Feeds:
Pos
Komentar

Oleh : Empi Muslion

Part 1 : Lega

Alhamdulillah lega rasanya saya mendengarkan isi pidato Presiden Republik Indonesia Pak Jokowi pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah di Bogor, Jawa Barat, rabu (13/11/2019).

Kebetulan satu hari sebelumnya saya baru saja menulis curhatan pikiran saya tentang dinamika birokrasi Indonesia terutama soal penyederhanaan birokrasi sebagai kontemplasi dan saran tindak atas wacana besar tentang penyederhanaan birokrasi yang diusung Pak Presiden, yang saya beri judul “Disrupsi Birokrasi” (Bisa dibaca di FB sebelumnya).

Sebenarnya saya sudah mulai agak apatis dan menurunkan level kritis saya melihat fenomena birokrasi kita yang sepertinya tidak maju-maju, selalu mendapatkan sorotan dari masyarakat, dan pemandangan pejabat negara dan pejabat birokrasi yang tak lepas dari jerat kasus pidana.

Ternyata Alhamdulillah Bapak Presiden merasakan hal itu, gerah dengan semua itu, dan Presiden memasukkan agenda penyederhanaan birokrasi sebagai agenda prioritas dalam target kerja Kabinet Periode 2019-2024. Pengalaman atmosfir optimis saya ”Duduk Semeja Dengan Jokowi” (dapat dibaca diblog saya empimuslion.wordpress.com) saat Pak Jokowi menjabat Gubernur serasa bangkit dan bergairah kembali.

Namun jika disimak pula pernyataan Menpan-RB saat rapat kerja dengan Komisi II DPR RI hari Senin, 18/11/19, sepertinya gagasan pemangkasan birokrasi oleh presiden diterjemahkan sebagai perampingan oleh Kemenpan, apakah arti dan substansinya sama, kita lihat bersama saja.

“Ada tantangan PAN-RB, karena pertanyaan Pak Presiden ke saya, sejauh mana reformasi birokrasi dengan cepat dilakukan. Jadi dalam waktu dekat, kita enggak pangkas birokrasi, tapi merampingkan,” kata Tjahjo di Ruang Rapat Komisi II (Tribunnews.com).

****
Saya memang memiliki perhatian dan kepedulian tersendiri terhadap birokrasi di negara kita, disamping profesi saya sebagai birokrat sehari-hari, saya juga mencoba menjadi pemerhati dan akademisi, karena itu saya beranikan diri untuk menyampaikan ide dan buah pikiran saya.

Terlepas apakah akan dibaca, digunakan atau tidak untuk menjadi bahan pertimbangan bagi yang berkepentingan dalam pembuatan kebijakan. Paling tidak saya sudah berikhtiar, mencurahkan apa yang ada dipikiran saya untuk kebaikan bangsa tercinta ini.

Sebelum ini saya juga sudah pernah menginisiasi, membuat naskah argumentasi hukum dan mengajukan uji materi UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang Aparatur Sipil Negara (pokok pokok pikiran uji materi dapat dibaca di buku saya).

Walaupum hanya dikabulkan sebagian oleh hakim Mahkamah Konstitusi, tetapi paling tidak saya sudah mencoba memberikan masukan buat kemaslahatan dan kebaikan anak bangsa, pun dalam isu dan wacana yang beredar saat ini, sepertinya gagasan saya dalam uji materi UU Nomor 5 Tahun 2004 tentang ASN tersebut kembali menjadi isu dalam revisi UU tentang pemilihan kepala daerah saat ini.

Inti tuntutan dan gagasan saya dalam uji materi tersebut tiada lain hanya menuntut tentang persamaan hak setiap warga negara didepan hukum dan pemerintahan serta kesempatan yang sama dalam pekerjaan yang keduanya dijamin dalam konstitusi UUD 1945, yang mana hak ini dalam UU ASN saya rasakan dikebiri.

Disamping itu saya juga sudah membukukan beberapa pendapat dan gagasan saya tentang pandangan saya terhadap demokrasi dan birokrasi di Indonesia, kumpulan tulisan saya dari berbagai media masa dan blog saya sendiri, dengan judul “Kontemplasi Demokrasi, Politik dan Pemerintahan Pasca Reformasi,” (dapat di searching di mbah google). Tiada lain semua catatan itu curhatan kecil demi kebaikan birokrasi dan kemaslahatan negeri ini.

Maaf, tiada maksud saya untuk menyombongkan diri, menyampaikan apa yang pernah saya karyakan tersebut. Apa yang saya lakukan tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan apa yang sudah dikontribusikan oleh anak bangsa lainnya terhadap kemajuan peradaban birokrasi Indonesia.

Tiada lain saya sampaikan, sedikit apa yang pernah saya ikhtiarkan untuk kebaikan birokrasi Indonesia, hanya sebagai background bagi para pembaca yang budiman tentang saya, sebelum masuk ketopik gagasan reformasi birokrasi yang ingin saya sampaikan.

Sekaligus saya ingin memberikan gambaran betapa serius dan gregetnya saya untuk dapat melihat birokrasi kita maju, modern, profesional, berintegritas dan berwibawa serta dapat dipercaya, ini tentu bukan harapan saya semata, adalah harapan seluruh masyarakat Indonesia.

***

Ada memang beberapa teman saya yang sayang dan risau dengan saya, mereka mengatakan ;
“Mas Empi !”
“Apa nggak takut bikin tulisan yang kritis terhadap pemerintah”
“kan Mas Empi juga PNS.”
Saya tersenyum dan bertafakur, saya tarik nafas dalam-dalam, kemudian saya hembuskan pelan-pelan, saya ajak teman saya itu duduk, saya katakan, ”Mas, saya tidaklah kritis, saya hanya ingin menyampaikan uneg-uneg, ide, gagasan. Menyampaikan apa yang saya rasa, apa yang saya baca, apa yang saya dengar dan saya alami sendiri. Semua itu bukanlah buat kepentingan saya pribadi, tetapi kepentingan bangsa kita bersama, murni itu jeritan hati saya untuk kebaikan bangsa ini.”

Jikapun dianggap kritis, kita kritis kepada diri sendiri dan bangsa sendiri tidak ada yang salah, itu namanya otokritik, otokritik adalah ibarat antibodi bagi kesehatan kita, imun yang diproduksi oleh diri sendiri, lebih mujarab dari obat luar yang sarat dengan racikan kimia. Kecuali kita kritis tetapi tidak ada dasarnya, kritis yang membenci, kritis yang subjektif, kritis yang tidak menawarkan solusi.”

Saya tidak pernah menulis dan menyampaikan kritik bertendensi kepada pribadi, golongan, apalagi SARA, murni melihat substansi dari sebuah fenomena dan persoalan. Mencoba membangun narasi berlandaskan data, fakta, memberikan masukan yang konstruktif dan menawarkan alternatif solusi.

Saya memahami sepenuhnya masih banyak pola pikir di ASN, jika kita memberikan masukan kepada sebuah kebijakan pemerintah dianggap mengkritisi, jika mengkritisi diangap keluar dari pakem etika birokrasi, kemudian ditakut takuti, sehingga banyak ASN yang gagap dan takut bersuara.

Saya katakan kepada teman yang menasehati saya tadi. Kita bukan lagi hidup di alam pembungkaman, kita sudah merdeka dan telah melalui zaman ketakutan itu, tetapi saya memahami hal itu, tiada lain bayang-bayang phobia orde baru yang masih tersisa.

Jikapun saya dibenci dan dimaki, saya sudah ikhlas dengan semua itu, sudah dua puluh empat tahun saya bertugas dan bekerja sebagai pegawai negeri dalam rumah birokrasi, tidak waktunya lagi saya mencari eksistensi atau mengaruk kepentingan pribadi, saya bekerja setiap hari melaksanakan kewajiban saya dan mencoba memberikan yang terbaik dimanapun saya berada, Alhamdulllah sampai saat ini saya masih dipercaya oleh pimpinan dimanapun berada.

Saya pun sadar dan mahfum sepenuhnya, pasti ada pikiran saya yang keliru, pikiran saya tidak berdasar, argumentasi yang lemah, data yang kurang akurat, namun disitulah kita saling membangun dialektika untuk saling terbuka, saling mengisi, mengoreksi dan berintrospeksi mencari solusi dan formulasi terbaik sumbangsih untuk Ibu Pertiwi.

Tabbik…

Serial kisah, Sebungkus Indomie Tak Sanggup Kubawa Pulang (Part 2)

Kembali ke cerita utama tentang gempa. Saat gempa terjadi, aku berada di rumah kontrakanku di Batusangkar, sekitar lebih kurang tujuh belas kilometer dari Simabur Ibukota Kecamatan Pariangan.

Goncangannya keras sekali, keadaan panik, anak-anakku kebingungan, istri ketakutan. Ditengah suasana itu, aku juga langsung ingat masyarakat tempat aku bertugas, sebagai abdi masyarakat, nuraniku memanggil, aku harus bersama mereka malam ini juga, aku wajib ada bersama mereka.

Disatu sisi istriku yang lagi hamil besar juga cemas dengan kondisi gempa. Namun situasi tidak bisa ditawar dan dihindari, aku harus pergi ke kecamatan malam ini juga.

