi uang bukan segalanya pak

Kami juga punya hati

Kami juga punya jiwa

Kami juga punya rasa

Kami juga punya harga diri

 

Pak Jokowi

Jangan jadikan kami berlama-lama seperti ini

Lepaskan belenggu penjajahan abad baru ini

Yang penjajahnya tidak lain anak negeri sendiri

Perih, pedih, ngilu sekali pak

Saat orang-orang dari berbagai manca negara

Menenteng  tas berlabelkan brand internasional

Langkah sepatu berdegup keras dengan jaket kulit buaya dari negara Indonesia

Melirik kami

Memandang kami

Mereka saling bertanya

Anda dari mana ?

Oh dari Indo yaa ?

 

Pak cukup sudah penjajahan oleh bangsa sendiri ini

Pak negara kita jauh lebih kaya dari negara kecil ini

Negara kita jauh lebih memiliki sumber daya alam nan tak terkira

Pak hentikan korupsi yang merajalela

Pak hentikan penghamburan uang negara nan tak berguna

Pak hentikan jalan jalan keluar negeri pejabat negara yang tak bermakna

Pak hentikan bagi bagi saham sumber daya alam

Pak hentikan koar koar politisi nan tak berkesudahan

Jangan lagi kepentingan pribadi dan golongan dikedepankan

Perjuangkanlah martabat dan harkat bangsa kami

Merdekalanlah kami dari penjajahan baru ini

 

Pak kelolalah negara besar ini

Banyak lapangan pekerjaan yang bisa dibentang

Kami tidak harus menghamba ke negeri orang

Kami tidak harus diperalat oleh calo calo berdasi

Jika APBN dan APBD tidak digerayang

Jika aparat tidak bersengkokol dengan kaum pemodal

Jika kekayaan alam tidak digadai ke kaum kapitalis

Hargailah hasil pertanian kami

Hargailah hasil perkebunan kami

Hargailah hasil hutan kami

Hargailah hasil perikanan kami

Jangan lagi tengkulak, calo, makelar lebih kenyang

Dari tangan dan keringat kami yang siang malam menunggu hasil panen datang

 

Pak kami juga tidak ingin selalu menjadi buruh dinegara orang

Walau

Hujan emas dinegara Hong Kong

Hujan batu di negeri sendiri tetap lebih kami cintai

Tidak bisa diganti dengan harga apapun

 

Yang Mulia Bapak Presiden Jokowi tercinta

 

 

(Buat Saudaraku Buruh Migran di Negara Hong Kong)

Hongkong, 6 Desember 2015

By : Empi Muslion

Belum kering pedih mata menggelantung dikelopak

Belum hilang sesak nafas tersendat dikerongkongan

Belum pupus roda ekonomi rakyat nan terkoyak

Belum sirna kelamnya kota tanpa cahaya

Belum habis derai tangis kehilangan anak

Belum lama gembok pintu sekolah baru di buka

Belum jelas katanya ada pengusaha nan merompak

Belum lenyap lingkaran Presiden dan warga Suku Anak Dalam bercengkrama

Ternyata

Itu belum menjadi keprihatinan juga

Ya itu hanya kisah duka warga

Saya disini

Dibentangan beludru karpet merah

Di deru desiran Jaguar tanpa hambatan di macetnya jalan raya

Duduk di kursi empuk

Lebih nikmat memainkan bidak bidak

Sambil bertukar pengalaman dengan mafia pengemis  pulsa

Ketik sms

Ini penting, mama sedang ke Amerika “Mama minta pulsa”

Hallo

Ini tanah air beta

Tanah tumpah darah saya

Tidak ada yang tidak bisa diatur

Tapi jangan lupa

Mr.Presiden dan Wakil Presiden ada jatah sahamnya

Biar saja saya yang mengatur

Beres itu semua

Kalian mau perpanjang berapun akan bisa saya  atur

Karena saya sudah ditinggali ilmu kanjuruhan Mak Erot

Bisa memperpanjang keinginan yang kalian minta

Titipan sahamnya untuk Bapak Presiden dan Wapres

Pasti akan saya sampaikan

Jangan khawatir

Tidakkah kalian melihat

Donald Trump saja saya dekatnya luar biasa

Sampai bahu saya diusap-usapnya

Apalagi hanya

Presiden dan Wakil Presiden Indonesia

Ahaaaa

Oke

Kita ketemu saja besok lusa

Jangan lupa jet pribadinya

Kita kelapangan golf terindah di dunia

Sambil minum vin de jura

Menikmati

Lambaian tangan anak anak

Mengibarkan bendera menyambut kita

Adat

Memandang masyarakat adat, kita bak melakoni ceritera malin kundang anak yang durhaka terhadap orang tuanya. Sebagaimana yang kita mahfumi dan ketahui bersama bahwasanya masyarakat adat telah berabad-abad ada di bumi nusantara, dia telah dulu ada sebagai masyarakat maupun organisasi yang dibentuk oleh nenek moyang kita mungkin walau dalam bentuk yang sederhana secara struktur tetapi secara filosofis dan hakikatnya jauh lebih besar dan bermartabat dibanding saat ini.