Dengan berat hati, aku minta izin dan pamit kepada orang tua dan istriku, kucium kedua orangtuaku, kucium dan kuusap perut istriku yang sudah hamil tua, aku gendong kedua anakku dan kuberi dia sugesti kekuatan dan keberanian, aku cium mereka lama lama.

Aku kuatkan jiwa, aku ambil sepeda motor tua Suzuki TRS di garasi, aku tancap gas meluncur menuju Kantor Kecamatan di Simabur.

Malam itu istri dan anakku tidur diluar rumah di beranda, syukurnya waktu itu ada orang tuaku, ada sedikit kelegaan untuk meninggalkan mereka, walau kedua orang tuaku juga dalam keadaan sakit.

Dalam perjalanan dimalam hari, ditambah jalan yang tidak ada penerangan, lampu semua mati, suasana mencekam. Aku diselimuti rasa was-was.

Muncul beragam halusinasi kekhawatiran dikepalaku, bagaimana kalau ketuban istriku pecah ? siapa yang harus membawanya ke klinik bersalin ? semua orang dalam keadaan panik, bagaimana kalau gempa datang lagi ? bagaimana kalau rumah kontrakanku roboh ? bagaimana orang tuaku yang sakit sakitan dan anak-anaku yang masih kecil ? bagaimana jika aku tidak fokus membawa sepeda motor dan menabrak atau ditabrak ? bermacam macam pikiran melayang dikepalaku, namun aku tetap mencoba konsentrasi membawa motor, warga masyarakatku harus kujumpai malam ini.

Sampailah aku di kantor dengan selamat, kami langsung rapat koordinasi yang dipimpin oleh Pak Camat Faisal A, dihadiri oleh Kapolsek Pak Efrizal, Danramil Pak Ali Basyar, Wali Nagari dan jajaran lainnya.

Malam itu kantor camat kami buka 24 jam untuk menjadi pusat posko gempa. Setelah rapat selesai, kami berbagi tugas untuk turun kelapangan, melihat dan meninjau kondisi masyarakat.

Alhamdulillah tidak ada warga yang terkena musibah korban jiwa di Kecamatan kami, namun rumah memang banyak yang retak dan rusak, dan beberapa warga luka-luka. Beberapa malam kami silih berganti melakukan piket jaga di posko dan kelapangan. Menerima, mencatat dan menyalurkan bantuan yang datang.

***

Syahdan, gempa belum berakhir, enam hari setelah gempa pertama, terjadi lagi gempa susulan yang lebih keras, untungnya pusat gempa bukan di Tanah Datar tetapi di selat Mentawai cukup jauh dari Tanah Datar sekitar 100 km, namun getarannya juga sangat kuat terasa, akibat gempa kedua ini banyak bangunan rumah penduduk di kecamatanku yang roboh, karena sudah banyak yang retak sebelum ini.

Siang malam kami di kecamatan, saya masuk keluar kampung untuk melihat, mencatat, membawa bantuan berupa makanan dan obat-obatan dan mendampingi tim dari propinsi dan kabupaten yang mendata rumah yang kena gempa. Hampir semua kampung yang ada disetiap desa aku kunjungi.

Ada peristiwa kekesalanku, ada beberapa orang tim propinsi yang datang untuk mendata rumah yang kena dampak gempa. Aku lihat mereka asal catat saja, masuk ke desa, setelah dapat beberapa rumah yang didata, setelah itu mereka pergi, katanya sudah cukup pak sudah dapat beberapa rumah.

Saya terdiam, saya tidak mengerti maksudnya, saya tidak mau asal asalan dan sekedar mendata, saya belum mau pergi sebelum semua terdata secara ril. Saya bersikeras bahwa masih banyak yang harus didata, masih banyak kampung yang belum ditelusuri.

Mereka mengatakan hari sudah malam pak, kami sudah capek pak, saya tarik nafas dalam-dalam. Mereka baru hari ini datang, itupun diantar dengan kendaraan roda empat. Pernahkah mereka merasakan kami yang di kecamatan sudah berhari hari bertanggang, berhari hari masuk desa menyalurkan bantuan, tidak pernah sedikitpun mengeluh apalagi mengatakan kata capek.

Ya sudah, aku juga tidak mau memaksa, kalau saudara mau menyelesaikan mendatanya silahkan pergi, biar kami yang melanjutkan, akhirnya memang kami berpisah.

Aku melanjutkan sendiri dibantu oleh kawan kantor, kami melanjutkan mendata rumah penduduk yang terdampak gempa, dari lorong ke lorong, kampung ke kampung, menyusuri jalan setapak, sawah, lereng, lembah, bukit dan hutan.

***

Posko di Kecamatan sudah banyak berdatangan bantuan, umumnya berupa material, seperti ; selimut, pakaian, tikar, beras, mie berkardus kardus, minyak goreng, gula, kopi, semen dan sebagainya.

Aku ditunjuk oleh Pak Camat sebagai penanggungjawab administrasi posko termasuk administrasi semua bantuan, karena ex-officio selaku Sekretaris Kecamatan.

Aku kumpulkan semua kawan kantor, aku katakan kita harus mencatat, menyalurkan dan mempertanggungjawabkan semua bantuan dengan seksama, tidak ada di antara kita satu orangpun yang boleh mengambil bantuan, begitupun untuk menyalurkan tidak boleh dibeda bedakan termasuk kepada saudara kita sekalipun.

Kiranya kami sanggup melakukan ini, semua bantuan dicatat dan dikumpulkan oleh teman-teman dikantor bahu membahu kedalam gudang.

Ini bukan sekedar cerita, untuk membeli kebutuhan piket jaga, kami harus membeli gula dan kopi sendiri ke warung, tidak ada teman kantor yang berani mengambil gula, kopi dan indomie bantuan.

Bantuan kemudian disalurkan, kami setiap hari mengantarkan bantuan ke kampung-kampung, sebagian dijemput dan dibantu oleh Kepala Desa dan perangkatnya, jajaran Polsek dan Koramil.

Sebuah kebahagian dan kenikmatan yang tidak terkira saat berjumpa langsung dengan emak-emak atau bapak-bapak yang menerima bantuan beras dan sembako lainnya, mereka merangkulku, menjabat erat tanganku.

Walau bantuan yang dibawa tidaklah seberapa tetapi kedatangan kami ada muka bahagia dan merasa diperhatikan terpancar diwajahnya, semoga dapat mengobati mereka, mengurangi lipur lara, bahwa pemerintah ada bersama mereka.

***
Adanya peristiwa gempa, aku jarang dirumah, kalaupun pulang hanya sebentar untuk melihat kondisi orang tua, menghibur istri yang lagi hamil tua dan anak anak.

Dirumah semua menjadi berantakan, burung puyuhku pada banyak yang mati, tidak ada yang memberi makan dan merawatnya, kebetulan saat itu aku juga mencoba berusaha beternak telur burung puyuh dibelakang rumah.

Burung Murai hitam peliharaanku, pemberian anak Ibu warung depan kantorku Edmon juga sudah terbang dari kandangnya, terbang membawa kisahnya sendiri.

Sore hari, saat ada waktu membersihkan kandang burung puyuh. Aku melangsa, menatap puncak Gunung Merapi tempat sebagian besar masyarakat tempat tugasku tinggal dilembahnya, karena habis Maghrib ini aku harus kembali kesana.

Namun malam ini, rencanaku ke kecamatanku tertunda, dari dalam rumah istriku memanggil, katanya perutnya sakit tidak terkira, aku bergegas masuk kerumah, kulihat istriku sudah mulai muncul tanda mau melahirkan.

Aku ambil sepeda motor tua Sekcamku Suzuki TRS, aku bawa istriku dengan perut yang sudah pecah ketubannya, aku bergambling ria lagi, bagaimana kalau anakku lahir saat diatas motor ini ? akh sudahlah, aku buang jauh-jauh pikiran itu, aku serahkan pada yang maha kuasa, Insya Allah, Allah SWT akan menuntun dan menjaga ummat-Nya.

Alhamdulillah, kami sampai di rumah bersalin klinik Bidan Mega di Pasar Batusangkar dengan selamat, walau rok istriku penuh tercemar oleh oli motorku. Sesampai di klinik istriku diperiksa, diminta istirahat, sambil persiapan melahirkan.

Alhamdulillah malam itu, 28 Februari bertepatan dengan tahun kabisat, enam hari setelah gempa besar melanda, anak ketigaku lahir kemuka bumi dengan lancar dan selamat.

Disaat aku bersitungkin siang malam mengurus dan bertanggungjawab terhadap warga tempatku bertugas yang lagi terkena musibah gempa.

Karena itu, kusematkan nama ditubuh anakku ”Devalco” yang artinya engkau lahir disaat ayahmu berjuang di medan tugasnya dalam suasana musibah gempa dilembah Gunung Merapi (volcano).

Kini, lima belas tahun sudah berlalu, jika kukenang dari semua kisah itu, hanya satu kisah yang membuatku sedih, kepada Saudara/i, teman-temanku dikantor, umumnya mereka semua lebih tua dariku, Pak Camat Elwizar Barus, Pak Novrianto CH, Pak Faisal A, Pak Agusril, Pak Syafran Tamsa, Pak Arwis Delvis, Pak Sufriyal, Pak Aldafri, Pak Nazar Ikhwan, Pak Defra Dedi, Buk Delfiana, Buk Ed, Buk Refita Dewi, Da Yas, Buk Khumar Yasin, Buk Mar, Buk Kas, Pak Rasman Pakiah Mudo, Pak Tarmizi, Mira, Edmon, Ibuk Ibuk di PMKB, Bapak Ibu di Puskesmas, Unit Pertanian/PPL, Mantri hewan, Pak KUA dan jajaran, Guru dan Kepala Sekolah, Pos, para mantan Kepala Desa dan Wali Nagari beserta perangkatnya, dan unit kerja lainnya, tak bisa kusebutkan satu persatu.

Aku minta Maaf yang setulus dan sebesarnya, aku begitu tega, aku tak membolehkan mereka membawa satu bantuanpun kerumahnya, mereka semua mentaati, walau setelah beberapa bulan ada sisa selimut yang meraka dapatkan, karena tidak tersalur dan terpakai lagi.

Saat ini, aku kadang sering tersenyum dan merawang sendiri, walau dalam keadaan sulit, sebungkus Indomie pun tak sanggup kubawa pulang ke rumah, untuk pengganjal perut anakku…

Foto : Pemandangan Alam Desa Pariangan, Dokpri

*** Tulisan ini bagian dari cerita tentang “Sebungkus Indomie Tak Sanggup Kubawa Pulang.”

—-

Februari 2004, detik-detik menunggu hari kelahiran anakku yang ketiga, terjadi gempa bumi beruntun di Sumatera Barat.

Pertama tanggal 16 Februari 2004, gempa bumi kuat dengan magnitudo 5,6 skala Richter, pusat gempa di Desa Pitalah Kecamatan Batipuh Kabupaten Tanah Datar.

Getaran gempabumi ini dirasakan di sebagian besar daerah Sumatera Barat, kekuatannya hingga pada VI MMI (Modified Mercalli Intensity) yang menimbulkan korban meninggal dunia dan meluluhlantakkan ratusan bangunan rumah di Kabupaten Tanah Datar.

Enam hari kemudian, tepatnya pada 22 Februari 2004, gempa bumi yang lebih besar kembali mengguncang Sumatera Barat dengan magnitudo 6 skala Richter.

Gempa bumi ini mengakibatkan beberapa orang kembali meninggal dunia dan beberapa orang luka parah serta ratusan rumah rusak berat, termasuk di wilayah kecamatanku tempat bertugas.

Aku bertugas di Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar Propinsi Sumatera Barat, tetangga dari Kecamatan Batipuh yang menjadi daerah pusat gempa. Saat itu aku diamanahi sebagai Sekretaris Kecamatan.

Kecamatan Pariangan menjadi tempat tersendiri dalam perjalanan tugas dan hidupku, lulus dari STPDN tahun 1998, tiga bulan setelah masa orientasi dan pembekalan di instansi Kabupaten aku langsung diberi amanah memegang jabatan Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Pariangan. Aku tinggal dirumah Bapak Syafran Tamsa orang kampungku, orangnya baik sekali, sekarang menjadi Wali Nagari IV Koto Mudiak di Batang Kapas.

Tidak beberapa bulan aku disini, kembali aku ditarik ke Kantor Bupati menjadi Ajudan Bupati yang saat itu dijabat oleh Alm. Bapak Masdar Saisa, kemudian diangkat sebagai Kasubag pada Bagian Tata Pemerintahan.

Tahun 2002 setelah kembali dari pendidikan di STIA LAN Jakarta, aku juga kembali ditempatkan di Kecamatan Pariangan, Camatnya Pak Novrianto CH kemudian digantikan oleh Pak Faisal A, aku kembali sebagai Kepala Seksi Pemerintahan kemudian Sekretaris Kecamatan sampai akhir tahun 2004. Saat itu Bupatinya Bapak Masriadi Martunus.

Seteleh itu aku kembali berpetualangan menuntut ilmu, joint research di Bappenas, ikut pelatihan bahasa Inggris dan bahasa Perancis di Jakarta, aku satu kelas dengan Mbak Siti Atikoh istrinya Gubernur Jawa Tengah Bapak Ganjar Pranowo, kami banyak ditraktir dan difasilitasi jalan jalan waktu itu. Aku bolak balik Jakarta-Batusangkar, semua ini tidak lepas dari semangat dan support Pak Masriadi.

Hanya Kecamatan Pariangan ini satu satunya tempat pengabdianku dilapangan selaku seorang abdi negara yang dilahirkan dan dididik dari sekolah Pamong Praja.

Diwilayah Kecamatanku ada Desa (sekarang Nagari) Pariangan. Desa yang penuh dengan historis asal usul nenek moyang orang Minangkabau. Desa yang ada kuburan panjangnya Tan Tejo Gurhano sang arsitek Rumah Gadang Minangkabau, Desa tempat asal usul adat yang dilekangkan oleh Datuak Perpatih Nan Sabatang dan Datuak Katamanggungan.

Desa yang ada sumber api abadi, selalu dijadikan pengambilan api obor setiap pelaksanaan event olahraga di Sumatera Barat. Desa yang airnya sangat segar dan hawanya sangat dingin, apalagi lekak lekuk pemandangannya yang bikin kita betah berlama lama disini sambil menyerumput secawan Aia Kopi Kawa Daun (minuman dari daun kopi yang dikeringkan).

Desa Pariangan, desa tempat aku pernah menyusuri gunung, tebing, lembah, sawah, sungai. Desa tempat aku pernah menanam cabe keriting untuk mencoba menambah biaya beli susu anakku. Desa yang disaat dinihari jam dua malam sepeda motor Sekcamku Suzuki TRS tak bisa lagi menanjak tanjakan sehingga aku harus meninggalkan motorku dikantor desa dan meminjam motor kepala jorong untuk pulang ke Batusangkar. Desa yang penduduknya amat ramah dan kritis, sering aku bercengkrama dengan mereka.

Banyak catatan hidup dan pengabdianku berserakan di desa ini, termasuk pernah bersama sama dengan Pemerintah Nagari Pariangan, tokoh masyarakat merintis pengembangan pariwisata di Nagari Pariangan, mendata dan memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk melestarikan Rumah Gadang yang ratusan tahun, pernah juga turun mensurvei bersama dosen ITB, merintis membangun homestay rumah masyarakat.

Menyusuri hutan dan lembah membangun jalan dan irigasi bantuan proyek P2D, keliling Mesjid dan Mushala untuk bersosialisasi, mengunjugi dan menjadi pembina upacara di sekolah-sekolah yang jauh diperkampungan.

Keluar masuk semak mendampingi operator seluler mencari lokasi pemasangan menara, mendampingi anggota dewan dalam kunjungan lapangannya, duduk dipematang sawah dan makan bersama petani dengan lahapnya, dan banyak lagi cerita asam manis yang tak bisa disebutkan.

Jika setiap ke desa Pariangan ini, ada sebuah ritual yang aku lakukan, biasanya aku selalu menyempatkan diri berhenti dipinggir jalan, disebuah gundukan tanah, kita bisa melihat pemandangan alam 360 derajat, kemudian menghisap sebatang rokok (dulu masih merokok sebagai wahana pendekatan dengan masyarakat).

Memandang sekeliling alam nan membentang, mata lepas begitu jauh menerawang, nuansa barisan gunung dan bukit yang berjenjang, sawah yang berteras tering memanjang, jalan yang meliuk, sepoian angin yang menyelir telinga, begitu indah melangsa, merasup kesanubari, tenang damai tiada terkata.

Beberapa tahun setelah aku bertugas dan tinggal di Jakarta, aku mendapat berita yang menggembirakan. Pariangan sebuah desa yang berada dikaki Gunung Merapi Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat menjadi viral sebagai desa terindah di dunia, aku senang dan bahagia bukan kepalang, saat ini terangkat namanya menjadi desa yang masuk dalam catatan traveller untuk dikunjungi.

Alhamdulillah Yaa Rabb…

Disrupsi Birokrasi

IMG_6315

Oleh : Empi Muslion

Nadiem Makarim dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, banyak yang terkaget-kaget, ada yang menyambut dengan gembira dan penuh harapan, namun ada juga yang mengomentari penuh dengan keraguan, sinis dan anekdot ketidakpercayaan.  Tapi bagaimanapun kita harus mengakui Nadiem adalah salah satu simbol dan pelaku di era disrupsi zaman ini.

Begitupula saat Presiden Jokowi mengumumkan lima target kinerja kabinet periode 2019-2024, salah satunya mengenai penyederhanaan birokrasi yakni tentang penyederhanaan eselonisasi (eselon ini sebenarnya adalah idiom lama yang diganti istilahnya dalam UU No 5 Tahun 2014 tentang ASN, saat ini ASN tidak lagi menggunakan idiom eselon tetapi menggunakan istilah jabatan ; jabatan tinggi, jabatan administrasi dan jabatan fungsional). Hal ini disambut dengan beragam pendapat terutama oleh kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang merupakan personifikasi dari birokrasi Indonesia itu sendiri.