Jika kita renungi lebih khusyuk, sebenarnya kita semua anak bangsa yang hidup dibawah bendera Negara Indonesia adalah anak-anak adat yang bergelimang dosa, boleh dikatakan saat ini kita seluruh anak Indonesia sebagai seorang Malinkundang, anak yang durhaka terhadap orang tua dan moyangnya, karena memang orang tuanya secara ilmu pengetahuan modern jauh tertinggal dibanding sang anak yang telah melanglang buana keberbagai belahan dunia untuk mendapatkan pencerahan pengetahuan. Tetapi sayang akibat pengetahuan dan kekayaan materi yang dimiliki sang anak sehingga lupa mengembalikan harkat dan nilai-nilai luhur kehidupan yang dia tinggalkan ditanah leluhurnya. Dia lupa dia diizinkan merantau oleh orangtuanya tidak lain karena negerinya dijajah oleh bangsa asing yang memporakporandakan nilai-nilai luhur dan adat istiadat yang dibangun oleh moyangnya.

Namun sayang sang anak setelah mampu mengusir sang penjajah dan kembali ketanah luhurnya untuk menegakkan bendera yang bernama Indonesia lupa mengembalikan nilai-nilai luhur dan adat istiadat yang berlaku ditanah leluhurnya tersebut. Walau secara fisik dia mengutuk dan telah mampu mengusir sang penjajah tetapi ambigunya nilai-nilai yang ada pada sang penjajah juga dipraktekkannya kembali ketanah leluhurnya, sehingga sanak saudara kampung halamannya yang banyak terbelakang sama saja merasakan dalam alam penjajahan. Cuma sekarang dijajah oleh anak atau saudara sendiri.

Secara bernegara dan berbangsa Indonesia kita bersyukur sekali kita sudah bisa lepas dari penjajahan kolonial. Tetapi sesungguhnya dalam konteks negara Indonesia kita juga harus berterimakasih kepada sang penjajah, mungkin jika tidak ada penjajahan di bumi garis khatulistiwa ini mustahil kiranya ada negara Indonesia, sebagaimana kita ketahui bahwa negara Indonesia ada karena disebabkan oleh dua faktor yakni faktor munculnya semangat dan kesadaran oleh para pahlawan kusuma bangsa yang memompa semangat pergerakan kemerdekaan dan faktor merasa senasip sepenanggungan akibat penjajahan yang dilakukan oleh kolonial terhadap bumi leluhur. Bisa jadi jika tidak ada penjajahan tidak akan ada yang namanya Indonesia, yang ada kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat yang berkembang dan menjelma menjadi republik atau negara-negara sendiri di kepulauan nusantara ini.

Namun sebagai kesatuan masyarakat adat yang dahulunya merupakan republik republik mini, kemerdekaan dan keberadaan Negara Indonesia dengan realita dan fakta kemelaratan dan kemiskinan yang terus mendera sampai saat ini, bisa jadi ini juga merupakan laknat dan mengutuk akan keberadaanya, karena sama saja keberadaan Negara Indonesia hanya perpanjangan dari penjajahan para kolonial. Cuma saja suasana bathin dan praktek penjajahannya tidak separah cara kolonial yang menghisap habis dan mengadu domba antar sesama.

Jika kolonial Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang yang pernah masuk ke nusantara, memang adalah orang dan bangsa asing dan tidak ada keterikatan secara batin dan genealogis sedikitpun, murni dirasakan sebuah penjajahan. Namun negara Indonesia saat ini yang menjajah adalah anak kandung sendiri, yang kita sendiri tidak tahu apakah ini faktor ketidaktahuan atau memang lupa terhadap asal usulnya sendiri, atau mental keserakahan, kemunafikan dan moral hazard sehingga bagi kesatuan masyarakat adat, secara hakiki sama saja lepas dari kandang buaya masuk ke kandang harimau.