Kondisi birokrasi Indonesia saat ini secara kuantitas jumlahnya untuk PNS Indonesia berjumlah 4.285.576 orang (data Kemenpan RB, 11 Juni 2019), ini belum termasuk Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) dulu istilahnya Pegawai Honorer. Dari sekian juta PNS Indonesia tersebut, sekitar 10,76 % merupakan posisi jabatan struktural.

Membahas birokrasi Indonesia sepertinya tak pernah habisnya, mulai sejak zaman orde lama, orde baru, orde reformasi dan orde zaman ini, kita bak selalu memasuki lingkaran labirin yang tak bertepi. Ketika sudah menyisir lingkarannya, kita akan ditelan oleh fatamorgana yang seolah tak menemukan  pintu masuk dan pintu keluarnya, sama-sama membingungkan, tak tahu dari mana harus mengurai benang kusutnya, birokrasi seolah menjadi momok dalam setiap pemerintahan, dia selalu dikambinghitamkan tetapi juga dimanfaatkan.

Namun secara fakta dan realita birokrasi itu akan selalu ada, akan selalu dibutuhkan dalam sebuah pemerintahan, birokrasi eksistensinya akan selalu hadir selagi negara itu tetap berdiri. Karena tak bisa dipungkiri, sejarah birokrasi tidak terlepas dari keberadaan dan perkembangan negara bangsa (Nation State) itu sendiri.

Tidaklah salah apa yang ditesiskan oleh Weber  yang mengungkapkan tidak ada gunanya untuk mencoba menghapuskan birokrasi, karena itu hanya bisa dilakukan dengan bantuan sebuah organisasi lain, dimana kalau pun berhasil menang, organisasi ini juga nantinya akan terbirokratisasi dengan sendirinya. Bahkan seandainya pun kapitalisme bisa dihapuskan pada suatu saat nanti, itu tidak akan menghapuskan birokrasi.

Sama seperti pendapat Mosca yang bertentangan dengan pendapat Marx, Weber tidak percaya bahwa dalam sosialisme atau komunisme nanti birokrasi akan menjadi layu (wither away). Justru sebaliknya, birokrasi akan semakin kuat dan makin berkuasa.

Begitulah gambaran tentang sosok birokrasi, fenomena era disrupsi yang berlangsung disegala lini kehidupan juga tidak terhindari terjadi pada wajah birokrasi Indonesia. Dia akan selalu ada ber-evolusi, berinovasi dalam setiap zaman, mazhab dan isme apapun, tetapi bukan berarti birokrasi tidak bisa diatur dan ditata, disinilah ujian bangsa ini yang terus mencari jatidiri peradaban birokrasinya.  .

Wacana Penyederhanaan

Wacana pemangkasan jabatan dalam birokrasi bukanlah isu yang muncul mendadak saat ini, sebagaimana yang disampaikan langsung oleh Presiden Jokowi. Diawal masa reformasi, isu ini sudah ramai dibicarakan, tak ayal banyak struktur eselon V yang ada di birokrasi Indonesia baik di Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah sudah banyak yang dipangkas, sebagian besar instansii pemerintah saat ini tidak adalagi mencantolkan eselon V dalam struktur organisasinya.

Saat ini kembali bergaung  wacana segar dari Presiden Jokowi dalam taget kerja 2019-2024, tentang penyederhanaan birokrasi, namun sebelum membahas lebih dalam, harus kita samakan dulu maqom tempat berpijak, antara terminologi ‘penyederhanaan birokrasi’ dan ‘penyederhanaan eselonisasi (jabatan).’ Menurut penulis ini adalah dua term yang sangat berbeda makna, substansi dan implementasinya. Bahwasanya penyederhanaan jabatan hanya bagian kecil dari tugas besar dalam penyederhanaan birokrasi.

Sekarang pemerintah mau memfokuskan tentang apa, apakah sebatas penyederhanaan jabatan atau benar-benar ingin menata birokrasi secara komprehensif dengan melakukan penyederhanaan birokrasi. Kalau hanya untuk penyederhanaan jabatan tidak perlu menunggu waktu lama, enam bulan ini pasti selesai, tapi apakah itu yang kita maksud dan kita tuju ?

Mereformasi birokrasi secara parsial sebatas pangkas memangkas sruktur, memang tidak akan sulit, tinggal merevisi peraturan perundang-undangan dan membuat aturan baru, dengan membuat tingkatan jabatan hanya ada dua tingkat, itu sangat mudah dan sah-sah saja, namun apakah itu akan membuat birokrasi lebih profesional, lebih adaptif, lebih  maju, lebih dinamis, lebih ramah ke dunia usaha dan sebagainya, saya rasa belum solusi yang komprehensif.

Namun jika dilihat dari dinamika yang terjadi, adanya penambahan kursi wakil menteri dan dibukanya penerimaan CPNS pada waktu yang bersamaan dengan wacana penyederhanaan birokrasi, bak pemandangan yang kontradiktif. Pemerintah sepertinya memang hanya memfokuskan pada penyederhanaan jabatan (eselonisasi). Jika ini yang dituju, penulis yakin kondisi birokrasi Indonesia tidak akan banyak berubah, hanya bertukar nuansanya saja, akar penyakit permasalahannya tetap belum teramputasi dan direformasi.

Pemangkasan Jabatan

Penulis setuju pemangkasan jabatan dalam birokrasi dilakukan, tetapi harus ada frame work, peta jalan, skema dan solusi kongrit yang disiapkan, sehingga transisi perubahan reformasi birokrasi berjalan secara terarah dan tertata secara seksama, bukan malah nanti memunculkan permasalahan baru, yang akhirnya energi bangsa ini habis untuk saling bongkar pasang aturan, uji coba tambal sulam, sehingga tujuan dan sasaran utama yang diinginkan dari birokrasi Indonesia tidak pernah terwujud.

Soal bongkar pasang kebijakan dalam mereformasi birokrasi sudah acapkali terjadi, banyak sekali contoh kongrit yang harus kita jadikan pelajaran. Pascra reformasi, banyak sekali kebijakan yang positif di zaman orde baru yang dengan emosional kita rubah, seperti pola perencanaan pembangunan nasional, yang mana GBHN pada zaman orde baru merupakan kebijakan dasar dalam perencanaan negara ditiadakan, diganti dengan perencanaan yang eksekutif minded dalam UU No 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, sekarang GBHN malah ingin dihidupkan kembali. Dulu Penataran P4 dibubarkan sekarang dihidupkan lagi dengan sosialisasi 4 Pilar melalui MPR dan adanya lembaga Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Diawal era reformasi, birokrasi Indonesia langsung merubah pakaian Korpri dari model lama ke rancangan baru, namun akhirnya baju Korpri rancangan orde baru juga kembali yang dipakai saat ini.

Kita mahfum ada kekurangan dan kelemahan dalam kebijakan tersebut, kebanyakan bukan kebijakan yang salah, tetapi lembaga dan kebijakan tersebut dimanfaatkan oleh rezim yang berkuasa saat itu. Karena itu kita harus arif dan jernih melihatnya, jika mau merubah janganlah mengendepankan subjektifitas, emosional, selera atau akomodasi kepentingan, harus dalam kerangka yang ilmiah, rasional dan objektif, sehingga apapun yang dilakukan perubahan harus menjangkau jauh kedepan dan substansinya betul-betul membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi kemajuan bangsa dan negara.

Penyederhanaan Birokrasi

Untuk mereformasi birokrasi melalui penyederhanaan birokrasi, sebenarnya bukan hanya pada sisi pemangkasan struktur jabatan, banyak elemen lainnya yang mempengaruhi wajah dan performa birokrasi Indonesia. Penyederhanaan birokasi, jangan semata-mata dimaknai hanya menyederhanakan jabatan dalam birokrasi, itu hanya bagian kecil dari reformasi birokrasi, silahkan jabatan birokrasi di lakukan pemangkasan, namun harus diikuti dengan reformasi penataan sistem birokrasi lainnya secara komprehensif, terukur dan teruji validitasnya, seperti ; budaya birokrasi Indonesia yang masih belum hilang dari budaya patronase dan feodalistik, peningkatan kualitas SDM birokrasi, sistem dan management kepegawaian birokrasi, rekrutmen pegawai baru baik CPNS maupun P3K yang memperhatikan aspek kebutuhan dan keunggulan dan system yang fairness dan terbuka, penggajian dan remunerasi yang adil, berimbang dan mensejahterakan, aspek penguasaan tekhnologi informasi, menjauhi politisasi birokrasi, dan sebagainya.

Yang tak kalah pentingnya juga untuk  diperhatikan dalam pemangkasan struktur jabatan birokrasi ini adalah, pemangkasan yang dilakukan jangan sampai menumbuhkan cabang-cabang jabatan di unit birokrasi baru, katakanlah nanti akan memperkuat performa jabatan fungsional, namun jangan sampai jabatan fungsional justru memunculkan atmosfir dan nuansa kekuasaan seperti dalam jabatan struktural. Walaupun tidak terformalisasi dalam bentuk struktur tetapi hakikat dan keberadaannya tersublimasi sama aromanya sepertii dengan struktur dan kultur yang dipangkas dalam jabatan struktural tadi.

Perlu diingat penyakit birokrasi yang terbesar adalah, selalu memiliki nafsu untuk menggemukkan struktur dan melanggengkan kulturnya (gigantisme birokrasi).

Begitupun untuk jabatan dua tingkat yang tetap dipertahankan, jangan sampai jabatan tersebut diisi dan dihuni oleh orang yang itu-itu saja sehingga tidak terjadi regenerasi, tidak terjadi penyegaran organisasi, inovasi yang mandek dan melanggengkan status quo baru dalam birokrasi Indonesia.

Harus ada batasan, misalnya jabatan tersebut hanya berlangsung selama dua tahun, kemudian pejabat tersebut juga kembali menjadi pegawai jabatan fungsional, ada rotasi yang terus bergulir secara dinamis, sehingga ada kesetaraan, keadilan bagi seluruh pegawai birokrasi, semua mempunyai kesempatan dan peluang yang sama dalam birokrasi, jabatan hanya sebuah implementasi dari kompetensi dan profesionalitas yang dimiliki oleh ASN, semua harus matang dipikirkan.

***

Kembali kepada kehadiran Nadiem Makarim dalam tubuh birokrasi Indonesia, yang mana Nadiem murni belum tersentuh pada struktur dan kultur birokrasi Indonesia sebelum ini. Adalah sangat tepat untuk kita nantikan bersama bagaimana kiprah, terobosan dan ide-ide briliannya dalam membangun kualitas dan keunggulan sumber daya manusia Indonesia yang maju dan berperadaban.

Sama-sama kita tunggu, semoga ada gebrakan besar yang fundamental merubah wajah birokrasi Indonesia terutama dari wajah birokrasi Kemendikbud yang mana Kemendikbud adalah birokrasi yang cukup besar di Indonesia, tugasnya pun amat besar dan mulia untuk mecerahkan peradaban anak bangsa, dan selama ini Kemendikbud belum pernah lepas dari kategori birokrasi yang selalu memunculkan berita korupsi yang tidak mengenakkan. Kita berdoa agar Nadiem terhindar dari kipasan para birokrat yang menenangkan dan meninabobokan.

Jika nantinya wajah Kemendikbud dan peningkatan SDM anak negeri masih jalan ditempat, belum sekencang jalannya investasi Gojek yang merambah pasar regional, maka jangan terkaget-kaget dengan birokrasi Indonesia, cukup kaget dengan Nadiemnya saja. Tentu harapan kita, semoga mampu meyaksikan kekagetan yang sumringah. Nadiem, kualitas dan keunggulan SDM anak bangsa serta Birokrasi Kemendikbud dan birokrasi Indonesia umumnya mampu berselancar dalam revolusi industri 4.0 dan era society 5.0.

Semoga disrupsi yang juga berlangsung pada tubuh birokrasi Indonesia mampu tertangani dengan baik.

Saat anak-anakku masih balita sampai mereka SMP, setiap datang hari Jumat, aku selalu mengusahakan untuk pulang kerumah dari kesibukan rutinitasku di kantor.

Apakah itu saat aku bekerja di Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Datar, ataupun saat aku sudah bekerja di Jakarta.

Setiap hari Jumat adalah hari yang selalu aku usahakan untuk pulang kerumah menemui anak-anakku, karena memang setiap Jumat, apapun itu kantornya pasti kegiatan dikantor istirahat. Inilah waktu yang pasti bisa aku gunakan untuk menemui anak-anak diwaktu siang, pulang kerumah untuk dapat mencium mereka, bermain dan beribadah bersama.

Kesan yang paling mendalam bagiku setiap Jumat datang, adalah saat aku bekerja di Kabupaten Tanah Datar, negeri nan elok, indah, damai dan tentram, saat anakku masih balita, masa TK, dan SD.

Karena hari jumat, tentu ada kaitannya dengan kewajibanku selaku Ummat Muslim untuk menunaikan Shalat Jumat berjemaah di Mesjid, dan aku memiliki dua anak lelaki, yang juga mempunyai kewajiban sepertiku kelak, walau sekarang mereka masih kecil.

Aku ingin anak-anakku tumbuh, kelak setelah mereka dewasa, ada sesuatu kenangan yang melekat di memorinya, sesuatu yang indah untuk dikerjakan bersama, dan sesuatu yang indah untuk dikenang nantinya saat mereka sudah berkeluarga.
Sesampai dirumah, anak lelakiku Hiro yang sudah sekolah SD, bisanya sudah pulang kerumah, adiknya Ghazzan biasanya sudah menungguku di depan pintu.

Setelah aku parkirkan motor, aku langsung menemui Ghazzan aku cium dan aku gendong, kemudian aku cari Hiro biasanya dia sudah sibuk dengan permainan game Play Station nya.

Aku duduk dan istirahat sejenak, kemudian aku dekati tempat duduk Hiro, aku bisikkan, “sayang, anak ganteng papa sudah pulang sekolah yaa, ini hari apa?“ hiro akan jawab “hari Jumat”, biasanya dia sudah tahu untuk diajak pergi shalat jumat, dan kebiasaannya dia akan mencari akal untuk bermalas-malasan.

Karena kesukaannya adalah main games, maka senjataku untuk mengajak Hiro pergi shalat jumat selalu ada, aku mempergunakan games play stationnya untuk tawar menawar agar mau ikut pergi shalat Jumat, Hiro biasanya kalau sudah mau dihentikan keinginnnya untuk main games, pasti dia akan nurut apapun yang aku minta.

Sedangkan Ghazzan adalah anak manis yang selalu nurut diajak pergi kemanapun, dan Ghazzan biasanya sudah tahu, kalau hari jumat dia sudah mempersiapkan baju kokonya, lengkap dengan peci hajinya. Dan dia selalu mandi sebelum berangkat. Kebalikan dengan Hiro, aku harus menyiapkan dulu semua perlengkapannya, apakah sarung, baju koko, peci hitam, sandal dan sebagainya.

Tetapi enaknya, anak-anak ini, selalu nurut dan manut aku ajak untuk pergi Shalat Jumat kemanapun aku bawa.

Akhirnya pergilah kita shalat Jumat bersama, aku, Hiro dan Ghazzan. Berangkat dengan sepeda motor, Hiro duduk dibelakang dan Ghazzan duduk didepan, dekat perutku. Jika Mesjidnya dekat kita biasanya hanya jalan kaki.

Ada sesuatu seni tersendiri aku buat, agar anak-anakku rindu akan hari jumat dan menunaikan shalat jumat, aku berusaha untuk membuat fariasi suasana shalat Jumat, salah satunya dengan menemui masjid yang berbeda beda. Sebab itu setiap jumat biasanya aku sudah memutar otak, mencari-cari masjid apa gerangan yang akan diturut.

Aku buat sendiri temanya, aku namakan dengan Tour de Jumat. Jadi setiap minggu aku biasanya membawa anak-anak shalat jumat pada lokasi masjid yang berbeda-beda, biasanya masjid-masjid yang unik dan memiliki sejarah, seperti masjid tua, masjid raya, masjid yang arsitekturnya indah, masjid yang berada di tengah sawah adalah masjid masjid favoritku membawa anak-anak untuk shalat jumat.

Hiro sampai sekarang masih ingat, aku membawanya shalat jumat ke masjid tua yang ada di Batusangkar, yakni Masjid Raya Lima Kaum. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Indonesia, yang terletak di Nagari Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar.

Selesai shalat jumat, kami belumlah segera pulang kerumah, aku biasanya membawa anak-anak mengelilingi masjid, melihat-lihat bangunan masjid, memegang kayu kayu masjid yang sangat antik. Sembari aku menceritakan kepada anak-anakku sejarah dan asal-usul masjid ini.

Biasanya kami juga selalu bercanda, aku dan Ghazzan sering mencandai Hiro, biasanya kita main umpet-umpetan, atau menyembunyikan sandal Hiro. Setelah Hiro panik, kita baru ketawa bersama. Sebelum pulang, anak-anak aku biasakan untuk mengisi kotak amal yang ada di masjid berapapun yang kita mampu yang dapat kita sisihkan bersama untuk amal.

Untuk mengisi kotak amal, selalu ada ritual yang aku bisikkan kepada anak-anakku, yaitu doa yang selalu dipanjatkan untuk kedua orang tuaku yang sudah tiada dan ayah mertuaku yang juga sudah mendahului kami.

Alhamdulillah sampai saat ini, setiap anak-anakku jika akan bersedekah ke Masjid, sudah otomatis hati dan mulutnya selalu didoakan untuk almarhum kakek neneknya yang sudah kekal di alam akhirat.
…..
Kenangan kami berjalan selalu bertiga menuju rumah Allah di hari Jumat untuk menunaikan Shalat Jumat, waktunya rasanya pendek sekali, hanya sampai mereka SMP.

Setelah Abang Hiro masuk SMA Negeri Unggulan Muhammad Husni Thamrin di Bambu Apus Jakarta Timur, yang sangat jauh dari rumah kami, dan tinggal di asrama, aku hanya berjalan berdua bersama Ghazzan.

Ada sesuatu yang hilang aku rasakan, ada sesuatu yang tak terkatakan, aku rindu jalan bersama mereka, aku rindu mengusilinya, aku rindu memarahi mereka kalau malas-malasan berangkat ke masjid, aku rindu dengan segala tingkah polahnya setiap akan pergi ke masjid.