Fakta sejarah telah mencatat dan menunjukkan betapa masyarakat adat, yang salah satu contoh organisasi pemerintahannya berupa desa selalu menjadi subordinasi, dikooptasi dan selalu menjadi objek penderita dari sang penguasa dan penjajah atau struktur supradesa yang lebih besar, kemerdekaan hakiki masyarakat desa dengan pemimpin dan komunitasnya dimanipulasi dan di jarah. Hal ini selalu berlanjut sejak zaman kerajaan, zaman kolonial, orde lama , orde baru dan berlangsung sampai era orde reformasi saat ini. Desa selalu menjadi lipstick, pemanis singgasana kekuasaan untuk selalu mempesonakan wajah kekuasaanya terhadap rakyat untuk diperjuangkan.

Fakta empirik ini dapat dilihat dalam Karya monumental Denys Lombard (1996) menggambarkan secara gamblang bagaimana kerajaan-kerajaan konsentris di zaman prakolonial melakukan penundukkan dan penaklukan terhadap Desa-desa di bumi Jawa, yang waktu itu masih disebut sima. Karya Frans Husken (1998) memberikan kisah berkelanjutan tentang kapitalisasi, eksploitasi dan diferensiasi sosial di Desa sejak masa kolonial. Karya Hans Antlov (1986), dengan tema “negara dalam Desa”, menggambarkan dengan jelas bagaimana sentralisme dan otoriarianisme negara bekerja di aras lokal. Karya Yando Zakaria, Abih Tandeh (2000), menunjukkan penghabisan dan penindasan negara terhadap masyarakat Desa di zaman Orde Baru. Sampai orde terkini saat ini dibahwa Presiden Joko Widodo, yang mana hal pengurusan dan pengaturan Desa secara struktur dinaikkan derajatnya kelevel sebuah kementerian yakni Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, tetapi apakah secara substantif dan kualititatif akan menjadi solusi terbaik untuk mengangkat harkat dan martabat kehidupan masyarakat yang ada di pedesaan ? Kita lihat bersama…

Foto : Alam nan asri, Dok.Pribadi.

Chairil anwar
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Hari ini 5 Oktober 2015, walau secara gradual dan seremonial tanggal ini setiap tahun selalu diperingati sebagai hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (dulu diperingati dengan sebutan hari ABRI). Sesungguhnya secara hakikat hari ini bukan hanya sekedar hari ulang tahun TNI. Hari ini harusnya secara berbangsa dan bernegara, kita yang hidup dan bernafas di bumi Indonesia, hari ini adalah hari anak bangsa Indonesia semuanya, menikmati kebebasan udara merdeka dari perjuangan para syuhada kusuma bangsa.
Jika kita buka buku sejarah, kita baca lembar perlembar bagaimana dahulunya para pahlawan bangsa ini mengusir penjajahan dari muka bumi, saat itu tidak ada yang namanya tentara, polisi, birokrat, politisi, pengusaha, selebriti, wartawan, petani, nelayan atau apapun namanya. Dahulu pahlawan kusuma bangsa tidak ada yang tersegmentasi oleh profesi ataupun ideologi apapun, mereka bergerak dari segala unsur, mengangkat bambu runcing, rencong, keris, pedang dan belati dengan satu tujuan bagaimana tanah nan kaya raya ini menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya anak cucu mereka lepas dari intimidasi dan cengkraman bangsa asing.
Kita baca bagaimana zaman kolonial Belanda dengan kerja rodi, tanam paksa, dan politik adu domba devide et impera, bagaimana kejamnya Jepang dengan romusha dan jugun ianfunya. Bagaimana anak negeri ini dieksploitasi tenaga dan tubuhnya membangun infrastruktur untuk keperluan penjajah, ada yang dirantai kakinya, ada yang tubuhnya tinggal tulang-belulang dan banyak yang mati ditengah kejamnya bangsa penjajah.
Kini 70 tahun sudah berlalu, masa kelam itu sudah tinggal catatan sejarah, kita hidup dari tanah yang penuh cucuran darah yang diperjuangkan oleh nenek kakek moyang pendahulu kita. Hari ini 5 Oktober yang diperingati sebagai hari Tentara Nasional Indonesia. Selayaknyan kita bertafakur, berdoa dan berintrospeksi diri, sudah sejauhmana kita dapat menghormati, menghargai dan berbuat yang terbaik bagi Ibu pertiwi.
Marilah kita bersama bergandeng tangan, buang jauh keserakahan untuk kepentingan pribadi dan golongan, apalagi untuk kepentingan kekuasaan. Marilah kita bersama membangun negeri berlandaskan ketauladanan, kearifan, kenegarawanan demi tanah perjuangan dan titipan pahlawan kusuma bangsa.
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
(Penggalan Puisi Chairil Anwar “Kerawang dan Bekasi”)
Foto : Dok.Pribadi

gedung mpr

Dalam beberapa bulan belakangan ini, bangsa Indonesia disibukkan dengan bencana kebakaran hutan dan polusi udara berupa asap yang sangat tebal, yang terjadi di dua pulau terbesar Indonesia, Sumatera dan Kalimantan. Dampak polusi udara tidak hanya membawa bencana bagi Indonesia tetapi juga merambat kenegara tetangga terutama Singapura dan Malaysia. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada tahun ini saja, tetapi sudah seperti menjadi agenda rutin yang setiap tahun selalu berulang.