Kini, Ghazzan juga sudah SMA, pulangnya selalu diatas jam 16.00 sore, alhasil Ghazzan juga tidak bisa lagi aku ajak untuk Tour de Jumat, memburu masjid yang akan ditemui.

Untuk pengobat rindu aku sering pergi shalat jumat ke Mesjid Al Azhar berharap dapat bertemu dan bersebelahan duduk dengan Ghazzan di masjid seperti hari-hari Jumat nan lalu yang selalu kami lewati bersama. Tapi itu tak pernah terjadi, Ghazzan shalat jumat selalu bersama teman-temannya. Namun jika dapat melihat Ghazzan dari jauh, rinduku sudah terobati.

Aku rindu keunyuan Ghazzan dalam shalat, rindu ketabahannya menungguku menunaikan shalat sunat setelah usai menunaikan shalat jumat, aku rindu memayungi kepalanya dengan sajadah jika kami pulang ditengah terik panas matahari, aku rindu menggendongnya jika dia capek berjalan. Aku rindu singgah ke warung untuk membeli coklat sebelum sampai ke rumah.

Kini setiap datang hari jumatku, pemandanganya sudah berbeda, kebersamaanku dengan anak-anak telah berpencar, Hiro di Bandung, Ghazzan di Al Azhar, aku hanya melangkah seorang diri kembali mencari masjid seorang diri.

Walau hati ini berat tanpa ada mereka lagi bersama melangkah menuju rumah Allah, tapi biarlah kenangan itu tetap membekas, yang penting dari semua itu mereka selalu Shalat Jumat setiap datang hari Jumat.

Kini mereka melangkah dan berjalan sendiri-sendiri menuju masjid, tidak aku gendongan lagi, tidak dengan kupegang dan kubimbing lagi, tidak ada negosiasi lagi pergi jumat dengan games PS nya, tidak kusediakan lagi sarung dan sajadahnya.

Pelan-pelan mereka melangkah sendiri, berjalan sendiri menuju masjid, mungkin bersama dengan teman-temannya, bersama dengan suasana barunya yang terus tumbuh menuju dewasa, kelak semoga mereka dapat menjadi Ayah yang harus bertangungjawab kepada anak dan keluarganya, sedang aku akan bermetamarfosis menuju tua, menulis catatan kenangan dalam kisahnya sendiri.

Film “Bumi Manusia” Tersandera Sosok Dilan

By : Empi Muslion

“Seorang terpelajar harus belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”

Yaa kalimat itulah, penggalan percakapan antara Minke dan Jean Marais dalam novel karya legendaris anak dunia yang pernah ada, bernama Pramoedya Ananta Toer, dan juga ada tergambarkan dengan baik dalam film dengan judul yang sama dengan novelnya “Bumi Manusia”.

Persis kalimat itu jugalah yang tidak pernah saya lupakan, sejak membaca novel itu pertama kali, lebih kurang dua puluh tahun yang lalu, dan sudah saya baca berulang kali, terakhir saya membacanya barengan dengan putri sulung saya Futy, empat tahun yang lalu, saat dia duduk dikelas 1 SMA, yang mana Futy anak saya juga terkesan, terkesima dan berkaca kaca matanya setelah membaca novel itu.

Dia menjadi penasaran dengan sosok Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies. Terkesima dengan latar cerita yang penuh dengan deru kereta kuda, terpaku dengan situasi zaman anak pribumi di peradaban yang masih lugu dengan ilmu pengetahuan, geram dan kesal dengan situasi era kolonial dengan tindak tanduk berbagai polah manusia dengan segudang sketsa peradabannya, yang sarat dengan intrik, konflik, kemunafikan, feodalisme, perbudakan, penjajahan, dendam kesumat, kebodohan, dan perilaku bar-barian terkutuk lainnya, ditengah mendewakan era modernisme.

Syahdan, disisi lain alur cerita diolah oleh Pak Pram dengan apiknya, berkulindan dalam balutan nilai-nilai universal kemanusiaan, nan sarat dengan pesan moral dan nilai-nilai luhur humanisme melintas batas, jarak dan waktu, yang tergambar indah dalam bahasa yang seolah kita berada didalamnya untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, kesetaraan, kemanusiaan, kebahagiaan, keberanian, rasa kasih, arti cinta dan nilai-nilai abadi keagungan lainnya selaku manusia dimuka bumi yang diberi akal dan budi.

Novel ini bukan lagi milik bangsa Indonesia, pribumi, ras Jawa ataupun Londo. Novel ini milik anak seluruh bangsa dunia, seluruh ummat manusia dimuka bumi. Membaca novel ini, walau bersetting di zaman kolonial dan ditanah Jawa, namun Pak Pram tidak terjebak dalam unsur subjektifitas kepicikan apakah itu ideologi, demografi, rasial, kultural, spiritual, maupun isme lainnya.

Novel ini menerabas luruh dalam sekat-sekat dan kelas-kelas semu kemanusiaan yang diciptakan oleh manusia itu sendiri dalam mengangkat eksistensi keegoan individualismenya, menciptakan segmentasi dan diskrimasi kemanusiaan demi memperjuangkan nafsu keserakahan hidup dimuka bumi.
Novel ini juga tidaklah semata mengungkapkan tentang kejahatan para penjajah, dan terbelenggu dalam nasionalisme sempit, ini adalah tentang kemanusiaan.

Karena juga ada diceritakan dengan seimbang, orang-orang Eropa (Belanda) yang memiliki simpati dan nurani terhadap daerah jajahannya seperti ; Herbert de la Croix, Asisten Residen Kota Bojonegoro, adalah orang Eropa totok, namun tidak berwatak kolonial. Ia justru merasa iba melihat Hindia Belanda dan Jawa khususnya yang sudah demikian dalam kejatuhannya. Ia menaruh perhatian besar pada pribumi terpelajar dan berharap kaum ini bisa menjadi perintis untuk kemajuan bangsa Hindia Belanda.

Diangkat ke Layar Lebar

Sejak adanya berita novel ini akan diangkat kelayar lebar, oleh anak bangsa pribumi sendiri, saya sangat gembira disamping ada rasa was-was, sebagai informasi tambahan, novel ini sejak lama sudah banyak penulis, sineas dan sutradara asing yang ingin mengangkatnya kelayar lebar, karena memang novel ini sudah diterjemahkan dalam puluhan bahasa asing, dan sang penulis beserta karyanya menjadi topik diskusi dan perbincangan di altar-altar kampus, pojok-pojok sastra, beranda politik dan ruang publik maupun di jalan-jalan pergerakan.

Sampai saat ini baru Pak Pram anak pribumi yang masuk dalam nominasi peraih nobel sastra, walau itu tidak menjadi tujuan dan cita-citanya. Pak pram dengan jiwa idealisme dan nasionalismenya, tidak pernah mau bergeming dan bersekutu dengan rayuan dollar yang akan masuk ke kantongnya, walau hidupnya penuh dengan kemiskinan dan kemelaratan.

Menjelang film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini tayang, saya sudah menunggu-nunggu apakah gerangan syaraf-syaraf adrenalin saya yang membuncah saat membaca cerita di novelnya akankah bisa terwakili dengan baik dengan sosok karakter tokoh, alur cerita, setting tempat, penggalan quotes kata -kata indah yang penuh filosofis sarat makna, dan nilai-nilai universal humanisme berbalut dengan intrik dan konflik kemanusiaan, apakah bisa tergambarkan.

Sontak, hari ini walaupun jadwal dikantor saya sangat padat, saya tidak sabar lagi pergi ke bioskop untuk menontonnya, saya tidak fokus dan konsentrasi lagi di kantor. Menunggu hari jumat yang agak longgar waktu bekerja rasanya lama sekali. Saya bisa saja pergi menonton sendiri atau dengan istri dan anak saya dimalam hari, seperti yang sering saya lakukan saat menonton film-film superhero Amerika.

Entah mengapa, pagi ini saya begitu semangat dan antusias untuk menonton pergi bersama-sama teman saya dikantor, saya merasa film ini bukan sekedar film hiburan atau film edukasi tematik semata, saya merasa film ini harus dan wajib ditonton oleh seluruh ummat manusia apalagi orang Indonesia, terlepas apakah nanti filmya sesuai dengan ekspetasi sebagaimana isi dan alur cerita dalam novelnya.

Nasionalisme dan patriotisme saya serasa bergelora, saya serasa ikut dalam suasana isi cerita novel Pak Pram tentang haru biru zaman penjajahan dan problema anak pribumi memperjuangkan harkatnya yang terlindas dan tertindas, serta ikut suasana kehidupan Pak Pram sendiri, dari penjara ke penjara, dari hukuman dan cercaan, namun semangat nasionalisme dan rasionalitasnya tak pernah padam, tak pernah dendam.

Saya bergumam, kita yang hidup di alam kemerdekaan, kebebasan, dan kesetaraan, menikmati kecanggihan zaman hasil peluh, darah dan taruhan nyawa para syuhada pejuang tanah air, hanya untuk meluangkan waktu menonton heroisme nilai-nilai universal kemanusiaan, tidakkah bisa ?

Jika saya kepala daerah akan saya gratiskan warga saya untuk menontonnya, jika saya menteri akan saya perintahkan seluruh pegawai saya untuk berbondong-bondong ke gedung bioskop, begitulah kira-kira gelora jiwa dan apresiasi hati saya akan novel dan film ini.

Tentunya, disamping memang saya sudah lama terkesima, hati dan jiwa saya tertawan dengan novel ini. Ini bukan lagi soal novel ataupun film, ini adalah soal bumi dan manusianya itu sendiri.

Maka pagi hari sesampai dikantor, saya kumpulkanlah teman-teman yang satu divisi dengan saya, saya tanya apakah sudah tahu dan pernah membaca novel Bumi Manusia, rata-rata tahu dengan Pramoedya Ananta Toer namun sebagian besar belum pernah membaca novelnya.

Namun bahagianya saya, semua senang diajak pergi menonton, maka saya wajibkan semua harus ikut pergi ke bioskop untuk menonton film Bumi Manusia. Hanya dua orang yang tidak bisa pergi, Fajri tidak masuk kantor karena sakit dan Ramdhan karena bertepatan waktunya menjemput anaknya dari sekolah.

Septi dengan cekatan mencari di gadgetnya bioskop dan kursi yang akan dipesan, setelah di searching maka dapatlah lokasi bioskop yang dekat dari kantor kami FX Senayan, dengan waktu tayang yang pas pukul 13.15 WIB. Kami berangkat dari kantor pukul 11.00 WIB, dengan empat mobil minibus.

Sesampai di FX didahului makan siang bersama, shalat Zduhur bagi yang muslim, dan selanjutnya meluncur ke teater dua CGV, saya terlebih dahulu singgah ke toilet agar nanti menontonnya bisa fokus menelaah satu persatu kata-kata yang akan diucapkan sang aktor dan menikmati alur cerita dan setting lokasinya. Karena kami menonton di waktu siang, maka seperempat kursi bioskop hanya penuh oleh rombongan kami.

Tibalah duduk manis dengan dada dag dig dug di kursi bioskop, film segera diputar, setelah didahului dengan iklan dan trailer film-film yang akan ditayangkan. Dalam hal ini, menceritakan sedikit pendapat saya tentang film ini, semata adalah murni persepsi saya dengan segala objektifitas dan subjektifitasnya, tentu bagus menurut saya belum tentu bagus menurut yang lain, kurang menurut saya bisa jadi bagus menurut yang lain, ini bukanlah penilaian, karena saya tak sanggup untuk menilai novel bumi manusia ini, ini hanya semata berbagi cerita dari asa dan rasa setelah membaca novel dan menonton filmya.

Menurut saya secara keseluruhan film ini dikemas sangat baik, sudah mendekati sebagaimana isi cerita novelnya, namun memang ada sedikit sisi yang saya anggap agak gagap, yakni di prolog film menurut saya dibuka dengan sentuhan yang kurang soft, ibarat malam pertama pengantin muda, langsung mengarah ke eksekusi, tanpa ada basa basi dan cengkrama cantik terlebih dahulu, untuk membuat suasana syahdu walau penuh dengan debar debur rasa di disanu bari, namun sedikit terobati dan tertutupi dengan pembukaan iringan gema getar suara lagu Iwan Fals.

Masuk ke sesi cerita selanjutnya, saat Minke diajak oleh Robert Suurhof kerumah temannya Robert Mellema dengan tujuan untuk memalukan Minke didepan gadis eropa Annelies adiknya Robert Mellema, namun hal yang didapatkan Suurhof hal sebaliknya, Minke dan Annelies menjadi pertemuan dua manusia yang merasa satu jiwa, satu hati dan satu pergulatan batin dipertemukan dalam jalan yang tak diniatkan.

Minke anak bupati di Surabaya yang mendapatkan kesempatan bersekolah di sekolah eropa, bertemu dengan sosok Nyai Ontosoroh, Ibunda Annelies dari ayah seorang londo bernama Herman Mellema. Nyai Ontosoroh menjadi sosok penuh misteri dan pertanyaan besar dipikiran dan sanubari Minke, sosok yang sangat berkarekter, bersahaja, cerdas, berani, lugas, simpatik dan humanis, seorang wanita pribumi, yang selama ini hanya di identikkan dengan gundik dan dirasakannya mustahil ada sosok tersebut di bumi nusantara.

Dari sinilah film ini mulai memuntahkan semburan-semburan perasaan campur aduk penontonnya antara rasa sedih, rasa pilu, rasa benci, rasa iba, rasa patriotik, rasa bangga, rasa cinta, semuanya berlumuran dalam campur baur rasa kemanusiaan.

Ditambah lagi potongan-potongan gambar alam tempo doeloe, hamparan sawah yang menghijau, pohon kelapa yang melambai-lambai, jalan yang masih bertanah, danau yang jernih, duduk sejoli di tepian yang sepi , lokomotif dengan kepulan asap batubaranya, bangunan klasik dengan desain art deco nya, blangkon dan topi cowboy, kereta kuda klasik yang ditarik oleh kusir madura, keraton, rumah bordil dan hamparan Boerderij Buitenzorg perusahaan pertanian yang dimiliki Tuan Mellema dan Nyai Ontosoroh, sangat apik dikemas oleh Hanung Bramantyo.

Dari sini saya sudah hanyut dalam isi cerita, dan gambar gambar epic yang disajikan. Saya mungkin tidak bisa megulas babak demi babak dalam film ini, seperti saya katakan diatas, secara umum film ini menurut saya sangat baik, mampu mengocok dan mengaduk perasaan para penontonnya, karena setelah film usai saya tanya satu persatu teman saya, semuanya menjawab meneteskan air mata, artinya film ini dapat singgah dihati anak manusia.

Tersandera Sosok Dilan

Namun, ada satu yang mengganjal saya sejak awal scen film ini ditayangkan, adalah tokoh Minke yang diperankan oleh sosok Iqbal Ramadhan. Tanpa mengurangi peran akting Iqbal dalam film ini.

Saya merasakan keseriusan, kesyahduan dan kefokusan dalam menikmati film ini sangat terganggu dengan sosok Iqbal, apa yang membuat saya terganggu ?

Sejak awal film, yang mana langsung disuguhkan dengan sosok Minke yang diperankan oleh Iqbal, persepsi saya tentang film ini langsung dihadapkan dengan bayang-bayang Iqbal sebagai Dilan didalam film Dilan, saya merasakan sosok Minke dalam novel yang ingin saya saksikan menjadi buyar.

Karena sosok Iqbal memerankan Minke tidak jauh berbeda sama sekali dengan sosok Dilan, hanya sedikit dirubah dengan kumis klimisnya, selainnya, semuanya hampir sama dengan sosok Dilan, apakah itu wajah, rambut, cara bicara, apalagi pola dia merayu Annelis dengan kalimat-kalimat pendek yang itu adalah Dilan banget, sosok Minke yang saya harapkan menjadi panutan dan idola baru anak-anak negeri serasa hilang melayang.

Saya mencoba menganalisis, apakah ini perasaan saya saja atau bagaimana, saya tanyakan pada teman-teman, yang sudah menonton film Dilan serta yang belum menonton Dilan, ternyata yang pernah menonton film Dilan jawabannya hampir semuanya sama dengan yang saya rasakan.

Tapi saya juga tidak bisa menyesal, ini terjadi karena saya terlanjur sudah menonton film Dilan untuk kedua serinya. Mungkin bagi yang belum pernah menonton film Dilan, saya pikir persepsinya pasti berbeda, peran Minke yang diperankan oleh Iqbal bisa jadi akan mendapatkan standing apresiasi.

Disamping terganggu oleh sosok sang Dilan, saya juga merasakan karakter Minke dalam novel kurang terpaparkan dan tersuguhkan dengan baik oleh sosok Minke yang diperankan oleh Iqbal dalam film ini.

Minke yang dalam novelnya memang diceritakan berusia delapan belas tahun, namun sosoknya sangat dewasa, tegas, karakter kuat dengan jiwa petualang dan pemberontakannya, cerdas dalam menulis, kekuatannya dalam novel salah satunya adalah lewat tulisan-tulisannya yang bernas dan pembawaanya yang lugas.

Namun saya merasa ini kurang dapat oleh sosok Iqbal dan perannya dalam menulis, Iqbal menurut saya masih susah menghilangkan anak kekiniannya dalam film ini, anak metropolis dengan wajah bersih dan klimis, suara melankolis, sehingga susah buat saya untuk ikut dalam semangat kritisnya.

Iqbal masih kuat sosok kekanak-kanakan dan keremajaan milenialnya. Karena kematangan usia delapan belas tahun orang zaman dahulu sangat berbeda dengan anak delapan belas tahun saat ini, umur sekian orang dulu, kata orang tua saya sudah punya anak tiga.. hehehe…
Ini mungkin menurut saya kecolongan Hanung dalam mencari peran Minke yang adalah sosok sentral dalam novel ini.

Saya coba menerawang dan mengajukan pertanyaan, kenapa Iqbal yang dipilih Hanung untuk sosok Minke dalam film ini ?, tentu Hanung punya pertimbangan tersendiri.