Bencana kebakaran hutan dan polusi udara ini dalam konteks sosio-politik, merupakan bencana lintas kawasan dan lintas daerah. Selayaknya penanganan bencana ini juga ditanggulangi secara lintas sektor dan lintas lembaga baik pusat maupun daerah.
Dalam konteks institusi penanganan bencana ini, karena sudah terjadi antar propinsi dan bahkan sudah antar negara. Penulis ingin mengaitkannya dengan keberadaan lembaga negara Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI.

Sepatutnya DPD RI ikut berperan serta dan mengambil inisiatif konstruktif dan ikut bersama sama dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan bahkan sewajarnya melakukan komunikasi dan aliansi solutif dengan negara tetangga, karena domainnya juga berkaitan dengan bencana antar daerah perbatasan.

Peran serta DPD RI memiliki landasan juridis yang sangat kuat, sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi, dimana DPD RI memiliki fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan dalam ranah otonomi daerah (otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama).

Disamping itu yang tak kalah pentingnya DPD RI juga memiliki fungsi sosio-representatif dalam kerangka perwakilan daerah (pasal 248 ayat 2 UU Nomor 17 tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD, yang berbunyi “fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijalankan dalam kerangka perwakilan daerah”).

Dalam mengimplementasikan dan mengkongritkan peran serta dan tanggungjawab DPD RI sebagai lembaga representasi daerah dalam menanggulangi bencana kebakaran hutan dan asap ini, dapat saja dikerjakan dalam bentuk membuat tim ad-hoc DPD RI, bisa berbentuk task force bencana, seperti Tim Kerja DPD RI yang sudah familiar dalam pelaksanaan tugas DPD RI selama ini.

Sehingga penanganan bencana kebakaran hutan dan asap ini tidak sebatas seremonial formalitas semata, meninjau kelapangan sambil membawa ucapan simpati, setelah itu tetap saja yang kalang kabut menanggulangi bencana ini pada jajaran Pemda, TNI dan Polri serta segenap masyarakat daerah yang menanggulangi bencana ditengah galaunya mereka menikmati asap yang masuk kerongga dada.

Task force bencana DPD RI bisa saja dibentuk lintas personil dari berbagai lembaga/unsur yang memiliki kompetensi, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga non-pemerintah atau unsur profesional. Tugas dan kerja task force bencana ini bisa saja dirumuskan secara tekhnis, seperti bertugas mengerakkan kekuatan dan bantuan semua propinsi di Indonesia untuk membantu penanggulangan bencana hutan dan polusi asap.

Melakukan advokasi terhadap masyarakat yang terkena bencana dan membantu masyarakat daerah keluar dari kesulitan akibat bencana. Melakukan investigasi bersama pemerintah dan menuntut kalangan korporasi yang terbukti bersalah untuk bertanggungjawab dan mengganti kerugian masyarakat daerah akibat bencana.

Selain itu yang tak kalah penting, meminta segenap perusahaan yang ada di Indonesia yang selama ini telah menikmati empuknya sumber daya alam masyarakat daerah yang telah mereka nikmati kekayaannya atas eksploitasi dan ekplorasi yang telah mereka lakukan, untuk ikut bersama-sama membantu penanggulangan bencana kebakaran hutan ini, baik berupa bantuan materi, personil, peralatan, tekhnis maupun edukatif.

Disamping itu, peran DPD RI juga bisa melakukan koordinasi dan diplomasi dengan negara tetangga dilingkungan ASEAN untuk memberikan pengertian sekaligus meminta bersama-sama menanggulangi bencana ini.

Tentu task force bencana ini betul-betul dilakukan secara serius, terkoordinasi dan terintegrasi secara sistematis dan dikerjakan secara komprehensif sampai bencana betul-betul dapat tertanggulangi dengan cepat dan tuntas, kemudian dilanjutkan dengan investigasi dan membuat peta jalan asap untuk antisipasi dimasa mendatang.

Semoga…

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.