Namun saya coba menimbang-nimbang, berspekulasi, kemungkinan Hanung memilih sosok Iqbal adalah karena faktor kesuksesannya di film Dilan, sehingga berharap akan bisa menyedot penonton untuk berbondong-bondong kembali datang ke bioskop, memperhatikan sisi marketingnya.

Menurut saya jika ini benar salah satu alasannya, saya berharap ini salah, ini adalah pertimbangan yang amat keliru ditengah idealisme novel ini.

Saya menilai, novel ini akan ditonton orang bukan karena Iqbalnya, tetapi karena isi dan substansi ceritanya, tentu peran tokoh juga adalah penting, karena itulah serasa ada yang nyesak didada saya, saya tetap merasa Iqbal kurang cocok untuk sosok Minke di film ini.

Alangkah lebih baik sebelumnya, segenap tim film ini melakukan audisi untuk menjaring sosok Minke yang pas (ini tentu pas dalam bayangan dan persepsi saya pribadi), dan saya berkhayal dan berharap sebelumnya, sosok itu adalah sosok baru didunia perfileman Indonesia dan tumbuh besar namanya menjadi Minke, seperti Iqbal yang sudah susah dihilangkan dengan sosok Dilan-nya.

Bagaimana dengan Sosok Nyai Ontosoroh yang diperankan oleh Sha Ine Febrianti, Annelies yang diperankan oleh Mawar Eva De Jongh serta Darsam.

Untuk ketiga orang ini saya merasa seperti membaca novel aslinya, empat jempol untuk mereka. Saya tak bisa berkata, karena cerita di novelnya seakan sudah bercerita dan hidup seperti aslinya dalam film ini.

Bagaimana dengan isi novel ? apakah sudah terpresentasikan dengan baik dalam sajian film ini, memang diakui banyak ruang-ruang yang belum terisi, ada lorong-lorong yang tertinggal, ada sisi-sisi yang belum terungkapkan, seperti nilai kehidupan dari dialog Jean Marais dengan Minke, sosok dilema Min Hwa di rumah bordil Babah Ah Tjong, dan tokoh serta lokasi lainnya.

Itu adalah sangat wajar, tidaklah mungkin menuangkan novel yang begitu panjang, begitu banyak tokohnya, begitu sarat filosofi dan nilai-nilai dirangkum dalam sebuah bingkai visual, dan itupun durasinya sudah sangat panjang selama tiga jam.

Sepertinya masih tidak cukup kata untuk membahas novel ini, akan selalu membuncahkan dan mengalirkan kata-kata sepanjang waktu dan arus, semasih manusia itu ada di muka bumi, karena ini bukan tentang apa dan siapa, ini adalah tentang kita, manusia dan bumi tempat kita berada sementara…

Karena itu saya cukupkan dulu sampai disini, sambil mencari angin meneguk secangkir kopi….

Selamat menonton dan melihat kedalam diri sendiri, bahwa kita juga adalah manusia….
……..

“Cerita,…., selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa dan hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia…. Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar peglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa sampai tuntas (kemput).”
-Pramoedya Ananta Toer-

Ngompol 11 Tahun

Tiap-tiap anak memiliki keunikannya masing masing, memiliki ceritanya tersendiri, begitupun dengan anak anak saya.

Mungkin saya tidak perlu menyebutkan inisial dan namanya siapa, dari tiga anak saya, ada satu orang yang berhenti ngompol baru disaat masuk SMP… hehehe

Saya dan istri menyadari, inilah kekurangan atau mungkin juga sebuah kelebihan pada anak saya ini, memang sejak bayi sampai balita, anak saya ini selalu pipis tengah malam, dan bagi kami orang tua tentu menganggap wajar namanya anak-anak pasti banyak pipis, walau memang agak beda dengan dua saudaranya yang jarang pipis tengah malam, bahkan ada satu anak kami boleh dikatakan tidak pernah ngompol di kasur.

Walaupun anak saya ini suka ngompol tengah malam, namun dia boleh dikatakan tidak pernah cengeng sama sekali, walaupun ngompol tiap malam, tidurnya tetap pulas, sejak bayi dia jarang sekali menangis, asalkan perutnya cukup diberi ASI atau Susu tambahan, maka dijamin dia nggak bakalan rewel, memang dia anaknya sangat aktif sekali, jatuhpun dia tidak menangis.

Anak saya yang suka ngompol malam hari ini, ternyata tidak berhenti hanya sampai usia balita, bahkan berlanjut sampai TK, SD, dan SMP. Anak saya ini berhenti ngompol baru saat masuk SMP.

Tentu ada pertanyaan, apakah kami terganggu oleh bau ompolnya ? atau apakah kami kesal dengan ulahnya ? atau apakah kami suka meledeknya ? atau apakah kami menganggap itu sebuah penyakit ? Tidak sama sekali..

Saya, istri dan kedua anak saya lainnya juga tidak pernah mempermasalahkannya, kami juga tidak pernah membawanya ke dokter untuk berobat ataupun berkonsultasi, karena kami tahu anak ini memang minum susunya kencang sekali, anaknya super aktif, jadi adalah wajar jika pipisnya juga banyak.

Kami menyerahkan kepada sang waktu, biarlah tiba massanya, ompolnya akan berhenti dengan sendirinya. Kepada anak kami ini, kami tidak pernah menyinggungnya, ataupun membuat dia malu dan tertekan, justru jika dia malu dan tetekan akan besar dampaknya kepada psikologis dirinya dan bisa-bisa menjadi penyakit, misalnya dia malas untuk minum dan lainnya.

Kami selalu memotivasinya, bahkan kami juga mengatakan “ompollah nak kapan dan dimanapun kamu suka” (ini untuk menunjukkan bahwa kita tidak marah dan menerima keadaannya), tentu tetap memberikan dan mengajari bagaimana tata tertib dan etika untuk pipis, namun untuk ompol tengah malam kami tidak pernah meledeknya atau memarahinya, karena ini sangat sensitif, karena siapa juga yang mau ngompol dikasur tengah malam, tidak ada bukan ? jadi kami terimalah dulu apa adanya, sambil sekali kali memotivasi agar bisa berhenti ngompol, dengan cara tanpa membikin dia tertekan.

Bersahabat dengan waktu, itulah yang kami lakukan dan kami nikmati bersama, kami menerima kenyataan ini, boleh dikatakan, sejak anak ini bayi sampai masuk SMP, sekitar 11 Tahun, kami menikmati kasur yang diompolin oleh anak ini.

Sebenarnya kami juga bisa untuk membiarkan dia tidur sendiri, tapi karena sudah kebiasaan kami tidurnya selalu bersama satu kamar, juga tidak tega membiarkan tidur sendiri dengan ompolnya, maka setiap malam, kami selalu menukar celananya menjadi rutinitas yang harus dilakukan. Jadi kamar yang kami tiduri selalu ada bau dan bekas air ompolnya. Setiap pagi kasur selalu dijemur dan sprei selalu ditukar, itulah pekerjaan berat yang dilakukan oleh Mbah yang membantu kami saban hari.

Mungkin ini terkesan jorok, ataupun kurang mendidik, atau juga mengapa tidak dipakaikan pampers, disamping keterbatasan ekonomi kami, juga kami beranggapan jika pakai pampers seolah olah kami tidak mau menerima anak apa adanya, dan juga kami tidak mau si anak malu jika sudah SD dan SMP tidur pakai pampers akan menambah tekanan psikologisnya, jadi yaa kami biarkan saja.

Namun Alhamdulillah kami aman-aman saja, kami sudah terbiasa dengan keadaan ini, Alhamdulillah kedua anak kami lainnya, tidak pernah sekalipun menertawai ataupun meledek saudaranya yang suka ompol tersebut.

Walau kini, kisah tersebut menjadi bahan tertawaan dan ledekan, namun kisah tersebut menjadi kenangan abadi yang membekas dalam diri mereka tiga bersaudara. Dibalik semua itu, ada pesan dan hikmah yang sangat besar, yang tak bisa dihargai dari apapun atas kenangan ini, mereka bersaudara menjadi saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Memupuk rasa untuk selalu menyayangi antar Saudara, saling memberi dan menerima serta semakin menghangatkan hubungan lahir batin tali darah persaudaraan mereka.

Semoga juga bisa menjadi pagar pengingatnya kepada kedua orang tua dan saudaranya, untuk selalu berbuat baik kepada orang tua dan sesama, betapa selama 11 tahun hidup dengan aroma ompolnya, dan terjaga setiap malam untuk mengganti popok dan celananya..

Nak, kekuranganmu adalah kekuatan dan kelebihanmu, belajarlah selalu memperbaiki kekurangan, dan jangan jumawa dan takabur jika ada kelebihan, selalu berbuat baik dan tepa selera, tidak ada manusia yang sempurna..

Tumbuhlah Nak dan gapailah cita citamu semoga menjadi insan yang betaqwa, berguna dan bermaslahat bagi agama, diri sendiri, keluarga, lingkungan, masyarakat nusa dan bangsa…

Hari ini, 30 Juli 2019 hari pertamamu mendaftar diri mengukir hidup untuk masa depan..
Semoga semesta selalu bersama…